SETELAH merayakan Hari Suci Kuningan seluruh masyarakat Desa Adat Beringkit-Mengwi bersiap-siap untuk melaksanakan ritus penting yakni Nangluk Marana atau Ngunya Desa. Nangluk Marana atau di Desa Beringkit sering disebut ngunya desa merupakan jenis ritus yang sering dilakukan pada sasih/bulan tertentu yang diyakini sebagai waktu datangnya suatu wabah.
Biasanya ritus ini dilakukan pada sasih kanem, dan bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Oleh sebab itulah Desa Adat Beringkit melaksanakan kegiatan ini pada hari suci Kuningan yang bertepatan dengan hari kajeng kliwon. Ngunya desa dilakukan dengan mengiringi Ida Bhatara berupa tapakan menuju area persawahan dan batas-batas desa.
Menurut penuturan para tetua, selain untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat ritus ini lebih dimaksudkan untuk krama subak. Sebab dahulu ketika sasih kanem sangat banyak terdapat wabah yang menyerang lahan pertanian. Sehingga untuk meredam amarah para wereng (virus imaterial) masyarakat memohon kehadapan Ida Bhatara agar berkenan turun untuk memberikan anugrahnya melalui tirta.
Namun, masalah yang muncul saat ini adalah munculnya satu virus baru yang berwujud sekala (material) yakni sampah dan ketamakan. Saya sebagai pengayah telah mengikuti ritus ini dari kelas 2 SMA. Saat itu lahan pertanian di wilayah Beringkit masih cukup luas dan aktif. Namun kini setelah sekian tahun, secara perlahan perubahan tersebut sangat masif.
Saya masih teringat dahulu di wilayah Banjar Pengadangan-Beringkit, di sebelah utara Pura Dalem Lagaan, adalah sawah yang cukup luas. Namun saat ini sudah berdiri bangunan permanen yang katanya adalah “villa”. Kemudian di sebelah timur Pura Beji Beringkit, dahulunya adalah tegalan yang sepertinya ditanami pohon pisang, saat ini telah menjadi ruko/kios yang masih dalam tahap pengerjaan.
Kemudian di wilayah lainnya yang dahulu adalah persawahan kini beralih fungsi menjadi bangunan. Pertanyaannya, jika dahulu Nangkluk Marana dipusatkan atau diperuntukkan untuk subak, ketika lambat laun subak hilang, tentu wabah yang bersumber dari sawah akan hilang.
Ke mana upacara ini akan dilakukan? Bukankah pada teks lontar Rogha Sanghara Bhumi wabah dikatakan datang dari sawah? Kalau memang demikian sangat mungkin ritus nangluk marana sedikit demi sedikit akan ditinggalkan. Atau jika upacaranya tidak hilang, apakah akan menjadi formalitas belaka untuk sekedar wacana Tri Hita Karana?
Prosesi Nangluk Marana di Desa Adat Beringkit
Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh realita. Sedemikian banyaknya proses alih fungsi lahan dan mulai punanhnya kesadaran menjaga lingkungan. Saya sendiri bukan seorang petani, atau tuan tanah yang memiliki puluhan atau minimal 1 are tanah. Namun, walaupun tanah-tanah di Beringkit tidak milik saya secara administratif, rasa takut akan mimpi buruk itu selalu ada.
Terlebih saat ini, rute perjalanan Ngunya sudah diperpendek. Dahulu kami dapat menempuh perjalanan hingga 5 Km. Rute pertama dimulai dari Pura Desa menuju Temuku Aya, di sebelah barat Pura Dalem Beringkit. Disana beberapa krama Subak Batan Asem dan krama Banjar Kelod Kauh akan menghaturkan prani atau sesajen. Kemudian dari Temuku Aya berlanjut ke arah selatan menuju Banjar Gegadon-kini secara administrarif dan adat menjadi miliki Desa Kapal, namun secara pengairan Subak masih bernaung di bawah Subak Batan Asem Beringkit-disana krama yang menjadi bagian dari Subak akan menghaturkan sesajen.
Namun saat ini rute ke Banjar Gegadon dipotong, hanya sampai Temuku Aya. Sehingga dari Temuku Aya ke arah utara menuju Banjar Selat, dari Banjar Selat berlanjut ke arah Banjar Pengadangan di banjar Pengadangan inilah Ida Bhatara simpang (singgah) di beberapa pura. Pura yang menjadi titik sentral adalah Pura Penghulu sebagai pusat Subak di Beringkit. Dari Pura Penghulu lanjut ke arah barat menyusuri medan sawah yang cukup ekstrim menuju pura yang terletak di Banjar Dukuh Gong- Mengwitani. Di Pura ini para krama pengempon pura menghaturkan prani berupa buah-buahan serta labaan atau penyamleh (persembahan untuk makhluk bawahan) berupa satu ekor itik.
Prosesi menghaturkan labaan atau penyamleh
Dari Banjar Dukuh Gong berlanjut menuju pempatan agung (perempatan) kemudian ke arah utara Desa Beringkit tepat di depan Pasar Hewan Beringkit. Dari sini kemudian berlanjut ke arah Barat menuju perbatasan Beringkit-Mengwitani. Di setiap perbatasan inilah pemangku menghaturkan blabaran agung (sejenis sesajen untuk para makhluk bawahan). Ini adalah rute terakhir, kemudian dari arah barat ke arah timur menuju Pura Desa Beringkit. Sesampainya di jaba pura (area luar pura) sebelum memasuki utamaning mandala (halaman utama pura) kembali dihaturkan blabalaran penyamleh yang dilengkapi dengan satu ekor itik.
Rute tersebut jika dianalogikan, selain menghalau wabah, Ida Bhatara tengah melakukan pemantauan terhadap wilayah kekuasaannya. Sehingga secara ideal ketika seorang “bos besar” akan terjun langsung ke lapangan, sebagai “anak buah” seharusnya mempersiapkan segala yang akan di-crosschek. Jika setelah dipantau banyak adanya penyimpangan, kekotoran, perubahan negatif yang begitu masif mungkin kita akan dimarahi oleh “bos besar” itu.
Tapi apakah mungkin ketika “bos besar” kita adalah Ida Bhatara yang dikenal maha penyayang dan maha pemaaf akan memarahi kita? Tentu tidak. Atau pun ketika beliau marah atau bendu menurut penafsiran kita melalui bencana alam yang terjadi, dengan mudah kita dapat menghaturkan banten bendu piduka. Dengan begitu kita percaya beliau akan memaafkan semua kesalahan. Pertanyaannya semudah itukah, harmonisasi alam dapat dibeli?
Saya kira melalui ngunya setahun sekali dengan berjalan kaki 4 km ini kita semua hendaknya kembali bertanya pada diri sendiri, akankah prosesi ini tetap ada di tengah masifnya alih fungsi lahan? Atau jika lahan subak habis, apa mungkin ini hanya menjadi formalitas belaka untuk narasi pelemahan yang katanya hubungan harmonis manusia dengan alam? Saya kira kita semua wajib menjawab pertanyaan ini.[T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...