Saya sudah memutar "If You Leave Me Now" seribu kali sejak pertama kali mendapatkannya di tahun 1982. Anda tahu saya bisa menyukai banyak lagu dari berbagai genre, tetapi "If You Leave Me Now" sepertinya memiliki sarangnya sendiri dalam kepala saya, di mana ia beresonansi dan memanggil-manggil dengan halus, memicu dopamin ketika saya sedang dalam suasana hati tertentu.
Saya sesungguhnya tidak ada pengalaman dramatis tertentu terkait lagu ini sehingga saya sampai begitu terpengaruh olehnya, tetapi saya ingat di mana pertama kali ia menyentuh pendengaran saya. Sore itu, langit Denpasar sedang muram dan angin dingin berlarian membawa gerimis di atas jalan Gajahmada yang lengang. Di sana Anda akan melihat saya bergegas menyeberangi jalan, menutupi kepala dengan tangan untuk melindungi diri dari hujan setelah keluar dari Peken Payuk, lalu perlahan menyusuri etalase pertokoan di Jalan Kartini.
Saya hendak memilih bemo untuk membawa saya pulang ke Sukawati. Saya bertemu beberapa sopir dan kenek, kami saling menyapa. Mereka berasal dari desa saya. Sewaktu akan naik ke bemo, perhatian saya ditangkap oleh satu lagu yang disetel nyaring dari sebuah toko. Tanpa ragu saya berbalik badan dan masuk toko di sebelah Toko Bandung itu serta membayar kasetnya. Itu Peter Cetera (Chicago) yang menyanyikan "If You Leave Me Now"
Ya, mula-mula saya memang tersentuh oleh intro "If You Leave Me Now". Perasaan saya tersengat saat pertama kali mendengarnya dan membuat saya meleleh…
Intro lagu itu dingin dan sendu, perpaduan gitar akustik dan piano elektrik Rhodes yang merambat halus dengan bas lembut dan sapuan string ringan menciptakan nuansa melankolis, misterius, tapi indah. Sejak saat itu, setiap kali saya mendengarkannya, saya seolah kembali ke Denpasar sore itu: gerimis halus, udara dingin, jalanan sepi.
Pagi ini di Kuta, suasananya sama. Gelap, dingin, dan gerimis. “Habitat” terbaik bagi If You Leave Me Now. Saya menyalakannya di mode repeat one song, membiarkan diri hanyut di ruang imajiner antara romantik, sendu, dan melankolis yang dibawa suara tenor khas Peter Cetera…
If you leave me now, you’ll take away the biggest part of me… [T]
PERNIKAHAN Mas Bobby dan Mbak Kahiyang (putri Presiden Jokowi) seharusnya dirayakan dengan sederhana. Antara lain begitu kata Pak Fahri Hanzah sebagaimana disiarkan media....
JIKA di Yogya angkringan sebagai tempat nongkrong, yang membuat malam di kota tua ini betah terjaga, maka di Bali, pasar senggol-lah yang menjadi jiwa malamnya.
Begitulah...
SIAPA yang tidak ingin hidup serba digampangkan? Tinggal tunjuk sana tunjuk sini, minta ini minta itu, seperti punya doraemon tinggal mungut di kantong ajaib.
Keterbatasa...
GOL semata wayang Stefano Lilipaly ke gawang Rivky Mokodompit menit ke-95 pada pertandingan PSM Makassar kontra Bali United FC di Stadion Mattoangin, Makassar, Senin (06/11...
Judul Buku: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Penulis : Luis Sepulveda
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri (2017)
Ketebalan: x + 133 halaman
DI man...
MENJADI seorang mahasiswa, seperti saya, sesungguhnya status yang sangat bergengsi dan dianggap orang yang serba bisa oleh masyarakat. Hadeh capek deh padahal kagak bisa ap...
TERPILIH sebagai satu dari sepuluh penulis yang mengikuti Program Residensi Penulis 2016 dari Komite Buku Nasional, Rio Johan memutuskan untuk menulis novel berlatar Mesir...
ANAK-ANAK kecil zaman dulu alias “kids zaman old” lebih banyak punya bayangan seram soal isi lontar. Misalnya berisi mantera kesaktian, mantera suci, atau mantera pengeleak...
KONTUR alias Komunitas Puntung Rokok barangkali bukanlah komunitas teater terbaik di Bali Utara, sebuah wilayah dengan orang-orang hebat dalam bidang teater. Tapi, saya ber...
BEBERAPA tahun ke belakang penggemar anjing ras selain anjing Bali semakin meningkat. Fakta menunjukkan dari beberapa grup pecinta anjing di jejaring sosial facebook, semak...