Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Sebelumnya di sebuah kafe, samar-samar saya mendengar lagu reggae akustik diputar di sound system. Beberapa hari terakhir, seorang teman juga mengirimi saya lagu-lagu bergenre serupa, dan ketika menelusuri kanal-kanal YouTube bermoto “Babylon”, seperti “Burn Down Babylon”, “Let Babylon Burn”, atau “Babylon Still Cry”, saya mendapati unggahan terbaru mereka didominasi reggae akustik. Statistik pencariannya meningkat, dan kebanyakan tampaknya karya para musisi indie. Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada pergeseran selera masyarakat menuju musik yang lebih santai dan menenangkan ini?
Reggae tentu bukan hal baru. Musik yang berakar dari Jamaika ini sudah mendunia sejak tahun 1960-an, bersama nama-nama besar seperti Bob Marley, Delroy Wilson, Gregory Isaacs, dan Jimmy Cliff. Kita juga mengenal falsafah dan semangat gerakannya: Rastafari, kesadaran Babilon, serta nilai kebebasan, cinta, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Namun yang kini tumbuh bukan reggae tradisional, melainkan reggae dengan napas baru, reggae akustik indie, yang pelan-pelan merembes ke tengah masyarakat yang akrab dengan Synth-pop, Electropop, Indie Pop, hingga Dance Pop dengan penyanyi-penyanyi tenar seperti Bruno Mars, Billie Eilish, Gigi Perez, atau Sam Smith.
Tentu dugaan saya ini masih sepintas dan subjektif. Jika memang ada fenomena pergeseran selera, riset lebih mendalam diperlukan untuk mengonfirmasinya.
Tadi malam saya mencoba mendengarkan beberapa lagu reggae akustik itu secara lebih dekat, salah satunya “Close the Door After Me”. Segera saya menyadari bahwa para pengusung genre ini memproduksi reggae dengan pendekatan baru: lebih menenangkan, tenteram, dan alami. Balutannya akustik, ringan, jernih, sementara ritme skank hadir halus di latar sebagai harmoni lembut. Vokalnya dibuat lebih pop, dengan lirik indah yang menyentuh sisi romantis kita. Namun dalam nuansa “Babilon”-nya, kita tetap bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam bahwa setiap melodi membawa jeritan hati, menceritakan harapan, kesedihan, dan gema jiwa yang tersesat yang mencari cahaya dalam kegelapan. Dalam nada syahdu dan kata-kata yang berurai air mata, spirit Rastafari itu tetap bergetar:
My voice will fade, but please believe I’m not in pain, I’m finally free /
You’ll find my smile in quiet rain… /
I’ve crossed the river calm and deep /
With souls like ours.
Sepintas, ini terdengar seperti lirik cinta yang melankolis. Namun dalam bingkai Rastafari, lirik ini membawa energi berbeda, bukan sekadar kerinduan personal, melainkan bisikan tentang ketabahan, pembebasan, dan perlawanan terhadap kesempitan hidup yang dilambangkan oleh Babilon.
Don’t cry too long when I am gone… /
But even stars must fade from view… /
When you grow old and dreams grow thin /
I’ll meet you where the skies begin… /
So dry your tears.
Dengarlah lirik ini dengan kesadaran Rastafari, dan kita akan merasakan getar lain dalam hati: bukan tentang patah hati karena cinta, melainkan himne keikhlasan, keberanian, dan daya tahan manusia, seperti ketika kita mendengarkan Melati di Tapal Batas, Sapu Tangan dari Bandung Selatan, atau Sepasang Mata Bola. Lagu-lagu yang bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang jiwa yang diuji oleh kehidupan. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....