Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Ini merupakan tulisan yang bersumber dari lubuk hati saya. Mungkin sebagai orangtua, saya cukup perasa dan sangat menikmati sesi bersama anak. Mulai dari memandikan, menyuapi makan, mengganti baju sekolah, mengantar sekolah bahkan mungkin mengambil rapor.
Kegiatan tadi bagi sebagian orang merupakan hal remeh temeh. Bahkan cenderung tidak produktif. Saya pastikan itu iya. Karena tidak ada uang atau keuntungan materi yang dihasilkan dari kegiatan itu.
Tapi, bagi saya itu sangat menyenangkan. Saya memiliki kenangan dan menciptakan jalinan emosi dengan anak. Bahkan, saya cenderung memposisikan anak saya sejajar dengan saya. Bisa dibilang, saya menjadikannya teman. Posisi saya bukan orang yang disegani atau harus dihormati dan dijunjung tinggi.
Saya lebih senang jika anak saya bisa mengatakan, FUCK. Sambil menunjukkan jari tengahnya ke saya. Saya akan balas dengan kepalan tangan. Lalu menunjukkan jempol, lantas jempol itu akan saya putar ke bawah.
Seketika anak saya akan protes dengan merengek. Ini bagi saya momen yang lucu.
Hal seperti tadi memang sengaja saya ciptakan. Ini bukan hanya soal interaksi dengan anak. Tapi, menumbuhkan sikap setara dan bisa saling menerima dan memahami. Anak saya berusia sekitar 7 tahun, saat ini sedang berada di kelas 1 sekolah dasar.
Saat pagi, ketika anak saya akan berangkat ke sekolah. Saat baru mengenakan pakaian tanpa celana, dia akan naik ke kepala saya sambil mendekatkan titit-nya. Saya akan spontan mengatakan, “araah”.
Lantas, istri saya akan menegur. “Jangan begitu dengan orangtua”
Kegiatan atau prilaku tadi sangat saya nikmati sebagai orangtua. Saya enjoy saja.
Mungkin bagi sebagian orangtua, anak saya berlebihan. Bahkan mungkin tidak ada sikap hormat. Tapi, ketika di luar rumah, atau di tempat yang membutuhkan sikap saling menghormati, saya nilai anak saya bisa dan mengerti hal itu.
Bisa jadi, saya bukan tipe orangtua yang keras dan kaku pada anak. Peran itu diambil oleh istri saya. Ketika istri saya membentak, anak saya seketika akan diam. Jika saya yang berbicara dengan nada keras, anak saya akan berusaha membantah.
Ada sebuah momen yang membuat saya cukup terkejut sekaligus haru. Saat itu, saya harus buru-buru ke luar rumah. Di waktu itu, anak saya ada les-pelajaran tambahan.
Karena berkaitan dengan orang banyak, saya lebih memilih mendahulukan pekerjaan saya. Ketika itu, anak saya mengeluh sekaligus marah. Ia sempat berteriak. “Biar saja, dia (maksudnya saya) tidak ngurus anak. Hanya ngurus pekerjaan saja”
Saya terkejut dan terdiam beberapa saat mendengar itu. Anak saya yang baru kelas 1 sekolah dasar bisa mengungkapkan hal tadi! Saya terharu.
Meski, akhirnya berangkat les batal karena urusan pekerjaan tadi.
Tapi, bisa mengungkapkan hal kritis tadi bagi saya sudah lebih dari cukup. Dibandingkan pelajaran tambahan atau nilai-nilai semu di sekolah. Eureka….!!!!
Sampai saat ini, saya merasa bukan sebagai orangtua yang ketat, tegas dan disiplin pada anak. Misalkan, pada pelajaran. Saya ingat ketika beranjak dari sekolah PAUD ke sekolah dasar, saya tidak mengharuskan anak untuk ikut pelajaran tambahan atau les.
Dia sendiri yang ingin ikut. Karena baginya, itu perlu agar bisa mengimbangi teman-temannya di sekolah dalam pelajaran.
Saya sempat khawatir dengan pandangan ini. Karena saat saya sekolah dasar sama sekali tidak pernah punya pemikiran seperti ini.
Ikut pelajaran tambahan pun karena instruksi sekolah untuk persiapan ujian nasional pada kelas enam. Sisanya, saya sekolah mengerjakan pelajaran dan bermain.
Pola saya dalam mendidikan anak bisa dikatakan santai. Sangat santai. Karena bagi saya tumbuh kembang anak perlu dinikmati. Bagi si anak dan orangtuanya, karena ini bukan kompetisi.
Sama seperti ketika ada imbauan mengambil rapot bagi orangtua, terutama ayah. Ini mungkin hal remeh dan bagi sebagian orang tidak penting.
Tapi, perlu dilihat lagi. Riset yang dilakukan oleh Kompas dan dipublikasi pada 8 Oktober 2025 menyebutkan, sekitar seperlima anak Indonesia tanpa pengasuhan ayah atau fatherless. https://www.kompas.id/artikel/anak-anak-yang-berpotensi-fatherless-dari-keluarga-terpisah-hl-h1
“Fatherless dapat menimbulkan masalah identitas diri, gangguan orientasi seksual, dan sulitnya berinteraksi sosial. Namun, fatherless juga dapat menjadi titik balik seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dari perlakuan ayahnya.”
Apakah ini ada kaitannya dengan imbauan pemerintah yang meminta orangtua (ayah) untuk mengambil rapor anaknya, saya tidak tahu.
Tapi, komentar netizen soal pengambilan rapor ini cukup seram saya lihat di media sosial. Apalagi dikaitkan dengan kebijakan publik, mengatasi sampah, banjir dan soal lain-lainnya.
Mungkin bagi sebagian besar publik, pemerintah harus mengutamakan hal-hal besar dan berat. Iya, itu benar saya setuju seratus persen.
Tapi, mengambil rapor anak bagi saya juga hal yang sangat penting! [T]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...