Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
LAGU "Bright Eyes" yang dibawakan Art Garfunkel pada 1978 itu terlalu berkesan untuk dilupakan. Bagi sebagian orang, lagu ini mungkin terdengar manis dan emosional; bagi yang lain, ia menyentuh wilayah spiritual, tempat kematian dipandang sebagai transisi senja yang perlahan memudar menuju malam.
Lagu ini membawa kelembutan yang khas, bahkan sejak sentuhan pertama intronya yang membangkitkan nuansa misteri. Aransemen orkestra di balik vokal Garfunkel, suara “malaikat” yang dikenal itu, menciptakan atmosfer yang menghantui, seakan mengisolasi dirinya dalam lorong-lorong senyap di antara nada-nada.
Dengarkanlah bagaimana intro akustik berpadu dengan string, brass, dan flute. Semuanya mengalir seperti cahaya senja yang melamun di atas sungai: meredup, turun perlahan, dan tak seorang pun tahu ke mana hari pergi.
Is it a kind of a dream?
Floating out on the tide
Following the river of death downstream…
Kita tentu sudah akrab dengan suara Garfunkel dari kolaborasinya bersama Paul Simon dalam “Bridge Over Troubled Water,” “Mrs. Robinson,” “Scarborough Fair,” hingga “The Sound of Silence.” Namun dalam “Bright Eyes,” suaranya terasa semakin jernih dan tenang, menawarkan sebuah himne yang mengharukan, tanpa menghilangkan nuansa pop lembutnya. Mendengarnya seperti mengikuti sebuah lagu pengantar tidur yang menelusuri arus kematian.
Lagu ini digubah Mike Batt untuk film animasi Watership Down, mengiringi adegan ketika Hazel, sang tokoh utama, berada di antara hidup dan mati. Karena itu liriknya tak bisa dilepaskan dari tema kefanaan, kesedihan, dan ketidakpastian spiritual.
Bright eyes, how can you close and fail?
Suddenly burn so pale?
Citra utama lagu ini adalah cahaya yang memudar dari mata seseorang, lambang dari nyawa yang pergi. Dari sinilah interpretasi tentang kematian, kehilangan, dan renungan eksistensial sering bermula. Mata yang dulu penuh gairah tiba-tiba menjadi pucat: kehidupan meredup, menyisakan misteri yang fana.
Namun, lagu ini juga dapat dimaknai dengan lebih tenang. Nada-nadanya dapat dibayangkan sebagai momen puitis di penghujung hari, ketika matahari perlahan memudar dan berubah menjadi warna-warna magis. Senja menjadi semacam “ambang” antara terang dan gelap, hidup dan mati—sebuah lanskap yang memancing perenungan tentang siklus kehidupan itu sendiri.
Is it a kind of a shadow?
Reaching into the night
Wandering over the hills unseen
Or is it a dream?
Kematian, betapa pun gelapnya, tetap menjadi bagian dari imajinasi spiritual kita. Tak selalu dapat dijelaskan, sebagaimana tersirat dalam lagu ini: seperti suara dingin di udara, tak seorang pun tahu kapan kau pergi, dan dari mana kau memulai perjalanan itu. Oh, ke dalam kegelapan. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...