Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
Dut badut badut badut badut badut badut, zaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong sembarang,
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbar.
Nggut manggut manggut manggut manggut manggut manggut
Seperti badut, ya iya iya iya iya iya iya, ya iya iya.
(lirik lagu ”Badut”-Swami)
*
SATU lirik lagu “Badut” karya Sawung Jabo dan Iwan Fals dalam album Swami, terasa sangat relevan dengan zaman sekarang: “Aku badut, badut yang bisa tertawa sedih…” Baris sederhana itu bukan sekadar gambaran sosok pelawak panggung.
Ia adalah representasi manusia, yaitu kita semua, yang dalam tekanan realitas sosial, politik, dan media, dipaksa atau justru dengan sukarela tampil seperti badut: berbicara lantang tanpa kedalaman, menyampaikan pendapat tanpa dasar, dan menjadi tontonan massal tanpa menyadari bahwa diri sendiri telah kehilangan integritas. Artikel ini coba melihat ”parodi hidup dalam bingkai lirik lagu Badut”.
Seperti sekelompok orang yang ingin beraudiensi dengan Komisi Reformasi Polri, setelah gagal atau tidak jadi beraudiensi, karena tidak sesuai dengan daftar saat memohon bertemu, berbeda saat akan bertemu, seolah pihak komisioner menolak, dan ”menghukum”, satu contoh yang masih hangat. Masing-masing pihak sudah memberikan keterangan pada awak media, tinggal mata hati kita yang menilainya, siapa yang ”melucu”.
Dulu, tidak semua orang punya mimbar. Untuk berbicara di ruang publik, seseorang harus melalui seleksi sosial, profesional, dan intelektual. Kini semuanya selesai dengan satu klik: gawai di tangan, kamera terbuka, dan unggahan meluncur tanpa refleksi.
Fenomena ini melahirkan apa yang semakin sering kita lihat: orang berbicara tanpa riset; opini dilempar seperti dagelan; fakta dikaburkan demi sensasi; argumentasi diganti drama; popularitas menjadi ukuran kebenaran.
Dalam situasi ini, kita seperti dikelilingi parade badut yang saling berebut perhatian. Mereka tertawa, marah, memaki, memprovokasi, tetapi sebenarnya rapuh dan kosong di dalam. Lirik lagu “Badut” menangkap perasaan itu: manusia yang menjadi pusat perhatian tetapi sekaligus bahan tontonan. Ia menampilkan diri dengan gagah, tetapi sesungguhnya tidak punya pijakan makna.
Fenomena “asal bicara” kini tidak hanya ada di media sosial. Di televisi, debat politik, dialog publik, bahkan rapat-rapat resmi negara pun sering berisi hujatan, sindiran, tanpa argumen yang berpihak pada publik.
Orang tak lagi sibuk membawa solusi. Yang mereka kejar adalah “narasi menang”, memojokan lawan bicara di mata penonton: siapa yang paling keras; siapa yang paling viral; siapa yang paling disorot kamera. Seperti seorang pengamat dengan bangga mengucapkan, ”bajingan tolol, dungu”, entah kata-kata kotor apa lagi, atau kelompok yang mengaku ilmuwan, peneliti dengan kata-kata berbagai hujatan pada yang dituduhkannya.
Seperti dalam sirkus, panggung media menuntut tontonan, bukan pemikiran. Banyak figur publik terjebak menjadi performer, bukan negarawan; menjadi komentator, bukan pemikir; menjadi badut, bukan pemimpin. Padahal, bangsa tidak berjalan oleh tepuk tangan dan celetukan, tetapi oleh kedewasaan intelektual dalam membaca persoalan.
Setiap hari kita disuguhi ocehan: “Asal Viral, Maka Benar.”; “Asal Trending, Maka Penting.”; “Asal Nyambung dengan Emosi Massa, Maka Mendapat Pembenaran.”
Masyarakat pun ikut terbawa. Kita jadi bangsa yang ahli berkomentar tetapi miskin kehendak mempelajari sesuatu lebih dalam.
Dalam lagu “Badut”, kita merasakan kritik yang tajam terhadap manusia yang terjebak pencitraan: “Dunia tertawa melihat tingkahmu…”
Ini sindiran untuk zaman sekarang: kita bangga tampil di muka umum, tetapi tidak sadar menjadi obyek pergunjingan yang sebenarnya tidak membawa perubahan apa-apa.
Kritik lagu ini justru paling tajam ketika diarahkan ke dalam diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi badut media: saat membagikan berita yang belum jelas kebenarannya; saat marah di kolom komentar tanpa membaca isi keseluruhan; saat merasa paling benar hanya karena mendengar dua menit potongan video; saat membela tokoh, kelompok, atau kepentingan tanpa pengetahuan memadai.
Media sosial memberi ruang bagi kita semua untuk unjuk bicara. Namun ruang itu juga membentuk kita menjadi: cepat bereaksi; lambat mencerna; rajin menilai; malas memahami.
Iwan Fals dan Sawung Jabo, lewat lagu ”Badut”, mengingatkan: manusia modern bisa tampil hebat di luar, tetapi di dalam hatinya tersisa kekosongan. Kita jadi pelawak bagi diri sendiri, karena pendapat yang kita keluarkan belum tentu memiliki pijakan nilai atau kebenaran.
Gejala yang mengkhawatirkan adalah ketika “asal bicara” bukan lagi fenomena individu, tetapi berubah menjadi pola budaya.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu media: talkshow mendahulukan drama dibanding analisis; konten viral lebih dihargai daripada tulisan mendalam; pernyataan emosional lebih cepat dilirik daripada fakta.
Ketika itu berlangsung terus-menerus, kualitas ruang publik turun secara struktural. Ilmu kalah oleh meme. Solusi kalah oleh ejekan. Masa depan kalah oleh trending hari ini.
Kita mulai terbiasa dengan keseluruhan sirkus dagelan ini, dan lupa bahwa: bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang cerewet, tetapi oleh mereka yang berpikir, meneliti, dan bergerak.
Barangkali itulah pesan tersirat lagu “Badut”. Ia bukan sekadar kritik, tetapi ajakan refleksi.
Di era penuh kegaduhan ini, justru kemampuan paling penting adalah: berhenti sejenak sebelum bicara; memahami sebelum menilai; mengambil jarak sebelum berkomentar; menimbang sebelum menekan tombol “kirim”.
Diam bukan berarti tidak peduli. Diam justru menunjukkan kedewasaan mengambil sikap. Barangkali kita butuh kembali belajar menjadi manusia yang berbicara karena tahu, bukan karena ingin didengar. Akhir kata sudut pandang ini, jangan sampai kita dipaksa menjadi badut.
Lagu “Badut” terasa seperti pesan lintas zaman. Ketika diciptakan, mungkin menggambarkan situasi sosial tertentu pada masa itu. Namun hari ini, ia menjadi cermin tajam bagi era digital.
Di tengah dunia yang dibanjiri suara, opini, konten, dan komentar: kita perlu menjaga kewarasan berpikir; kita perlu memelihara etika bicara; kita perlu mengingat bahwa suara yang paling berharga bukan yang terdengar paling keras, tetapi yang disampaikan paling bermakna.
Sebab jika tidak, kita akan terjebak pada ironi abadi, yaitu menjadi badut dalam hidup sendiri, tertawa di luar, tetapi sedih dan kosong di dalam. Dan bukankah itu tragedi di balik komedi terbesar zaman ini? Semoga kita menjadi sang pemberi makna dalam dunia yang fana ini. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...