Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
TARI kontemporer Ma Samua yang dipentaskan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Minggu, 30 November 2025, sepertinya hendak mengukuhkan kembali bahwa seni tradisi dapat hidup dalam medium baru.
Karya ini digarap melalui gagasan tentang “gedung kecil berisi sepasang arca”—simbol titik temu, penyatuhan, dan energi kehendak dalam kisah Samuha. Garapan ini mencoba menghubungkan ritual ngelambuk baa, kisah Siwa Sampurna, serta narasi dari lontar Kusuma Dewa, dengan teknologi.
Tentu yang tampak kemduian di atas panggung adalah pementasan yang berhasil menyandingkan daya magis ritual dengan teknologi untuk menciptakan pengalaman artistik bernuansa magis-teknologis.

Tari kontemporer Ma Samua dipentaskan serangkaian perayaan tahun ke-5 Sastra Saraswati Sewana 2025 yang menghadirkan momentum penting bagi kemajuan kebudayaan Bali. Tari itu merupakan karya terpilih dalam kompetisi garapan kreatif yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud. Karya ini dipilih oleh tim juri berpengalaman: Prof. I Wayan Dibia, Prof. Komang Sudirga, Tjokorda Raka Kerthyasa, A.A. Ariawan, dan Made Sidia.
Tanzer Dance Company kemudian menjalani proses mentoring dan pendampingan intensif hingga karya siap dipentaskan, termasuk pembiayaan produksi sepenuhnya oleh yayasan.
“Kami tidak hanya mengajak berkompetisi, tetapi juga berbagi ilmu agar peserta tumbuh bersama,” ujar Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud yang juga pendiri acara Sastra Saraswati Sewana.
Ari Dwipayana menegaskan bahwa tari kontemporer Ma Samua ini bukan sekadar atraksi, melainkan pesan penting bahwa seni dan budaya Bali mampu bertransformasi tanpa tercerabut dari spiritualitasnya. “Ini ruang baru bagi ekosistem seni Bali, tempat tradisi bertemu inovasi kreatif," kata Ari.
Selain pementasan, perayaan tahun ke-5 Sastra Saraswati Sewana 2025 juga diisi peluncurkan buku Brahmasara Bhawana Mukti. Dua agenda ini menjadi penanda kuat bahwa Bali tengah menapaki jalan baru: memadukan akar tradisi dengan kecanggihan teknologi untuk peradaban masa depan. Agenda peluncuran buku dan pementasan seni inovatif dihadiri para undangan diantaranya Perwakilan Dirjen Bimas Hindu, PHDI Bali, para Sulinggih, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ketua Harian Majelis Kebudayaan Bali hingga para Penglingsir Puri se Bali.

Ari Dwipayana, menegaskan bahwa tema tahun ini—Brahmasara Bhawana Mukti: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban—lahir dari kesadaran bahwa dunia tengah bergerak cepat dalam pusaran revolusi teknologi. Dari mesin uap pada gelombang pertama yang mengagetkan Ronggowarsito, kini manusia menghadapi lompatan era 4.0: kecerdasan buatan, robotik, hingga realitas virtual yang merambah ruang privat terdalam.
“Kita tentu terkaget-kaget dengan pesatnya perkembangan ini. Namun sebagai orang Bali, kita harus eling lan waspada,” ujarnya. Ari Dwipayana mengingatkan pesan Prof. Ida Bagus Mantra bahwa orang Bali harus menjaga harga diri dan jati dirinya di tengah serbuan budaya teknologi dari luar.
“Teknologi jangan sampai mencabut kita dari akar. Justru harus menjadi kendaraan baru menuju bhawana mukti," ucapnya.
Buku Brahmasara Bhawana Mukti adalah hasil pergulatan pemikiran setahun penuh, melibatkan para Wiku dalam forum Dharma Panuntun serta dialog antara undagi, pande, sangging, arsitek, dan para penggiat teknologi modern. Benang merahnya satu: memastikan teknologi menjadi alat pemulia kebudayaan, bukan penghancurnya.

Lewat buku ini, Yayasan Puri Kauhan ingin mendorong generasi muda Bali untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan pencipta yang memanfaatkan teknologi demi kemajuan seni dan budaya. Sinergi antara pelestari budaya dan pelaku teknologi disebut menjadi kunci—antara undagi dan arsitek, pande dan startup, pengayah adat dan programmer.
Ari Dwipayana menekankan pentingnya membangun Ekosistem Teknologi Berbasis Kebudayaan, termasuk proyek besar digitalisasi dan dokumentasi budaya Bali dalam basis data terpadu. “Dari kita, oleh kita, untuk kita.” [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...