Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pada 5 Desember 2025 adalah salah satunya. Di atas kertas, hasil akhirnya tercatat rapi: Persib menang 3–1 setelah sempat tertinggal oleh gol Joel Vinicius di menit ke-18, lalu membalik keadaan lewat Ramon Tanque, Federico Barba, dan Saddil Ramdani.
Namun, di luar angka dan nama pencetak gol itu, pertandingan ini bekerja seperti cerita pendek yang ditulis dengan ritme getir dan pulih, dan kita yang menonton menjadi pembaca yang perlahan menyadari pesan moral terselip di antara duel lini tengah dan gesekan sepatu di rumput.
Borneo datang dengan status pemuncak klasemen. Mereka tengah berada di fase percaya diri, sebuah posisi yang dalam dunia sepak bola mungkin digambarkan sebagai “masa ketika tim merasa dunia telah berpihak, padahal dunia sejatinya tak pernah benar-benar punya keberpihakan”. Gol cepat Vinicius—yang berawal dari kelengahan lini belekang Persib membaca pergerakan dan koordinasi bertahan yang terlambat sepersekian detik—seakan menegaskan bahwa tim tamu datang bukan untuk bertahan. Ada ketenangan pada cara Borneo bermain setelah unggul, seolah-olah mereka tahu benar bahwa Liga 1 musim ini sedang mengikuti garis besar naskah mereka.
Tapi sepak bola tidak membaca naskah. Ia hidup dari gangguan, dari ketidakterdugaan, dari arus liar yang membuat tim unggul harus memilih antara menggenggam keunggulan terlalu kuat atau membiarkannya lepas begitu saja. Persib berada dalam situasi itu—sebuah titik di mana sebuah tim besar diuji, bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Ketertinggalan di kandang sendiri mudah berubah menjadi kepanikan. Dan kepanikan bisa menular, seperti kabut yang turun perlahan tapi berkelanjutan.
Justru di area abu-abu itulah Persib menemukan kembali dirinya. Ramon Tanque menyamakan kedudukan di menit ke-40, gol yang tampak seperti pukulan kecil ke pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Gol itu tidak hanya menyelamatkan skor; ia menyelamatkan moral. Ia mengendurkan tegangnya syaraf para pemain, mengembalikan ritme, sekaligus mengganti suasana stadion: desah cemas berubah jadi sorak yang menggelegak.
Dalam narasi kesadaran diri, saat-saat seperti itu sering diterjemahkan sebagai momen ketika manusia menyadari batas kekuatannya, lalu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Persib seakan berkata pada dirinya sendiri: “Kami belum selesai.”
***
Babak kedua menjadi demonstrasi paling telanjang tentang bagaimana momentum bekerja. Federico Barba mencetak gol kedua Persib di menit ke-50—awal yang ideal, penanda bahwa pertandingan kini telah berpindah tangan. Gol itu lahir dari kombinasi antara ketepatan posisi, konsistensi tekanan, serta keberuntungan kecil yang selalu diperlukan dalam sepak bola.
Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Borneo tidak lagi berada dalam ruang bermain yang nyaman. Mereka sedikit terlambat menutup ruang, sedikit terlalu lambat dalam mengalirkan bola. Perubahan kecil semacam itu bisa berlipat ganda efeknya, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau dan memicu gelombang yang membesar.
Jika ada satu momen yang merangkum seluruh pertandingan, barangkali itu adalah gol Saddil Ramdani di masa injury time. Ia datang sebagai penutup cerita, semacam kalimat terakhir yang membuat pembaca menutup buku dengan rasa puas. Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan, melainkan mengukuhkan bahwa perjuangan pantang menyerah yang dibangun sejak tertinggal di menit ke-18 bukan sekadar ledakan sesaat. Ia konsisten, stabil, dan berpuncak dengan cantik. Saddil mencatatkan gol ke gawang Borneo, menyelipkan lapisan emosional yang tak bisa dibaca hanya dari papan skor.
Namun, esai ini bukan hendak memuja Persib sebagai pahlawan tunggal. Justru pertandingan semacam ini menarik karena memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, pihak yang kalah pun menyumbang makna yang sama pentingnya. Borneo datang sebagai pemuncak klasemen yang sedang mencari jarak aman. Dua kekalahan beruntun sekarang memaksa mereka berkaca. Di titik ini, sepak bola menunjukkan wataknya yang egaliter: bahkan yang di puncak bisa mengalami kerentanan.
Dan kerentanan bukanlah musuh, ia adalah pengingat bahwa tidak ada posisi yang aman jika kita berhenti berkembang. Pelatih Borneo memberi selamat kepada Persib dalam konferensi pers setelah pertandingan, sebuah gestur yang terdengar sederhana, tapi di sepak bola Indonesia—yang kerap terjebak dalam antagonisme—gestur seperti itu justru menjadi contoh sportifitas yang patut diapresiasi.
Liga 1 musim ini, dengan segala kejutannya, tampak seperti arena tempat tim-tim belajar menjadi dewasa. Persib yang membayang-bayangi, Borneo yang terpeleset, tim-tim lain yang menunggu peluang, semuanya bergerak dalam perjalanan kompetisi yang sehat. Sepak bola, jika dikelola dengan etika, bisa menjadi ruang belajar yang paling egaliter: pemain dari latar manapun bisa bersinar, suporter dari berbagai kelas sosial bisa duduk berdekatan, dan kemenangan selalu lahir dari kerja kolektif, bukan satu nama saja.
Malam itu, Persib memberi gambaran tentang bagaimana sebuah tim bisa berubah ketika bertemu keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka memilih jalan yang tidak selalu dipilih. Alih-alih membiarkan tekanan memecah mereka, mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menyusun ulang keberanian. Pertandingan itu menjadi metafora bagi hal-hal yang lebih luas, bahwa hidup pun sering menempatkan kita dalam posisi tertinggal, nyaris kalah, dan digempur keadaan.
Namun, seperti gol Ramon Tanque di menit ke-40, kadang kemenangan dimulai dari satu upaya kecil yang tidak terlihat heroik, tapi cukup untuk mengubah arah.
Sepak bola sering kali dijadikan alasan untuk ribut—suporter berselisih, klub saling sindir, media sosial menjadi arena panas. Tapi pertandingan seperti Persib vs Borneo ini menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi pembelajaran sosial, tentang bangkit, tentang merelakan, tentang menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan tentang merayakan kemenangan tanpa menginjak lawan.
Dan saat para pemain berjalan ke ruang ganti setelah peluit panjang, kita tahu bahwa apa yang tersisa bukan hanya angka. Yang tersisa adalah pengingat sederhana bahwa dalam hidup maupun sepak bola, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran, tidak ada kekalahan yang layak disesali berlebihan, dan tidak ada kompetisi yang benar-benar bermakna tanpa rasa saling menghormati.
Malam itu, Persib menang. Tapi lebih dari itu, sepak bola Indonesia—setidaknya untuk satu malam—menjadi tempat di mana kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Selamat, Sib.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...