Keragaman di Bali Itu Rahmat untuk Indonesia
BALI adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Denpasar. Bali juga merupakan salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara. Di awal kemerdekaan Indone...
Manusia dapat dikatakan sebagai binatang yang berdiri tegak, yang bisa menciptakan budaya, yang bisa dinikmati oleh manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan.
Dalam ajaran Hindu, dikatakan bahwa manusia dilengkapi dianugrahi sabda (suara yang pendapat), bayu (tenaga yang jadi kekuatan) dan idep (pemahaman yang jadi kesadaran).
Pohon yang dulu dikatakan tidak bersuara atau tidak bisa berpendapat, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi yang diciptakan manusia, kini kita bisa mendengar suara, pendapat pohon, melalui mesin maupun gambar.
Binatang yang dulu dikatakan tidak punya idep (pemahaman dan kesadaran ) dengan pengetahuan dan teknologi manusia, kini beberapa diantaranya telah pemiliki pemahaman dan kesadaran, secara naluri maupun karena dilatih, misalnya anjing, kucing, burung beo, lumba-lumba, gajah, macan, kera dan lain-lain.
Semua mahluk memiliki naluri untuk hidup, berkembang, aman dan nyaman.
Di musim panas, pohon-pohon yang besar dan tinggi merontokkan daun-daunnya agar air yang diisap akar bisa menghidupi batang dan ranting-ranting. Binatang-binatang akan menjauh saat merasakan gunung akan meletus.
Manusia Modern yang akrab dengan pengetahuan dan tehnologi kini, justru tanpa sadar telah membunuh nalurinya.
Misalnya HP, perangkat tehnologi modern kini sangat dekat (hampir melekat) dengan manusia (dari bayi sampai orang tua), yang sesungguhnya bisa sangat membantu manusia untuk mendapatkan pemahaman tentang sesuatu, sehingga memudahkan untuk mencapai kesadaran, ternyata menjadi pembunuh utama naluri manusia sebagai mahluk hidup.
Percobaan bisa kita lakukan binatang (anjing) dan manusia, saat seekor anjing kita putarkan film, lagu, gambar-gambar yang disukainya, dia akan bertahan beberapa lama, tapi setelah itu ia tetap akan minta makan karena merasa lapar. Berbeda dengan manusia, ia bisa lama memanfaatkan HP tanpa merasa kelaparan, sehingga makin lama-naluri perutnyalah yang akan aktif memberi peringatan sebagai sakit perut.
"
Kelebihan manusia yang mempunyai "idep", pemahaman dan kesadaran dibandingkan dengan mahluk lain, akan menjatuhkan manusai pada jurang yang sangat dalam jika abai dan terbiasa mengabaikan nalurinya.
Naluri mahluk hidup, selain untuk bertahan hidup adalah juga untuk selalu belajar dari tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi hidupnya.
Manusia bisa belajar dirinya sendiri, lingkungan, manusia, binatang, pohon, alam, buku, media sosial dan lain-lain. Pengetahuan yang didapatkannya tentang sesuatu biasanya mampu membuatnya mengalahkan enam musuh-musuh dalam dirinya (sadtipu) berupa; keinginan hawa nafsu (kama), tamak (lobha), sifat marah (kroda), bingung (moha), iri hati (matsarya) dan mabuk (mada). Keenam musuh itu juga ada pada semua mahluk hidup yang membuatnya mengalami kegelapan/tidak berpengetahuan.
Dari eman musuh dalam diri manusia yang ada saat ini, yang paling hebat dan sangat berpotensi menghancurkan manusia dan kemanusiannya adalah "mada" (mabuk menghindari diri dari kenyataan dengan minuman, irupan, makanan, pekerjaan dan lain-lain). Kalau kondisi mabuk ini bersifat sementara akan tidak terlalu mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengalahkan musuhnya yang lain, tetapi jika sudah menjadi kebiasaan pasti juga akan membuatnya tak mampu mengalahkan musuh-musuh dirinya yang lain. Misalnya seorang peminum, walaupun ia bukan tipe pemarah, tapi saat tertentu, ia bisa jadi pemarah.
Keberadaan HP sebagai salah satu teknologi yang dekat dengan manusia, kini sangat potensian dipakai sebagai sarana untuk " mabuk" (melarikan diri dari kenyataan) yang tak terdeteksi. Mabuk yang disebabkan oleh HP ini bisa berimplikasi jauh dan luas, karena menyangkut seluruh aspek kehidupan dengan segala kualitas dan kuantitasnya.
Hati-hati dan waspadalah, mabuk HP yang awalnya terbatas pada kegiatan untuk menghindari diri dari kejenuhan kenyataan, jika bersifat laten dan tanpa kontrol tanpa disadari akan menjelma jadi tujuh "kemabukan'" (Sapta Timira) yang diciptakan oleh pikiran yang bebas, tanpa batas dan bersifat non material.
Tujuh Kemabukan yang disebabkan oleh kegelapan, sehingga " merasa paling" bukan yang sesungguhnya yang diproduksi oleh pikiran bukan karena pengetahuan, pemahaman dan kesadaran ; (1) Surupa atau Rupa, "merasa paling" rupawan, (2) Dhana atau Kekayaan/Harta "merasa paling" Kaya, (3)Guna atau Kecerdasan(Ilmu Pengetahuan) "merasa paling" cerdas, (4) Kulina atau Garis keturunan (Kasta) "merasa paling berkasta tinggi", (5) Yowana atau Masa Muda (Usia Muda) "merasa masih muda" , (6)Sura atau kemabukan (Lupa daratan/ambisi) "merasa paling hebat", (7) Kasuran atau Keberanian "merasa paling berani'.
Perasaan-perasaan ini dengan mudah bisa didapat, disebarkan, dan ditularkan melalui HP, tanpa perlu upaya untuk mencari tahu, mengetahui, memahami kemudian untuk menyadarinya. Untuk pengetahuan yang bersifat umum, mungkin kita bisa menjeneralisirnya, misalnya seorang remaja laki yang akil balik, ditandai dengan suaranya, yang perempuan ditandai dengan menstruasi, tetapi mahluk hidup tidak semudah itu untuk disimpulkan selalu ada pengecualian, spesifikasi, yang bersifat khusus. Ilmu pengetahuan mengajarkan manusia untuk melakukan observasi, peneliti dengan seksama, mencari perbandingan-perbandingan sebelum bisa menyimpulkan sementara.
Kini, HP telah banyak menggerus naluri seseorang manusia untuk belajar mengenali sesuatu dengan indria-indrianya, sehingga dengan mudah menyimpulkan. Maka jangan heran jika kita, banyak anak-anak kita, generasi muda Indonesia yang kehilangan naluri untuk hidup, untuk menjalani kehidupan, jangankan untuk bis menjaga, merawat, dan memelihara orang lain, orang tua, anak, binatang maupun pohon.
HP telah banyak mengambil kemanusiaan kita, menjadi tanpa naluri, yang pada akhirnya akan menjadi tanpa nurani, melampaui naluri keganasan para binatang untuk mempertahan hidup dan menjalankan kehidupan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole
BALI adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Denpasar. Bali juga merupakan salah satu pulau di Kepulauan Nusa Tenggara. Di awal kemerdekaan Indone...
Konsistensi dan ketekunan merupakan tantangan anak muda untuk terjun di industri animasi. Padahal konsistensi dan ketekunan merupakan modal terjun di industri animasi, sela...
“Kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada ke empat aspek: mempertahankan keasrian lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dika...
BULELENG punya satu potensi penting di bidang seni rupa. Yakni lukisan kaca. Di Buleleng, lukisan ini banyak ditemui di Desa Nagasepeha. Desa ini adalah pelopor di bidang l...
“Nanti, mudah-mudahan saya bisa kembali ke sini,” kataku sebelum meninggalkan Kampung Islam Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (30 September...
“Kuliah itu bukan tentang nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kuliah itu sebenarnya tentang pengalaman, orang-orang yang kalian temui, serta skill yang kalian dapatk...
TERDAPAT sejumlah hal-hal yang menakjubkan tentang Gunung Agung dalam lontar-lontar dan sejumlah naskah kuno Bali. Bagi yang tak paham baca lontar, hal-hal itu dijelaskan s...
RELAWAN pendidikan kini ditunggu di Desa Tembok, Tejakula, Buleleng. Di desa itu terdapat sekitar 7.178 pengungsi yang sebagian besar berasal dari lereng utara Gunung Agung...
KETIKA Gunung Agung masih berstatus waspada, lalu siaga, Putra bersama istri dan anaknya masih bisa tinggal dengan tenang di kampungnya di Karangasem, di wilayah Duda Utara...
“Kapan bidikmisi cair, ya?” ratap salah seorang mahasiswa yang hanya bergantung pada uang bantuan bidikmisi. “Sabar aja. Baru juga segini sudah ngeluh. Gak mungkin gak cai...