Judul: Anak-anak Luka di Dunia Maya -- Sekumpulan Puisi
Penerbit: PT Tatkala Sekala Media
Penulis: Yahya Umar
ISBN: Masih dalam proses
Tebal: viii + 113 halaman
Cetakan Pertama: Desember 2025
Pemesanan: WA 0851 2438 6244 [Anima tokobuku]
Alam, Cinta dan Luka Digitalisasi
Digitalisasi di berbagai sudut kehidupan tak selalu atau tak selamanya membahagiakan, apalagi menguntungkan. Banyak sudut kehidupan yang lain justru terancam oleh gelombang digitalisasi. Para orangtua merasa khawatir dengan masa depan anak-anaknya yang mabuk dunia digital. Jiwa, mental dan sisi-sisi manusiawi anak-anak tak terbangun sempurna. Akibatnya, gemuruh caci maki menebar benci di pelosok tubuh negeri.
Puisi-puisi tentang dampak digitalisasi menjadi tema utama pada buku ini. Selebihnya ada juga puisi-puisi yang menyenggol perilaku politisi, tidak saja akan mengancam demokrasi, tetapi juga bahkan bisa meruntuhkan negeri ini.
Romantisme keindahan alam, keindahan cinta juga memperkaya isi buku ini. Dua hal yang sebenarnya klise dan seharusnya masuk kotak dalam kamus sastrawan, namun tetap ada sisi-sisi yang tetap indah dan memunculkan bahagia ketika menikmati puisi-puisi genre ini.
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...