“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Ini merupakan tulisan yang bersumber dari lubuk hati saya. Mungkin sebagai orangtua, saya cukup perasa dan sangat menikmati sesi bersama anak. Mulai dari memandikan, menyuapi makan, mengganti baju sekolah, mengantar sekolah bahkan mungkin mengambil rapor.
Kegiatan tadi bagi sebagian orang merupakan hal remeh temeh. Bahkan cenderung tidak produktif. Saya pastikan itu iya. Karena tidak ada uang atau keuntungan materi yang dihasilkan dari kegiatan itu.
Tapi, bagi saya itu sangat menyenangkan. Saya memiliki kenangan dan menciptakan jalinan emosi dengan anak. Bahkan, saya cenderung memposisikan anak saya sejajar dengan saya. Bisa dibilang, saya menjadikannya teman. Posisi saya bukan orang yang disegani atau harus dihormati dan dijunjung tinggi.
Saya lebih senang jika anak saya bisa mengatakan, FUCK. Sambil menunjukkan jari tengahnya ke saya. Saya akan balas dengan kepalan tangan. Lalu menunjukkan jempol, lantas jempol itu akan saya putar ke bawah.
Seketika anak saya akan protes dengan merengek. Ini bagi saya momen yang lucu.
Hal seperti tadi memang sengaja saya ciptakan. Ini bukan hanya soal interaksi dengan anak. Tapi, menumbuhkan sikap setara dan bisa saling menerima dan memahami. Anak saya berusia sekitar 7 tahun, saat ini sedang berada di kelas 1 sekolah dasar.
Saat pagi, ketika anak saya akan berangkat ke sekolah. Saat baru mengenakan pakaian tanpa celana, dia akan naik ke kepala saya sambil mendekatkan titit-nya. Saya akan spontan mengatakan, “araah”.
Lantas, istri saya akan menegur. “Jangan begitu dengan orangtua”
Kegiatan atau prilaku tadi sangat saya nikmati sebagai orangtua. Saya enjoy saja.
Mungkin bagi sebagian orangtua, anak saya berlebihan. Bahkan mungkin tidak ada sikap hormat. Tapi, ketika di luar rumah, atau di tempat yang membutuhkan sikap saling menghormati, saya nilai anak saya bisa dan mengerti hal itu.
Bisa jadi, saya bukan tipe orangtua yang keras dan kaku pada anak. Peran itu diambil oleh istri saya. Ketika istri saya membentak, anak saya seketika akan diam. Jika saya yang berbicara dengan nada keras, anak saya akan berusaha membantah.
Ada sebuah momen yang membuat saya cukup terkejut sekaligus haru. Saat itu, saya harus buru-buru ke luar rumah. Di waktu itu, anak saya ada les-pelajaran tambahan.
Karena berkaitan dengan orang banyak, saya lebih memilih mendahulukan pekerjaan saya. Ketika itu, anak saya mengeluh sekaligus marah. Ia sempat berteriak. “Biar saja, dia (maksudnya saya) tidak ngurus anak. Hanya ngurus pekerjaan saja”
Saya terkejut dan terdiam beberapa saat mendengar itu. Anak saya yang baru kelas 1 sekolah dasar bisa mengungkapkan hal tadi! Saya terharu.
Meski, akhirnya berangkat les batal karena urusan pekerjaan tadi.
Tapi, bisa mengungkapkan hal kritis tadi bagi saya sudah lebih dari cukup. Dibandingkan pelajaran tambahan atau nilai-nilai semu di sekolah. Eureka….!!!!
Sampai saat ini, saya merasa bukan sebagai orangtua yang ketat, tegas dan disiplin pada anak. Misalkan, pada pelajaran. Saya ingat ketika beranjak dari sekolah PAUD ke sekolah dasar, saya tidak mengharuskan anak untuk ikut pelajaran tambahan atau les.
Dia sendiri yang ingin ikut. Karena baginya, itu perlu agar bisa mengimbangi teman-temannya di sekolah dalam pelajaran.
Saya sempat khawatir dengan pandangan ini. Karena saat saya sekolah dasar sama sekali tidak pernah punya pemikiran seperti ini.
Ikut pelajaran tambahan pun karena instruksi sekolah untuk persiapan ujian nasional pada kelas enam. Sisanya, saya sekolah mengerjakan pelajaran dan bermain.
Pola saya dalam mendidikan anak bisa dikatakan santai. Sangat santai. Karena bagi saya tumbuh kembang anak perlu dinikmati. Bagi si anak dan orangtuanya, karena ini bukan kompetisi.
Sama seperti ketika ada imbauan mengambil rapot bagi orangtua, terutama ayah. Ini mungkin hal remeh dan bagi sebagian orang tidak penting.
Tapi, perlu dilihat lagi. Riset yang dilakukan oleh Kompas dan dipublikasi pada 8 Oktober 2025 menyebutkan, sekitar seperlima anak Indonesia tanpa pengasuhan ayah atau fatherless. https://www.kompas.id/artikel/anak-anak-yang-berpotensi-fatherless-dari-keluarga-terpisah-hl-h1
“Fatherless dapat menimbulkan masalah identitas diri, gangguan orientasi seksual, dan sulitnya berinteraksi sosial. Namun, fatherless juga dapat menjadi titik balik seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dari perlakuan ayahnya.”
Apakah ini ada kaitannya dengan imbauan pemerintah yang meminta orangtua (ayah) untuk mengambil rapor anaknya, saya tidak tahu.
Tapi, komentar netizen soal pengambilan rapor ini cukup seram saya lihat di media sosial. Apalagi dikaitkan dengan kebijakan publik, mengatasi sampah, banjir dan soal lain-lainnya.
Mungkin bagi sebagian besar publik, pemerintah harus mengutamakan hal-hal besar dan berat. Iya, itu benar saya setuju seratus persen.
Tapi, mengambil rapor anak bagi saya juga hal yang sangat penting! [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...