Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua
Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampu...
Dari semua lagu Genesis, "Stagnation" adalah favorit saya, dan saya masih mendengarkannya hingga kini. Melodi dan harmoninya yang kompleks mengalun dengan khidmat dalam gelombang sonik yang indah, puitis, dan misterius, mudah menyentuh imajinasi terdalam. Itu bukan sekadar suara yang menggema di telinga, melainkan serangkaian getaran ritmis yang menyusup masuk ke jiwa.
“Stagnation” berada di side B album Trespass (1970), album terakhir Genesis dengan Anthony Phillips sebagai gitaris dan John Mayhew sebagai drummer sebelum keduanya digantikan oleh Steve Hackett dan Phil Collins.
Lagu ini sering dianggap sebagai benih awal gaya prog-rock Genesis, sebuah “cetak biru” yang kelak melahirkan mahakarya-mahakarya mereka berikutnya.
Catatan para penggemar lama menunjukkan betapa tingginya penghargaan terhadap “Stagnation”. Banyak yang menganggapnya sebagai lompatan kreatif penting, representasi awal dari pengaruh folk, dari gaya vokal Peter Gabriel yang dramatis, sekaligus ladang inspirasi bagi perkembangan identitas prog-rock Genesis yang khas.
Bagi saya, pengalaman mendengarkan “Stagnation” lebih mirip menyimak sebuah puisi yang hidup daripada sekadar menikmati lagu dari sisi teknis musik. Ia seperti pengalaman batin yang bercerita secara abstrak dengan bahasa luas yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Sejak denting intro pertama melalui petikan gitar lembut, imajinasi kita seperti diajak menyaksikan sebuah “titik beku” yang perlahan meleleh. Dan benar, “Stagnation” kemudian mencair dalam crescendo ritme yang perlahan membangun, berpadu dengan gema vokal Peter Gabriel yang tampak berkilau lembut dari kejauhan.
Blest are they who smile from bodies free /
Seems to me like any other crowd /
Who are waiting to be saved…
Lagu ini bergerak dalam harmoni yang kaya, penuh tikungan dan kejutan indah, dihiasi aneka warna bunyi-bunyian yang matang namun tenteram. Semua itu dipandu oleh frasa-frasa yang melahirkan suasana sunyi dan samar-surealis: langit merah, kehadiran “seseorang” yang memiliki “mata yang mendengarkan”.
Liriknya indah, sangat indah. Seperti puisi yang menolak membuka diri sepenuhnya, membiarkan keindahannya bergaung samar di balik kata dan kalimat. Keindahan murni yang tak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika, tetapi justru memikat perasaan. Tentu, lirik ini bebas ditafsirkan, meski kalimat objektif apa pun pasti akan membatasi keluasan maknanya.
Bagi saya, “Stagnation” terasa seperti rangkaian kisah dari sudut pandang seorang bayi dalam kandungan, yang sebentar lagi akan lahir ke dunia fana ini. Ada suasana spiritual di sana, keterasingan, kegelisahan, dan sekaligus dorongan pembebasan.
And will I wait forever, beside the silent mirror /
To take all the dust and the dirt from my throat /
I want a drink /
To wash out the filth that is deep in my guts…
Lirik yang ditulis Peter Gabriel memberi getaran “mistis” yang kuat pada lagu. Seperti hidup itu sendiri, sesuatu yang misterius kadang datang seperti takdir yang membeku, kita “menunggu untuk diselamatkan”, kita mendamba “pembebasan”, kita mencari “kedamaian”. Semua itu dapat dibaca sebagai pencarian kesadaran yang bangkit untuk menemukan makna hidup.
Hingga Peter Gabriel tiba di puncak pencarian, dan seperti bayi yang mulai memahami tujuan kelahirannya, ia pun berteriak lantang, "Then let us drink/ Then let us smile/ Then let us go".
Tentu saja tidak mudah menginterpretasikan lagu ini. Saat menulis catatan ringan ini, saya bahkan butuh banyak jeda untuk merenungkan setiap kalimat, layaknya menulis puisi. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampu...
DI era ketika musik dapat diputar kapan saja melalui aplikasi streaming yang menyediakan jutaan lagu dalam satu genggaman, keberadaan rilisan fisik tampak seperti peninggalan masa...
ADA sebuah foto yang akhir-akhir ini beredar di media nasional, dan sejak pertama kali saya melihatnya, ia menetap begitu saja di kepala saya—bukan sebagai gambar bencana, tetapi...
BANJIR dahsyat yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali mengingatkan kita pada satu hal yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan: bahwa bencana bukan...
AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui im...
Pagi ini saya ingin kembali mendengarkan musik yang bukan sekadar lagu, melainkan sebuah perjalanan batin: Neverland karya Marillion. Neverland, salah satu lagu epik terbaik Ma...
PIDATO Presiden Prabowo Subianto pada Hari Guru Nasional 2025 mengumandangkan sebuah imajinasi besar, yaitu digitalisasi sebagai solusi utama bagi seluruh persoalan pendidikan. Ad...
SEPERTI biasa, hari-hari ini lini masa kembali menunjukkan pesonanya: mengubah hal yang seharusnya selesai dalam hitungan menit tapi menjadi drama berbabak-babak tak ada ujungnya...
DESA Adat Kintamani merupakan salah satu desa Bali Kuna yang masih mempertahankan “keasliannya” hingga saat ini. Kebudayaan yang dimiliki Desa Bali Kuna dicirikan dari sistem peme...
BILA kita berjalan santai di Denpasar, Ubud, Canggu, Sanur, atau kawasan lain di Bali, pemandangan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak orang Bali kini hidup dalam kondisi yang re...