WAYAN Arnawa, selain menjadi seniman lukis, ia termasuk orang yang setia menjaga tradisi melukis wayang dengan media kaca di Desa Nagasepaha, Buleleng. Ia memang seniman lukisan wayang kaca yang tinggal di Dusun Delod Margi, Desa Nagasepaha.
Ia sudah menekuni dunia seni lukis wayang kaca sejak 1980. Ia merupakan generasi ketiga dan sekaligus cucu dari maestro lukisan wayang kaca Jero Dalang Diah Belia. Ia memilih menjadi pelukis wayang kaca karena ingin menjaga tradisi dari yang sudah turun temurun di keluarganya, dan sejak kecil sudah tertarik dengan dunia seni termasuk wayang kaca.
Lukisan wayang kaca hasil karya Wayan Arnawa sudah sering masuk pameran tidak hanya di Bali, tetapi juga sudah sampai Jakarta dan Yogyakarta.
Awal mula lukisan wayang kaca berangkat dari sosok maestro legendaris Bali, Jero Dalang Diah Belia, yang dikenal sebagai dalang sekaligus seniman visioner pada masanya. Kisah ini bermula sekitar tahun 1927, ketika suatu hari Jero Dalang kedatangan seorang tamu bernama Wayan Nitia. Kedatangan Wayan Nitia bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan membawa sebuah lukisan figur yang mengenakan busana kimono, sesuatu yang saat itu terbilang asing dan unik bagi lingkungan seni tradisional Bali.
Semabri menunjukkan lukisan ala Jepang itu, Wayan Nitia mengemukakan ide yang cukup berani dan tidak lazim: ia bersikeras agar gambar itu dilukiskan di atas media kaca, bukan di atas kain atau kertas seperti kebiasaan seniman pada masa itu. Gagasan ini tentu bukan hal yang mudah, karena melukis di atas kaca membutuhkan teknik, ketelitian, dan keberanian untuk bereksperimen dengan medium baru.
Namun, alih-alih ragu, Jero Dalang Diah Belia justru langsung menyanggupi tantangan tersebut. Sikap terbuka dan jiwa kreatifnya membuat ia berani mencoba hal baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Dari momen sederhana inilah kemudian lahir cikal bakal seni lukis wayang kaca di Desa Nagasepaha, sebuah bentuk seni yang memadukan nilai tradisional wayang dengan media yang unik dan berbeda.
Bisa dibilang, keputusan spontan namun visioner itu menjadi titik awal berkembangnya lukisan wayang kaca hingga dikenal luas seperti sekarang. Dari satu ide “nyeleneh” dan keberanian seorang maestro, lahirlah warisan seni yang terus hidup dan relevan lintas generasi bahkan sampai ke anak muda hari ini.
Pembuatan Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi
Lukisan wayang kaca ini punya ciri khas yang bikin langsung beda dari lukisan pada umumnya, yaitu teknik latar terbalik. Jadi, proses melukisnya tidak dimulai dari latar belakang, tapi justru dari detail utama seperti wajah, ornamen, dan garis halus, lalu diakhiri dengan pewarnaan latar. Teknik ini jelas butuh tingkat ketelitian, kesabaran, dan skill tinggi, karena sekali salah, hampir tidak bisa diperbaiki. Di sinilah terlihat betapa “niat” dan seriusnya para seniman wayang kaca dalam berkarya.
Kalau ditarik ke sejarahnya, teknik unik ini nggak lepas dari peran Jero Dalang Diah Belia sebagai maestro pertama wayang kaca. Keberanian beliau pada tahun 1927 untuk mencoba melukis di atas kaca berawal dari tantangan Wayan Nitia jadi fondasi lahirnya gaya dan teknik yang terus diwariskan sampai sekarang. Apa yang awalnya cuma eksperimen, berkembang jadi identitas seni yang kuat dan khas Bali.
Karena nilai sejarah, teknik yang unik, dan makna budaya yang dikandungnya, lukisan wayang kaca tidak cuma dipandang sebagai karya seni visual, tapi juga sebagai warisan budaya tak benda. Bukan cuma soal hasil akhirnya yang indah, tapi juga soal pengetahuan, proses, dan nilai tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Buat anak muda, wayang kaca ini bisa dilihat sebagai bukti kalau seni tradisi itu sebenarnya kreatif, berani beda, dan relevan. Dari satu keputusan berani seorang maestro di masa lalu, lahir karya seni yang sampai sekarang masih eksis, punya karakter kuat, dan jadi identitas budaya yang patut dibanggakan.
Lukisan Wayang Kaca | Dokumentasi Pribadi
Lukisan wayang kaca itu sebenarnya bukan cuma soal visual yang kelihatan keren dan estetik, tapi juga penuh makna filosofis. Media kaca yang bening tapi rapuh menggambarkan kehidupan manusia yang terlihat kuat dari luar, padahal rentan dan mudah terluka, sekaligus mengajak kita buat bercermin dan jujur sama diri sendiri.
Proses melukis dengan teknik latar terbalik, mengerjakan detail dulu baru latarnya jadi simbol kalau dalam hidup yang paling penting itu karakter, nilai, dan isi diri, bukan sekadar tampilan luar. Tokoh-tokoh wayang yang dilukiskan juga merepresentasikan sifat-sifat manusia, dari kebijaksanaan sampai keserakahan, yang secara halus ngajak kita mikir mana sikap yang layak ditiru dan mana yang sebaiknya dihindari.
Ditambah lagi, proses pembuatannya yang butuh kesabaran tinggi karena sulit diperbaiki kalau salah, ngasih pesan kalau setiap pilihan dalam hidup punya konsekuensi. Jadi, wayang kaca itu bukan cuma seni pajangan, tapi seni yang “ngomong”, mengajak refleksi, dan tetap relevan buat kehidupan anak muda sekarang.
Proses pembuatan wayang kaca itu sebenarnya penuh “drama” tapi justru di situ seninya. Awalnya, seniman bikin sketsa detail tokoh wayang di atas kertas, biasanya mengikuti pakem wayang kulit biar karakter, gestur, dan proporsinya tetap otentik. Sketsa ini bukan asal gambar, tapi pondasi utama sebelum masuk ke kaca.
Setelah itu, pola kertas ditempel atau dijadikan acuan buat mulai gambar di permukaan kaca yang licin dan tricky. Masuk ke tahap paling ikonik, yaitu ngreka atau melukis terbalik. Di sini seniman dituntut mikir kebalik, karena bagian yang nanti kelihatan paling depan justru dilukis paling awal. Detail wajah, mata, sampai hiasan kepala digarap duluan, pakai cat khusus kaca seperti akrilik biar warnanya nempel dan awet.
Prosesnya tak bisa ngebut, semuanya dikerjakan bertahap. Setiap selesai satu bagian, kaca dibalik untuk ngecek hasil dari sisi depan, seperti sedang nge-preview karya sebelum lanjut ke level berikutnya. Dari sisi depan inilah seniman melakukan koreksi, mulai dari proporsi, warna, sampai detail kecil biar tetap presisi.
Setelah garis luar aman, warna dasar diisi pelan-pelan, lalu ditambah detail-detail kece seperti aksen emas atau motif busana yang rumit. Kalau semua lapisan sudah kelar, lukisan dibiarkan kering total. Hasil akhirnya, pas dilihat dari depan, wayang kaca bakal tampil utuh, rapi, dan estetik. Teknik ini jelas memerlukan kesabaran ekstra, karena sekali salah, revisinya ribet dan harus super hati-hati. Tapi justru dari situ keliatan kalau wayang kaca bukan cuma lukisan, tapi bukti skill, fokus, dan rasa seni tingkat tinggi. [T]
Penulis: Kadek Andi Partika, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan
Catatan: Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik Online pada program studi Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...