Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
Dari semua lagu Genesis, "Stagnation" adalah favorit saya, dan saya masih mendengarkannya hingga kini. Melodi dan harmoninya yang kompleks mengalun dengan khidmat dalam gelombang sonik yang indah, puitis, dan misterius, mudah menyentuh imajinasi terdalam. Itu bukan sekadar suara yang menggema di telinga, melainkan serangkaian getaran ritmis yang menyusup masuk ke jiwa.
“Stagnation” berada di side B album Trespass (1970), album terakhir Genesis dengan Anthony Phillips sebagai gitaris dan John Mayhew sebagai drummer sebelum keduanya digantikan oleh Steve Hackett dan Phil Collins.
Lagu ini sering dianggap sebagai benih awal gaya prog-rock Genesis, sebuah “cetak biru” yang kelak melahirkan mahakarya-mahakarya mereka berikutnya.
Catatan para penggemar lama menunjukkan betapa tingginya penghargaan terhadap “Stagnation”. Banyak yang menganggapnya sebagai lompatan kreatif penting, representasi awal dari pengaruh folk, dari gaya vokal Peter Gabriel yang dramatis, sekaligus ladang inspirasi bagi perkembangan identitas prog-rock Genesis yang khas.
Bagi saya, pengalaman mendengarkan “Stagnation” lebih mirip menyimak sebuah puisi yang hidup daripada sekadar menikmati lagu dari sisi teknis musik. Ia seperti pengalaman batin yang bercerita secara abstrak dengan bahasa luas yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Sejak denting intro pertama melalui petikan gitar lembut, imajinasi kita seperti diajak menyaksikan sebuah “titik beku” yang perlahan meleleh. Dan benar, “Stagnation” kemudian mencair dalam crescendo ritme yang perlahan membangun, berpadu dengan gema vokal Peter Gabriel yang tampak berkilau lembut dari kejauhan.
Blest are they who smile from bodies free /
Seems to me like any other crowd /
Who are waiting to be saved…
Lagu ini bergerak dalam harmoni yang kaya, penuh tikungan dan kejutan indah, dihiasi aneka warna bunyi-bunyian yang matang namun tenteram. Semua itu dipandu oleh frasa-frasa yang melahirkan suasana sunyi dan samar-surealis: langit merah, kehadiran “seseorang” yang memiliki “mata yang mendengarkan”.
Liriknya indah, sangat indah. Seperti puisi yang menolak membuka diri sepenuhnya, membiarkan keindahannya bergaung samar di balik kata dan kalimat. Keindahan murni yang tak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika, tetapi justru memikat perasaan. Tentu, lirik ini bebas ditafsirkan, meski kalimat objektif apa pun pasti akan membatasi keluasan maknanya.
Bagi saya, “Stagnation” terasa seperti rangkaian kisah dari sudut pandang seorang bayi dalam kandungan, yang sebentar lagi akan lahir ke dunia fana ini. Ada suasana spiritual di sana, keterasingan, kegelisahan, dan sekaligus dorongan pembebasan.
And will I wait forever, beside the silent mirror /
To take all the dust and the dirt from my throat /
I want a drink /
To wash out the filth that is deep in my guts…
Lirik yang ditulis Peter Gabriel memberi getaran “mistis” yang kuat pada lagu. Seperti hidup itu sendiri, sesuatu yang misterius kadang datang seperti takdir yang membeku, kita “menunggu untuk diselamatkan”, kita mendamba “pembebasan”, kita mencari “kedamaian”. Semua itu dapat dibaca sebagai pencarian kesadaran yang bangkit untuk menemukan makna hidup.
Hingga Peter Gabriel tiba di puncak pencarian, dan seperti bayi yang mulai memahami tujuan kelahirannya, ia pun berteriak lantang, "Then let us drink/ Then let us smile/ Then let us go".
Tentu saja tidak mudah menginterpretasikan lagu ini. Saat menulis catatan ringan ini, saya bahkan butuh banyak jeda untuk merenungkan setiap kalimat, layaknya menulis puisi. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...