Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
WARUNG nasi campur ala Bali ini sangat sederhana, namun Putu selalu datang ke warung itu untuk menikmati sepiring nasi yang menjadi favoritnya. Setidaknya seminggu sekali Putu akan menyetor wajahnya ke ibu pemilik warung. Warung itu selalu memanjakan lidahnya, dan yang paling paling istimewa, juga membawa kenangan.
Dulu, seorang perempuan spesial mengajak ia ke warung itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu meyakinkan Putu untuk mencoba menu di warung itu. Awalnya ia ragu, tapi tak disangka sekarang warung itu menjadi salah satu makanan favoritnya. Hanya saja, sekarang Putu menikmati seorang diri, tanpa seseorang yang spesial di sebelahnya. Seseorang itu telah jauh. Jauh bagaikan bumi yang ingin menggapai bintang. Tak akan sampai.
Di warung itu ia selalu memilih tempat duduk khusus, seakan-akan tempat duduk itu miliknya sendiri. Tempat duduk itu dekat dengan kipas angin dan hanya cukup untuk dua orang, Jadi, tidak ada yang menganggu mereka saat itu.
“Bu, nasi campurnya satu, ya. Makan di sini!”
“Loh, tumben sendiri, Gus,” kata ibu pemilik warung.
Putu hanya membalas dengan senyuman pahit.
“Minumnya?”
“Es Jeruk saja!”
Putu percaya es jeruk lebih baik diminum setelah makan, daripada es teh yang menjadi primadona semua kalangan. Semua tergantung selera.
Tak lama setelah duduk, sepiring nasi lengkap dengan teman-temannya tersaji di meja bersamaan dengan es jeruk yang segar. Makan adalah salah satu momen yang Putu nantikan. Bukan karena Putu rakus, tetapi karena saat makan Putu bisa melambatkan hidupnya sesaat dari hiruk pikuk dunia yang serba cepat.
Ia berdoa sebelum makan, dilanjutkan dengan meminum es jeruk yang segar dan sedikit kecut. Sebagai pembuka, Putu terkadang butuh efek kejut seperti rasa kecut untuk membuat ia sedikit semangat menjalani hidup. Segar, dan tetap sadar bahwa Putu masih menapakan kaki di bumi ini.
Sate ayam bumbu merah menjadi lauk favoritnya, yang wanginya saja sudah membawanya ke hari itu. Putu sisihkan di pinggir piring untuk penutup yang sempurna. Selalu, yang indah akan dinikmati terakhir. Putu menatap sebentar kursi sebelah yang kosong, tak ada lagi dia yang menemani. Dulu, mereka selalu berdebat bagian apakah dari ayam itu paling enak dimakan paling awal dan paling akhir. Namun sekarang tidak ada lagi dia yang memulai perdebatan hal-hal sepele itu. Sekarang sate itu dengan tenang tergeletak di pinggiran piring tanpa harus ada yang mengomel.
Oh iya, nasi campur bali biasanya sudah sepaket dengan sayur, entah itu sayur pepaya atau sayur nangka. Kali ini Putu mendapatkan sayur nangka yang gurih. Putu tuangkan kuahnya ke atas nasi yang hangat, sehingga gurihnya kuah menyatu dengan nasi pulen. Suapan pertamanya jatuh kepada nasi dengan sepotong tempe manis, perpaduan gurih dan manis selalu membuat lidah bergetar kegirangan. Gurih dan manis tak harus menyatu, tapi dapat melengkapi. Rasa ini membawanya ke momen-momen indah yang telah ia lalui dengan orang-orang terdekatnya.
Dua suap, tiga suap dan suapan selanjutnya terasa sangat familiar. Mulutnya mengunyah semakin lambat. Rasanya tidak ada yang berubah dari pertama kali ia ke warung itu. Semua terasa masih sama, selain rasa makanannya, susunan meja, susunan kursi, warna lampu yang sedikit kekuningan dan suara kendaraan dari luar selalu ikut campur dengan lagu-lagu yang diputar di warung itu. Hanya saja, yang membedakan tidak ada seseorang yang duduk di sebelahnya, wangi parfumnya yang nyaman tidak lagi tercium, suara yang menenangkan tidak lagi terdengar nyata di telinganya.
Putu menarik napas pelan, berat. Seakan ia sedang mengumpulkan tenaga hanya untuk kembali mengangkat sendok itu. Di tengah-tengah ia menikmati makanannya, ia berhenti dan merasakan ada rasa pahit di lidahnya.
“Pahit banget,” bisiknya. Ia mencari sumber pahit itu.
Pare tumis telor. Ternyata itu biang keroknya, ia lupa kalau harus request tidak pakai pare.
“Ini nih biang keroknya!” Ia menyingkirkannya ke samping piring.
Es jeruk menjadi penetral, rasa pahitnya perlahan menghilang. Rasa pahit kadang datang tidak disangka-sangka, dan itu sangat menyiksa. Jika masih ada perempuan spesial itu di sisinya saat makan, pastilah rasa pahit itu ia hadapi dengan gagah berani Tapi kini rasa pahit itu seperti mengejek kesepianya.
Gigitan terakhir sate ayam menandakan perjalanan hari itu telah usai. Kursi yang kosong di sebelahnya bukan berarti sebuah kesendirian, tapi bagaikan cerminan diri. Rasa sepi akhirnya akan diisi oleh sesuatu yang jauh lebih spesial. Sate ayam menjadi simbol kesempurnaan dari rasa-rasa yang sudah Putu rasakan sebelumnya. Rasa asin, manis dan pahit bukan sekedar rasa, tapi sebuah pembelajaran.
Menyisakan sedikit es jeruk, ia berdiri dan melangkah menjauh dari kursi kosong di sebelahnya, dengan yakin ia menyodorkan uang dua puluh ribu untuk membayar Ibu pemilik warung menerimanya seakan tak menerima kompromi lagi. Tentu saja, ia akan kembali minggu depan. Dengan pembelajaran baru, yaitu tidak lupa untuk meminta jangan diisi pare tumis telor. [T]
Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...