Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain ---Mengapa Begitu?
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
Tentu saja, ini tentang "Scarborough Fair/Canticle," balada mengharukan dari Paul Simon dan Art Garfunkel. Sebuah folk-rock klasik tahun 1960-an yang liriknya setenang puisi: jernih, namun menyimpan kedalaman yang tak mudah dijelaskan.
Berakar pada balada Skotlandia abad pertengahan, The Elfin Knight, lagu ini dikreasikan ulang oleh Simon dan Garfunkel dengan permainan lirik yang saling menanggapi: suasana “pekan raya” yang damai berdampingan dengan canticle bernuansa protes terhadap perang. Hasilnya adalah lagu modern yang bernapaskan cinta, tetapi tetap memelihara akar tradisinya.
Perpaduan gitar akustik Paul Simon yang jeli dengan vokal Garfunkel yang bening dan lembut menciptakan harmoni yang indah sekaligus sugestif, menyentuh bagian paling sensitif dalam diri kita.
Banyak orang telah membahas lagu ini, tetapi sebanyak itu pula kita melihat upaya yang sering kali gagal menangkap makna utuh dan kedalaman emosinya.
Are you going to Scarborough Fair? /
Remember me to one who lives there /
She once was a true love of mine
Sekilas, kita seperti dibawa ke Scarborough Fair yang legendaris, pekan raya tahunan di Yorkshire, tetapi suasana itu dibalut kerinduan, kehilangan, dan nostalgia yang samar. Liriknya yang berlapis menghadirkan kontras antara masa lalu yang romantis dan masa kini yang keras, bahkan kejam. Di satu sisi ada cinta, di sisi lain ada perang. Banyak orang menafsirkan lagu ini sebagai cerita tentang cinta yang diuji melalui syarat-syarat yang mustahil.
Tell her to make me a cambric shirt /
Without no seams nor needlework /
Then she'll be a true love of mine
Serangkaian permintaan yang mustahil, seperti membuat kemeja tanpa jahitan, atau menuai dengan sabit dari kulit, sebenarnya bukan sekadar permainan teka-teki. Ia melambangkan hubungan yang mustahil dipertemukan kembali: cinta yang dulu pernah ada, tetapi kini hanya mungkin jika keajaiban terjadi.
Sementara itu, rangkaian kata “parsley, sage, rosemary, and thyme” sering disalahpahami sebagai hiasan lagu semata. Padahal dalam tradisi herbal Inggris, masing-masing tanaman itu mengandung simbolisme: kekuatan menghilangkan kepahitan (parsley), kebijaksanaan (sage), kesetiaan dan kasih (rosemary), serta keberanian dan ketekunan (thyme). Jika dirangkai, semuanya merupakan gambaran dunia ideal, dunia di mana cinta sejati hadir untuk menuntun manusia menuju hidup yang jernih, kuat, penuh kesetiaan, dan selalu tertuju kepada kebaikan.
Namun tersirat dengan sangat halus bahwa dunia seperti itu tidak pernah benar-benar ada. Mencari “true love” di dunia ini sama mustahilnya dengan mencuci pakaian di sumur yang kering.
Secara filosofis, cinta sejati adalah perjalanan jiwa menuju keutuhan: bertumbuh bersama seseorang, memelihara kesetiaan, mencari kebenaran, dan menjalin pemahaman yang mendalam. Tetapi hidup fana terlalu cepat berlalu. Di dunia yang gaduh ini, terlalu mudah bagi manusia untuk kehilangan arah. Jangankan berjalan di jalur yang mulia; bahkan di jalan bertahan hidup yang keras sekalipun kita kerap tersesat.
War bellows blazing in scarlet battalions /
Generals order their soldiers to kill /
And to fight for a cause they've long ago forgot
Potongan canticle, sebuah nyanyian atau kidung ini menegaskan realitas dunia: manusia hidup dalam dunia yang sibuk saling memerintah, saling memerangi, dan sering melupakan tujuan awal. Cinta, yang mestinya menjadi inti dari kehidupan, digeser oleh kekacauan, ambisi, dan lupa diri.
Pada akhirnya, “Scarborough Fair” berdiri sebagai elegi bagi cinta yang tak pernah kembali. Lagu ini menatap dunia dengan lembut, tetapi juga tahu, dunia tak sanggup memenuhi harapan manusia. Ia membiarkan kita mendengar gema cinta sejati, meski indah dan dirindukan, tetapi selalu berada selangkah di luar jangkauan
Di tengah dunia yang riuh, penuh perang, tuntutan, dan kehilangan arah, “Scarborough Fair” menghadapinya dengan ironi yang tenang: manusia mendambakan cinta sejati, tetapi terus hidup dengan meniadakannya. Lagu ini adalah pengingat bahwa kita harus berani memilih, apakah kita ingin hidup dalam tugas-tugas mustahil itu, atau mulai menenun makna cinta yang meski sederhana namun manusiawi. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., berbagai program revitalisasi...
DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai hitam. Di depannya, seorang mahasiswa berdiri sembar...
PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLA...
ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno....
DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan ketika musim kering datang. Dari tradisi...
Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisa...
Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika kuantum dan Interpretasi Kopenhagen. Nam...
JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar dari isi rekeningnya: semesta pasti punya rencana khusus...
Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah, hutan tua mendekapnya denganakar-akar yang t...