“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Di TikTok, status PPPK dan PNS sudah seperti kasta sosial baru. Padahal di duni nyata, keringat mereka itu sama, Cuma labelnya aja yang sedikit berbeda.
Karena saya orangnya suka scroll layar ponsel, jadi belakangan ini, lini masa TikTok atau bahasa gaulnya fyp-ku ramai sekali dengan perdebatan sosial isu PPPK yang katanya akan dialihkan menjadi PNS. Sekilas menyimak komentarnya sangat panas, lebih panas dari wajan gorengan ayam geprek di kantin sekolah jam istirahat kedua. Satu pihak merasa PNS harusnya tetap eksklusif, pihak lain merasa PPPK juga layak mendapat pengakuan setara.
Kolom komentar? Penuh bak arena pertandingan sepak bola piala dunia. Ada yang bilang, “PPPK itu Cuma tenaga kontrak yang kebetulan diseragamkan.” Ada pula yang menulis, “Kalau mau PNS ya dari dulu belajar yang rajin, jangan numpang ASN-an.” Membaca komentar netizen membuat saya sambil tepuk jidat. Kadang Cuma bisa berkata dalam hati, amsyooong. Orang-orang ini tahu apa tidak sih perjuangan di balik seragam PPPK itu seperti apa?
Saya tidak tahu bagaimana kisah orang lain, tapi saya tahu pasti satu hal baik: tidak semua PPPK itu datang dari jalan pintas atau hasil dari “selundupan atau siluman”. Saya sendiri sampai di titik ini bukan karena titipan, tapi karena perjalanan panjang yang, kalau difilm-kan, mungkin sudah masuk kategori “drama Indosiar”.
Saya mulai kuliah tahun 2016, di Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Harusnya lulus tahun 2020. Tapi, ya, pandemi COVID-19 travelling dan semua rencana bubar jalan. Padahal, saya termasuk mahasiswa tercepat di angkatan saya dalam menyusun proposal. Bahakan, di semester lima, saya sempat ikut program pertukaran mahasiswa se-Asia Tenggara. Dari seluruh fakultas olahraga, hanya saya satu-satunya yang ikut program ini. Dan belajar di Thailand selama sebulan. Saat teman-teman sibuk PPL di semester tujuh, saya justru sudah selesai karena lebih dulu melakukannya.
Tapi, ketika pandemi datang, semua kerja keras seolah mentok di dinding. Sekolah tutup, kegiatan daring, dan saya yang bercita-cita jadi guru tiba-tiba banget kehilangan panggung. Akhirnya saya terpaksa banting setir, kerja apa saja yang penting halal. Dunia finance pernah saya cicipi, perbankan juga sempat saya lakoni, dan membantu teman berjualan bubur kacang ijo pernah saya trabas.
Sampai akhirnya, tahun 2023, kabar baik datang: pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Saya daftar, ikut seleksi, dan Alhamdulillah lolos. Tapi perjuangan di situ baru mulai
Ketika itu saya habis resign dari kerja di perbankan dan mendaftar di sekolah swasta. Bersamaan dengan itu saya kuliah PPG di Universitas Negeri Surabaya tapi masih ngajar di sekolah swasta di Rembang, Jawa Tengah. Bayangkan, setiap Jumat sore saya pulang ke Tuban, Jawa Timur, ini kota kelahiran dan tempat tinggal saya, dan Sabtu-Minggu ke Rembang untuk ngajar, lalu Minggu sore balik ke Surabaya. Begitu terus selama satu tahun penuh, dari September 2023 sampai September 2024.
Liburnya kapan? Hanya ketika tanggal merah nasional. Kalau tidak, ya rutinitas itu terus berulang. Bahkan hujan panas saya terjang, terkadang sesekali saya menangis di perjalanan sambil menyetir motor, dan berdoa dalam hati semoga kelak perjuanganku ini membuahkan hasil. Saya bahkan sempat berpikir, kalau tubuh ini bisa protes, mungkin dia teriak, “Mas aku butuh rebahan, plis!”.
Setelah lulus PPG, saya diterima di sekolah swasta di Surabaya. Tapi karena sekolah di Rembang itu sistemnya boarding, saya masih tetap ngajar di sana tiap Minggu. Jadi Senin sampai Sabtu saya ngajar di Surabaya, Minggu ngajar di Rembang. Rumah saya di Tuban. Total tiga kota saya lakoni setiap minggu selama kurang lebih dua tahun. Dan akhirnya, Oktober 2025, saya resmi jadi ASN PPPK. Rasanya campur aduk antara lega, haru, dan rasa ingin tidur tiga hari tiga malam tanpa gangguan. Tapi ketika saya buka TikTok, eh, muncul lagi debat soal PPPK dan PNS. Ada yang menulis “PPPK itu ASN rasa kontrak”, ada yang nyinyir “ASN abal-abal”. Di situ saya cuma bisa geleng kepala dan bergumam pelan, “Amsyooong, orang kok suka sekali merendahkan yang tidak mereka pahami.”
Padahal, di balik status PPPK itu, ada banyak kisah perjuangan. Ada yang bertahun-tahun jadi guru honorer dengan gaji tak sampai seperempat UMR. Ada yang rela meninggalkan keluarga demi mengajar di pelosok. Dan ada juga seperti saya yang tidak punya hari libur demi menempuh PPG sambil mengajar.
Saya tidak menuntut disamakan dengan PNS. Tapi rasanya sedih melihat sesama ASN saling sindir, saling menjatuhkan, seolah sedang lomba siapa yang lebih layak disebut “abdi negara sejati.” Padahal, bukankah tujuan akhirnya sama? Sama-sama mengabdi untuk negeri, sama-sama mendidik anak bangsa.
Bagi saya, PPPK bukan status rendah. Ia adalah symbol perjuangan. Sebuah tanda bahwa tidak semua orang yang tidak jadi PNS itu kalah. Kami hanya menempuh jalur berbeda, tapi tetap dengan niat dan dedikasi yang sama.
Jadi, buat yang masih sibuk berdebat di kolom komentar TikTok, mungkin ada baiknya jeda sebentar. Hirup udara, matikan ponsel, dan pikirkan: di balik seragam PPPK itu, ada keringat, waktu, dan pengorbanan yang tidak sempat viral.
Karena pada akhirnya, ASN sejati tidak diukur dari status, tapi dari seberapa tulus ia bekerja. Dan kalau keikhlasan masih harus disetarakan lewat golongan, ya sudah…
Amsyoong saja logika kita. [T]
Penulis: Mochamad Rifa’i
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...