Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
LAGU "Bright Eyes" yang dibawakan Art Garfunkel pada 1978 itu terlalu berkesan untuk dilupakan. Bagi sebagian orang, lagu ini mungkin terdengar manis dan emosional; bagi yang lain, ia menyentuh wilayah spiritual, tempat kematian dipandang sebagai transisi senja yang perlahan memudar menuju malam.
Lagu ini membawa kelembutan yang khas, bahkan sejak sentuhan pertama intronya yang membangkitkan nuansa misteri. Aransemen orkestra di balik vokal Garfunkel, suara “malaikat” yang dikenal itu, menciptakan atmosfer yang menghantui, seakan mengisolasi dirinya dalam lorong-lorong senyap di antara nada-nada.
Dengarkanlah bagaimana intro akustik berpadu dengan string, brass, dan flute. Semuanya mengalir seperti cahaya senja yang melamun di atas sungai: meredup, turun perlahan, dan tak seorang pun tahu ke mana hari pergi.
Is it a kind of a dream?
Floating out on the tide
Following the river of death downstream…
Kita tentu sudah akrab dengan suara Garfunkel dari kolaborasinya bersama Paul Simon dalam “Bridge Over Troubled Water,” “Mrs. Robinson,” “Scarborough Fair,” hingga “The Sound of Silence.” Namun dalam “Bright Eyes,” suaranya terasa semakin jernih dan tenang, menawarkan sebuah himne yang mengharukan, tanpa menghilangkan nuansa pop lembutnya. Mendengarnya seperti mengikuti sebuah lagu pengantar tidur yang menelusuri arus kematian.
Lagu ini digubah Mike Batt untuk film animasi Watership Down, mengiringi adegan ketika Hazel, sang tokoh utama, berada di antara hidup dan mati. Karena itu liriknya tak bisa dilepaskan dari tema kefanaan, kesedihan, dan ketidakpastian spiritual.
Bright eyes, how can you close and fail?
Suddenly burn so pale?
Citra utama lagu ini adalah cahaya yang memudar dari mata seseorang, lambang dari nyawa yang pergi. Dari sinilah interpretasi tentang kematian, kehilangan, dan renungan eksistensial sering bermula. Mata yang dulu penuh gairah tiba-tiba menjadi pucat: kehidupan meredup, menyisakan misteri yang fana.
Namun, lagu ini juga dapat dimaknai dengan lebih tenang. Nada-nadanya dapat dibayangkan sebagai momen puitis di penghujung hari, ketika matahari perlahan memudar dan berubah menjadi warna-warna magis. Senja menjadi semacam “ambang” antara terang dan gelap, hidup dan mati—sebuah lanskap yang memancing perenungan tentang siklus kehidupan itu sendiri.
Is it a kind of a shadow?
Reaching into the night
Wandering over the hills unseen
Or is it a dream?
Kematian, betapa pun gelapnya, tetap menjadi bagian dari imajinasi spiritual kita. Tak selalu dapat dijelaskan, sebagaimana tersirat dalam lagu ini: seperti suara dingin di udara, tak seorang pun tahu kapan kau pergi, dan dari mana kau memulai perjalanan itu. Oh, ke dalam kegelapan. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...