Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerjaan rumah. Jika hari ini Mama belanja dan masak, Papa yang mencuci piring dan menyapu. Besoknya, gantian Papa belanja dan masak, sementara Mama mencuci piring dan menyapu. Jika bulan ini Papa yang membayar tagihan listrik dan air, bulan depan giliran Mama. Mereka mencuci dan menyetrika pakaian masing-masing. Pakaianku, mereka bagi jadwal. Uang sakuku juga diberikan sama rata dari mereka.
Sering aku berpikir, mereka dijodohkan sejak kecil atau nikah kontrak. Mungkin hubungan Papa-pacarnya dan Mama-pacarnya tidak direstui orang tua. Jadi, aku bertanya kepada Mama, kenapa ia menikah dengan Papa.
Jawaban Mama malah membuatku bingung. Ia balik bertanya, “Bukankah semua orang menikah?”
Mana kutahu. Usiaku kan belum legal untuk menikah.
“Lalu, kenapa Mama melahirkanku?”
“Tentu saja karena Mama mengandungmu. Memangnya kamu mau di dalam perut Mama selamanya?”
Aku salah mengajukan pertanyaan. “Kenapa Mama dan Papa memutuskan untuk punya anak?”
“Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?”
Mana kutahu. Tetangga sebelah rumah sudah menikah selama 5 tahun dan tidak punya anak. Oh, bukan tidak, tapi belum. Aku pernah mendengar pembicaraan mereka dengan Bu RT di warung. Bu RT bertanya dengan nada basa-basi, “Kapan punya anak?” Mereka menjawab sambil tersenyum, “Kami belum memutuskan untuk punya anak dalam waktu dekat.”
“Apakah Mama mencintai Papa?” Aku mengajukan pertanyaan lain. Aku penasaran sekali. Mereka tidak pernah terlihat bermesra-mesraan. Entah kalau melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuanku.
“Apa sih cinta itu?”
Aku mengangkat bahu. Mana kutahu. Mama selalu menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Membuatku semakin bingung saja. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Mama, aku ganti bertanya kepada Papa. “Kenapa Papa menikahi Mama?”
“Semua orang harus menikah.”
Haruskah? Bagaimana jika ada yang tidak mau menikah?
“Kenapa Papa pilih Mama?”
Papa diam selama beberapa menit, sebelum menjawab, “Kami cocok satu sama lain.”
Aku masih memandang Papa, menunggu lanjutan kalimatnya. Tapi ternyata tidak ada keterangan tambahan. “Cocok bagaimana?”
“Papa mencari istri. Mama mencari suami. Kami sama-sama membutuhkan pasangan untuk syarat menikah.”
“Apakah Papa mencintai Mama?”
Papa diam lagi selama beberapa menit. Pertanyaanku seharusnya tidak sulit, cukup jawab “ya” atau “tidak”, tapi dahi Papa sampai berkerut-kerut. Ia akhirnya menjawab, “Entah.”
Kupikir Papa akan menjawab “ya”. “Jadi, Papa tidak mencintai Mama?”
Papa menggeleng cepat-cepat. “Bukan begitu.” Ia diam lagi bermenit-menit, menyusun jawaban di kepala. Kali ini ia berhati-hati merangkai kalimat agar tidak kusalahpahami. “Kami tidak bisa dibilang saling mencintai. Tapi bukan saling membenci juga. Seperti yang Papa bilang tadi, kami cocok dan membutuhkan satu sama lain.”
“Seperti Rafflesia arnoldii yang menyediakan makanan untuk lalat agar lalat membantu penyerbukan Rafflesia arnoldii?”
“Ya, kira-kira seperti itu.” Kemudian Papa memberengut. “Jelek sekali analoginya. Kenapa tidak kupu-kupu dengan asoka?”
Aku mengangkat bahu. “Sama saja, kan? Bunga dengan serangga.”
“Kenapa Papa dan Mama memutuskan untuk punya aku? Maksudku, punya anak.”
“Eyang minta cucu.”
Aku menatap Papa bingung. “Kalian setuju begitu saja?”
“Yah, kami membicarakannya dan membuat kesepakatan. Bagaimanapun, Mama yang mengandung dan melahirkan.”
Jika tugas mengandung dan melahirkan bisa dibagi, Mama dan Papa pasti sudah membagi pekerjaan itu sama rata.
Besoknya, aku bertanya lagi kepada Mama. “Kenapa Mama setuju ketika Eyang minta cucu?”
“Bukankah sudah Mama jawab kemarin?”
Aku mengingat-ingat. “Yang mana? Bukankah semua orang yang menikah akan punya anak?” Aku menirukan cara bicara Mama. Mama mengangguk sambil tertawa, menertawakan cara bicaraku yang mirip dirinya.
“Ma, bagaimana jika aku tidak mau menikah dan punya anak?”
“Mama tidak akan memaksamu. Tapi, sebaiknya kaupikirkan jawaban dari pertanyaan itu jika ditanya Eyang atau tetangga kelak.”
***
Selama bertahun-tahun, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaan: “Kenapa aku tidak mau menikah dan punya anak?” Hingga lulus kuliah, aku belum menemukan jawabannya. Belum ada yang bertanya juga, sih. Selama ini pertanyaan yang kuterima baru: “Sudah lulus?”, “Sampai bab berapa?”, atau “Kapan wisuda?”.
Berhubung sekarang aku sudah lulus, pertanyaan selanjutnya pasti: “Sudah kerja?”, “Kerja di mana?”, “Kerja apa?”, “Kapan nikah?”, lalu “Sudah ada calon?”.
Aku pusing memikirkan jawabannya.
Seperti yang dilakukan Papa dan Mama dahulu, aku mencari orang yang bisa diajak simbiosis mutualisme. Ternyata susah sekali mencari orang yang cocok dan membutuhkan satu sama lain. Jadi, aku bertanya pada Papa bagaimana awal pertemuan ia dengan Mama.
“Kami berkenalan lewat aplikasi kencan, lalu membuat janji temu di coffee shop. Tiga bulan kemudian, kami menikah.”
“Secepat itu?”
“Yah, kami langsung cocok.”
Aku menginstal aplikasi kencan. Match-ku yang pertama, sebut saja Mr. A, tiga tahun lebih tua dariku. Ia mencari istri yang jago masak dan sanggup merawat mamanya. Kutanya, apa yang akan ia lakukan.
“Aku kerja. Cari uang,” demikian jawabnya.
“Bagaimana kalau kita sama-sama kerja dan memasak dan merawat mamamu?”
“Perkara mencari uang tidak perlu kamu pikirkan. Aku bisa menghidupi kalian berdua.”
Tidak cocok. Aku mau hubungan seperti Mama dan Papa. Ia tidak mau diajak bersimbiosis mutualisme. Jika aku harus merawat mamanya, lalu siapa yang akan merawat mamaku?
Match-ku yang kedua, panggil saja Mr. B, seumuran denganku. Ia juga baru mendapat kerja. Banyak kesamaan hobi di antara kami. Kami juga sefrekuensi ketika mengobrol. Yang membedakan adalah kondisi keluarga. Ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu dan tidak meninggalkan banyak tabungan. Ibunya, yang sebelumnya di rumah saja dan tidak bekerja, harus banting tulang menghidupi keluarga.
“Dari kehidupan orang tuaku, aku jadi belajar bahwa perempuan harus punya keterampilan dan bekerja. Untuk jaga-jaga bila suami meninggal duluan.”
Ia ingin aku bekerja. Aku tidak keberatan. Masalahnya, ia ingin gajiku untuk menghidupi kami berdua, sebab gajinya akan dipakai untuk menghidupi keluarganya. Lalu, siapa yang akan menghidupi Mama-Papa jika mereka sudah pensiun nanti?
Match-ku yang ketiga, mari kita sapa dengan nama Mr. C, dua tahun lebih muda dariku. Ia sedang sibuk menyusun skripsi. Orang tuanya punya usaha toko bangunan. Setelah lulus nanti, ia langsung mewarisi bisnis orang tuanya. Katanya, aku lebih baik resign dan membantunya mengurus toko bangunan. Aku tidak keberatan.
“Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Seperti memasak, cuci piring, bersih-bersih.”
“Tentu saja kamu. Bukankah itu kewajiban perempuan untuk mengurus rumah?”
Jika mengurus toko bangunan saja berdua, mengapa mengurus rumah hanya aku seorang?
Aku menceritakan semua match dari aplikasi kencan kepada Mama di Sabtu sore sepulang dari belanja bahan makanan. Minggu depan giliranku menemani Papa belanja.
“Menurut Mama, tidak usah pikirkan kata orang lain yang suka bertanya-tanya kapan nikah itu.”
“Tapi Mama memikirkan kata orang lain, kan? Jika tidak, buat apa Mama mencari suami?”
“Itu karena Eyang bersikeras Mama harus menikah. Dalam kasusmu, Mama membebaskanmu, tidak menuntutmu. Menikah seharusnya karena kamu mau dan siap, bukan karena pertanyaan orang lain. Toh, ini hidupmu.” [T]
Penulis: Erna Muti’rofianas
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...