Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
DI tengah riuh budaya nongkrong anak muda, cafe steva hadir sebagai ruang sunyi berbicara lewat aroma kopi dan rak buku di sudut ruangan. Bagi penulis Boy Candra, tempat ini bukan sekedar cafe melainkan simbol kecil dari gerakan literasi yang hidup di kota Padang.
Boy Candra merupakan seorang penulis muda asal Sumatera Barat yang dikenal lewat karya-karya puitis dan romantisnya. Ia aktif menulis sejak tahun 2011 dan memulai debut di dunia kepenulisan pada tahun 2013 dengan Origami Hati menjadi novel perdananya. Kini Boy Candra telah menerbitkan lebih 30 buku, yang mencakup novel, kumpulan prosa, kumpulan cerita, dan puisi. Gaya tulisannya yang sederhana namun penuh makna menjadikannya dekat dengan pembaca muda di seluruh Indonesia.
Cafe dengan ruangan yang menghadirkan suasana hangat dan tenang, seolah membawa pengunjung ke sebuah perpustakaan kecil yang menenangkan dengan suara musik lembut mengalun dari pengeras suara disetiap sudut dengan khas yang klasik. Dipojok ruangan, rak kayu kecil berdiri dengan tenang, menampung deretan buku sastra, fiksi, dan puisi. Disanalah penulis asal Sumatera Barat, Boy Candra menikmati sore di Cafe Steva, tempat yang dikenal nyaman untuk diskusi dan tempat ngobrol yang cukup asik.
Dalam percakapan sore itu, Boy Candra berbagi pandangan tentang ruang literasi, budaya membaca dan berbagai inspirasi.
Halo, selamat sore Bang Boy.
Iya, sore.
Lagi ngapain nih, Bang?
Lagi duduk ngobrol santai.
Aku boleh nanya-nanya enggak Bang mengenai pandangan Bang Boy terhadap pojok baca seperti ini Bang?
Boleh-boleh.
Saat pertama kali melangkah ke kafe ini, apa yang paling menarik perhatian Bang Boy, aroma kopi, suasananya, atau rak buku kecil di pojok sana?
Sebetulnya cafe ini memang tempat yang sering saya kunjungi, dan tempat ini juga bisa dikatakan bagian dari ide saya dan juga teman-teman karena yang punya cafe kawan baik saya, kebetulan tempat ini juga dekat dengan rumah saya. Steva dulu bukan di sini. Dulu di belakang Kemenkes, di rumah Bang Fatris, pemilik kafe. Baru pindah ke sini sekitar satu setengah tahun lalu.
Apa yang membuat Bang Boy betah berlama-lama di sini? Apakah tempat ini memberi semacam ketenangan atau inspirasi tertentu bagi proses menulis Anda?
Cafe yang konsepnya seperti ini di Padang tidak banyak, yan hanya taruh buku pasti ada, tapi konsep yang ada pustaka cuman ada di Steva, karena di sini juga sering diadakan acara juga, terus menurut saya datang ke cafe ini tidak hanya sekedar beli kopi, melainkan kita bisa baca buku secara gratis dan tempatnya pun asik untuk ngobrol.
Pojok baca ini tampak sederhana, tapi terasa hidup. Menurut Bang Boy, apa makna keberadaan ruang seperti ini di tengah hiruk-pikuk kota dan budaya nongkrong anak muda?
Kalau diibaratkan, toko buku dan perpustakaan itu seperti akar dari pohon peradaban. Orang Minang suka memperbesar kepintaran mereka, tapi tanpa buku, upaya itu jadi tidak lengkap. Tempat seperti ini mestinya bisa jadi ikon kota atau simbol peradaban.
Sebagai seorang penulis yang tumbuh di Sumatera Barat, bagaimana Bang Boy melihat perkembangan budaya membaca dan menulis di daerah ini beberapa tahun terakhir?
Tahun lalu, Sumbar punya angka kunjungan pustaka yang cukup tinggi. Tapi kita perlu lihat juga apakah itu angka semata atau benar-benar kebiasaan membaca. Di Sumatera cukup banyak komunitas literasi bermunculan seperti TBM (Taman Baca Masyarakat), siteba berpuisi, nah itu menandakan gairah literasi yang hidup. Namun, masih ada mahasiswa yang belum pernah baca satu pun buku sastra. Itu agak aneh, tapi nyata.
Apakah ada momen khusus di kafe ini, misalnya ketika sedang membaca atau berbincang dengan pengunjung lain yang pernah memantik ide untuk menulis sebuah cerita atau novel?
Tidak pernah karena belum ada momen yang menarik juga untuk ditulis.
Dari pengamatan Bang Boy, bagaimana respons para pengunjung terhadap pojok baca ini? Apakah mereka benar-benar membaca, berdiskusi, atau sekadar berswafoto?
Banyak yang datang ke sini buat tugas, ada juga yang baca atau sekadar ngobrol. Bang Fatris itu orangnya terbuka. Kalau ada acara mahasiswa, disediakan mic dan sound system gratis.
Cafe ini tampak menjadi titik temu antara dunia sastra dan gaya hidup urban. Menurut Bang Boy, seberapa penting peran ruang-ruang publik seperti ini dalam menghidupkan gerakan literasi lokal?
Sekarang banyak mahasiswa nongkrong di cafe. Nah, kalau di cafe lain kamu cuma dapat kopi, di Steva kamu bisa dapat baca buku juga dan gratis. Apalagi di Sumatera Barat yang bisa dikatakan kota mahasiswa dan tempat- tempat seperti ini justru jadi penting.
Banyak yang bilang minat baca di Indonesia masih rendah. Dari sudut pandang Bang Boy, apa sebenarnya yang membuat orang enggan membaca akses, kebiasaan, atau mungkin kurangnya tempat yang ramah buku seperti ini?
Masalahnya bukan cuma orang suka baca atau enggak, tapi apakah mereka punya kesempatan untuk ketemu dengan buku. Banyak keluarga yang tidak punya buku di rumah, sehingga anak-anak tidak tumbuh dengan kebiasaan membaca, bisa karena ekonomi, bisa karena gak tahu cara beli buku, atau gak terbiasa. Makanya perlu dimulai dari hal kecil bikin rak buku di rumah, atau mahasiswa KKN bikin perpustakaan mini di desa. Membaca itu bukan hal instan, kamu harus nemu dulu buku yang cocok, yang bikin kamu nyaman, baru bisa jadi kebiasaan.
Apakah Bang Boy pernah terlibat dalam kegiatan literasi di kafe ini, seperti bedah buku, diskusi karya, atau sekadar berbagi pengalaman menulis dengan pengunjung lain?
Kalau ada teman-teman penulis datang, seperti JS Khairen, biasanya saya bantu hubungkan dengan Bang Fatris. Tempat ini terbuka banget buat siapa pun yang mau bikin acara literasi.
Jika boleh bermimpi, seperti apa Bang Boy membayangkan masa depan literasi di Sumatera Barat dan peran kecil yang mungkin dimainkan oleh kafe dengan pojok baca seperti ini?
Saya berharap akan ada lebih banyak tempat seperti Steva di Sumatera Barat, di sini orang bisa membaca di luar jam kerja, bahkan malam hari. Karena literasi itu tidak harus selalu di perpustakaan bisa di mana saja, bahkan di antara secangkir kopi dan percakapan yang hangat.
PERCAKAPAN sore itu menutup hari dengan secangkir kopi yang mulai dingin, namun meninggalkan hangatnya gagasan tentang literasi. Dari Boy Candra, kita belajar bahwa membaca dan menulis tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal, tetapi juga dari tempat sederhana seperti sebuah kafe yang memberi ruang bagi ide dan pertemuan.
Cafe Steva bukan hanya tempat menikmati kopi, melainkan bukti bahwa gerakan literasi bisa tumbuh dari hal kecil dari rak buku di pojok ruangan, dari obrolan santai, dan dari semangat untuk terus menyalakan api pengetahuan di tengah budaya nongkrong anak muda. [T]
Penulis: Cica Dwi Febria
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...