Kali ini kita membahas "Roundabout", salah satu lagu Yes yang paling terkenal, berdampingan dengan mahakarya mereka seperti "Close to the Edge", "And You And I", dan "Wondrous Stories". Yes adalah band rock progresif Inggris yang sangat disegani pada zamannya, dan "Roundabout" berasal dari album Fragile yang dirilis pada 1971.
Lagu ini sungguh mengesankan. Bahkan dari intronya saja, kita sudah merasakan bagaimana mereka memperlakukan melodi dengan imajinasi yang membentang luas, sebuah pintu masuk menuju dunia musik yang akan menggugah indra kita dengan megah.
Petikan gitar akustik Steve Howe yang penuh perasaan, disusul hentakan riff bas Chris Squire yang dramatis, menciptakan sebuah hentakan artistik yang segera menyeret kita ke pusaran progresif yang hidup dan berenergi.
I'll be the roundabout / The words will make you out and out…
Menurut Jon Anderson, "Roundabout" lahir dalam perjalanan darat dari Aberdeen ke Glasgow setelah manggung di Aviemore, Skotlandia. Mereka melewati pegunungan berkabut dan menemukan begitu banyak bundaran, barangkali empat puluh atau lebih. Semua itu menginspirasi Anderson dan Howe untuk menulis lagu tentang perjalanan tersebut.
“Semuanya terasa begitu nyata dan mistis,” kenang Anderson. “Hari itu mendung, dan saya berkata, ‘Gunung-gunung itu seperti muncul dari langit!’” Ia mulai menulis lirik di buku catatannya. “Saya suka bagaimana bunyinya ketika saya merangkainya.”
Namun bagi kita, lirik “Roundabout” bukan sekadar catatan perjalanan tentang jalanan, kabut, atau pegunungan. Ada sesuatu yang lebih eksistensial di dalamnya: pencarian makna, kerinduan untuk kembali pada hakikat diri, pada orang-orang terkasih, pada tempat asal; juga rasa cemas, keterasingan, dan penciptaan nilai-nilai pribadi yang menyertai perjalanan hidup.
Lagu ini menampilkan kepiawaian aransemen para musisi: Jon Anderson (vokal), Chris Squire (bas), Steve Howe (gitar), Rick Wakeman (kibor), dan Bill Bruford (drum). Struktur musiknya yang berliku, penuh perubahan tempo dan dinamika, merefleksikan sebuah perjalanan yang tidak lurus, kadang terbuka, kadang tersendat, kadang bergegas kembali seperti siklus kehidupan itu sendiri.
Aliran musiknya, gitar akustik yang cepat, bas yang rumit dan ikonik, hentakan organ yang muncul tiba-tiba, serta pergantian tempo yang mengejutkan, memberi sensasi bahwa kita sedang menembus jalan panjang dengan seorang pemandu yang membawa kerinduan dalam putaran tak berkesudahan.
I spend the day your way / Call it morning driving through the sound / And in and out the valley
"Roundabout" sering dianggap salah satu contoh paling murni dari rock progresif: permainan musik yang kompleks namun tetap mudah diingat, puitis namun energik, rumit tapi tetap menarik bagi pendengar luas. Dengarkan bagaimana mereka menggambarkan “kerinduan” itu pada verse ke-6, kreatif, penuh progresi, dengan koor dan kombinasi musik yang saling berlapis, impresif namun tetap lembut dalam kedalaman perasaannya. Sebuah gambaran bahwa untuk mencapai sesuatu, memang tidak pernah mudah.
Along the drifting cloud / The eagle searching down on the land / Catching the swirling wind
Pada akhirnya, “Roundabout” bukan hanya kisah perjalanan Skotlandia, bukan pula sekadar pemandangan yang lewat dari balik kaca mobil. Lagu ini seperti mengingatkan kita bahwa hidup sering bergerak dalam putaran, kadang memutar terlalu jauh, kadang kembali ke titik yang sama, kadang membawa kita ke arah yang tak terduga. Namun dalam setiap belokan, selalu ada sesuatu yang menuntun: ingatan, tujuan, atau seseorang yang membuat kita terus melangkah.
Dan seperti jalan berputar yang terus membawa kita maju, lagu ini menyiratkan bahwa tidak ada perjalanan yang sia-sia. Selama kita tahu apa yang kita cari, dan ke mana hati menuju, setiap putaran akan menemukan arahnya. One mile over, we’ll be there and see you—sebuah janji kecil bahwa dalam siklus yang terus bergerak, selalu ada kemungkinan untuk tiba.
Along the drifting cloud/ The eagle searching down on the land/ The sailor sees the rim of the land// *
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...