Gebug Light-Bala Samar: Keberanian Keluar Dari Ikatan Tradisi
KOMUNITAS Seni Dewari Swari dan Sekar dari Banjar Mijil, Sidemen-Karangasem, bisa disebut sebagai komunitas seni yang punya keberanian untuk mencoba keluar dari ikatan-ikat...
Dari semua lagu Genesis, "Stagnation" adalah favorit saya, dan saya masih mendengarkannya hingga kini. Melodi dan harmoninya yang kompleks mengalun dengan khidmat dalam gelombang sonik yang indah, puitis, dan misterius, mudah menyentuh imajinasi terdalam. Itu bukan sekadar suara yang menggema di telinga, melainkan serangkaian getaran ritmis yang menyusup masuk ke jiwa.
“Stagnation” berada di side B album Trespass (1970), album terakhir Genesis dengan Anthony Phillips sebagai gitaris dan John Mayhew sebagai drummer sebelum keduanya digantikan oleh Steve Hackett dan Phil Collins.
Lagu ini sering dianggap sebagai benih awal gaya prog-rock Genesis, sebuah “cetak biru” yang kelak melahirkan mahakarya-mahakarya mereka berikutnya.
Catatan para penggemar lama menunjukkan betapa tingginya penghargaan terhadap “Stagnation”. Banyak yang menganggapnya sebagai lompatan kreatif penting, representasi awal dari pengaruh folk, dari gaya vokal Peter Gabriel yang dramatis, sekaligus ladang inspirasi bagi perkembangan identitas prog-rock Genesis yang khas.
Bagi saya, pengalaman mendengarkan “Stagnation” lebih mirip menyimak sebuah puisi yang hidup daripada sekadar menikmati lagu dari sisi teknis musik. Ia seperti pengalaman batin yang bercerita secara abstrak dengan bahasa luas yang hanya bisa dipahami oleh hati.
Sejak denting intro pertama melalui petikan gitar lembut, imajinasi kita seperti diajak menyaksikan sebuah “titik beku” yang perlahan meleleh. Dan benar, “Stagnation” kemudian mencair dalam crescendo ritme yang perlahan membangun, berpadu dengan gema vokal Peter Gabriel yang tampak berkilau lembut dari kejauhan.
Blest are they who smile from bodies free /
Seems to me like any other crowd /
Who are waiting to be saved…
Lagu ini bergerak dalam harmoni yang kaya, penuh tikungan dan kejutan indah, dihiasi aneka warna bunyi-bunyian yang matang namun tenteram. Semua itu dipandu oleh frasa-frasa yang melahirkan suasana sunyi dan samar-surealis: langit merah, kehadiran “seseorang” yang memiliki “mata yang mendengarkan”.
Liriknya indah, sangat indah. Seperti puisi yang menolak membuka diri sepenuhnya, membiarkan keindahannya bergaung samar di balik kata dan kalimat. Keindahan murni yang tak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika, tetapi justru memikat perasaan. Tentu, lirik ini bebas ditafsirkan, meski kalimat objektif apa pun pasti akan membatasi keluasan maknanya.
Bagi saya, “Stagnation” terasa seperti rangkaian kisah dari sudut pandang seorang bayi dalam kandungan, yang sebentar lagi akan lahir ke dunia fana ini. Ada suasana spiritual di sana, keterasingan, kegelisahan, dan sekaligus dorongan pembebasan.
And will I wait forever, beside the silent mirror /
To take all the dust and the dirt from my throat /
I want a drink /
To wash out the filth that is deep in my guts…
Lirik yang ditulis Peter Gabriel memberi getaran “mistis” yang kuat pada lagu. Seperti hidup itu sendiri, sesuatu yang misterius kadang datang seperti takdir yang membeku, kita “menunggu untuk diselamatkan”, kita mendamba “pembebasan”, kita mencari “kedamaian”. Semua itu dapat dibaca sebagai pencarian kesadaran yang bangkit untuk menemukan makna hidup.
Hingga Peter Gabriel tiba di puncak pencarian, dan seperti bayi yang mulai memahami tujuan kelahirannya, ia pun berteriak lantang, "Then let us drink/ Then let us smile/ Then let us go".
Tentu saja tidak mudah menginterpretasikan lagu ini. Saat menulis catatan ringan ini, saya bahkan butuh banyak jeda untuk merenungkan setiap kalimat, layaknya menulis puisi. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
KOMUNITAS Seni Dewari Swari dan Sekar dari Banjar Mijil, Sidemen-Karangasem, bisa disebut sebagai komunitas seni yang punya keberanian untuk mencoba keluar dari ikatan-ikat...
SIAPA yang tak kenal L.G Saraswati Puteri. Ia kini terkenal dengan nama Saras Dewi. Ia sosok penyanyi, sastrawan, juga dosen ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Tak han...
Judul buku: Wahyu Pembebasan; Relasi Buruh-Majikan Penulis: Umnia Labibah Penerbit: Pustaka Alief ISBN: 979-97184-1-4 Pengantar: Prof. Dr. H.M. Amin Masykur., MA....
Cerpen: Agus Wiratama SENJA menjalarkan semburat cahayanya sepanjang mata menjaring warna. Terlihat tiga orang sedang berjalan dengan mesra sambil berpegangan tangan meningg...
BENTUKAN kata nyastra dalam bahasa Bali adalah hal yang sungguh menarik. Lihatlah kata nyaluk, berasal dari kata saluk (pakai). Nyaluk baju artinya memakai baju. Nyampat be...
BANYAK kelompok seni tradisional, semacam sanggar dan komunitas tari dan karawitan, tak punya upaya serius menciptakan sekaligus mentradisikan garapan-garapan seni baru. Me...
SEMAKIN banyak warga yang ditangkap dan diproses hukum dengan tuduhan penghinaan terhadap presiden. Suara mendukung tindakan pemerintah dan yang mengkritisi juga bersahut-s...
KELABU Di lorong masa lalu Ia menjelma abu Hilang dan kelabu Menjadi waktu Menjadi waktu adalah menu makan malam kegemarannya Kelabu adalah warna tubuhnya di siang hari Menjelma...
JANGAN dibantah. Kini Pantai Penimbangan jadi objek wisata paling heboh di kawasan kota Singaraja. Bahkan bisa dikata lebih heboh dari odong-odong yang diserbu anak-anak di...
BAGAIMANA jika seniman tato jatuh cinta kepada seorang perempuan yang ditatonya? Ya, biasa-biasa saja. Sama dengan dokter jatuh cinta pada pasiennya, pelukis pada model yan...