Puisi-puisi Karst Mawardi | Apologi

Karst Mawardi
by Karst Mawardi — November 22, 2025 in Puisi

Tatkala.co

APOLOGI

lewat analogi: kenapa tidak?
eufemisme mengamplas ide
sebelum melabelinya “fakta”
paham komoditas dipersuasi

tetapi, mari lupakan sejenak
kita tak (lagi) perlu berniaga
di hadapan laut berbadai ini
setiap kapal urung bergerak

memperkarakan gelas retak
atau air yang tak terbendung
apa perlunya melampiaskan
jika bantingan ialah nonsens

sama halnya radiasi matahari
tak mungkin dianulir payung
kecuali kau di bawah bayang
yang sengaja kaubentangkan

EDUKASI

posesif “kita” pada yang belum ada
empat-lima buku menjadi panduan
gaji kecil tak menjamin playground
tapi laporan neraca menuntut revisi

prototype negara abad mendatang
cuma sebutir item dalam proposal
realisasi tinggal tuas putus lengan
beban stagnan tak tersentuh kuasa

biji-biji sempoa terhimpit regresi
globe terjungkal dari penyangga
cakrawala tersekat dinding kelas
dan torso statis sebagai figuran
 

UNIT

keterbagian pada prosedur ini
dilakukan atas nama kesatuan
& terdistribusinya otoritarian
Parmenides, apa pendapatmu?

KONSENTRIS

dikotomi pada tiap desain
sundial, klepsidra, analog
diselesaikan suatu konsep
pusat sebagai determinan

mengasumsikan “menjadi”
mungkin aquifer atap gua
poros jatuh setiap tetesan
mengerucut sebagai pilar

lebih dinamis dari adhesi
sentripetal dalam adukan
melarutkan biru & kuning
jadi sehijau jarum konifer

Zeno, mari representasikan
paradox dari langkah kaki
sebagai persegi 1/2, 1/4, 1/8, …
disusun secara melingkar

lalu ajukan pada Fibonacci
spiral begini tak lain invers
bahwa segala hal expansif
tentu kembali kepada Satu
 

PUZZLE BANACH-TARSKI

entitas ini kembar identik
tapi bukan self-similiarity
bakal "mereka" dari 1 dia
profase minus metafase

operasi bagi pembelahan
melampaui skalar-vektor
kartografi dari irisan bola
hegemoni atas hal diskrit

struktur statis nirvolume
selalu dalam tanda kutip
berlakukah simetri ketika
materi sekedar pantulan?

membayangkan perluasan
duplikat ganda dari dermis
serta epidermis preseden
ada: ia gol di gawang idea
 

PRAKTIK

seleksi terjalin erat dengan reduksi
bukan hipotesis—ini sudah hukum
maka gading dicoret dari ciri khas
dan gajah terbebas dari perburuan

krisis pascaeliminasi diberlakukan
menuntut alternatif atas faktor X
begitulah adaptasi dimulai dari 0
selera mundur dari apel ke rumput

resistensi minus kebutuhan primer
mengatur ulang skala ketercapaian
kriteria menguji variabel dependen
sebagai stuntman pengalih adegan

SUBLATIF

skeptis soal “mendamaikan”
benar-benar faktor inheren
bahwa motif begini lahiriah
semidorman dalam perilaku

tapi jikalau: tanpa rangsangan
katakanlah, sebagai perantara
siapakah menentukan konvensi
membawa respon ke kausalitas

linearitas panah-panah bijektif
nirekuivalen dengan ide Hegel
kecuali kuantitasnya diiterasi
sebagai pola triadik Sierpiński
 

MANAJEMEN

melakukan inventarisasi atas
suara-suara yang adalah “id”
semakin dekat semakin jelas
semakin jauh semakin samar

semua efek Doppler ini hadir
di sepanjang lintasan posesif
antara daging serta konsumsi
dalam jarak relatif pengamat

betapa desah, erang, & diam
dianggap aset primordial diri
serta bagaimana kualitasnya
diukur konteks implementasi

erang bernomor 17 impulsif
frekuensinya sekira 1200 Hz
desah bernomor 45 sensitif
intoleran terhadap sentuhan

seluruh mekanisme ini alami
tergantung cuma pada umpan
jika respon terpantau extrem
refleks pun segera dikekang

diam diklasifikasi menjadi 2
aktif, bila id menentang ego
pasif, bila superego represif
menekan id ke fase dorman

peniadaan satu aspek dari id
secara biologis, pun spiritual
tentulah mustahil & nonsens
pada katalog ditulis ambang

kala hari berganti, data baru
tiba: denting piring, produk
instan, textur daging: semua
jadi kode pemicu liur anjing

maka bila jadi kautawarkan
sensualitas dari ideologimu
lewat retorika manis otoriter
kujawab: aku bukan ternak

sama seperti Hamid Jabbar
sepakat kemiskinan = aset
tapi ditulis di kolom pasiva
progres mengorbit liabilitas

keluar dari katalog sistemik
semata sebagai item nirlaba
lonceng Pavlov makin jauh
tinggal ε saat aku menuju Σ

.

Penulis: Karst Mawardi
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Karst Mawardi

Related Posts