Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
SETIAP enam bulan sekali, Bali mendapatkan dua pengingat penting. Yang pertama adalah Hari Raya Galungan—kemenangan Dharma melawan Adharma, momentum untuk eling dan mulat sarira. Yang kedua adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang naik seperti layangan putus. Yang satu menggerakkan hati, yang satu lagi menggerakkan kantong.
Fenomena harga ini sebetulnya ibarat drama seri yang tidak pernah tamat. Menjelang Galungan, daging naik, ayam naik, ikan naik, bahkan harga kelapa kadang-kadan ikut naik seperti ikut lomba panjat tebing. Ibu-ibu di pasar hanya menghela napas sambil berkata,
“Walau mahal, kita harus beli, yang penting Galungan tetap jalan,” meski isi tas belanja makin tipis seperti dompet akhir bulan.
Namun menariknya, kita semua menerima ini sebagai hal biasa. Seolah-olah naiknya harga setiap Galungan itu adalah takdir kosmis yang tidak bisa diganggu gugat. Kita lupa bahwa harga naik bukan karena “roh jahat” menjelang hari suci, tetapi karena akar persoalan pertanian Bali tidak pernah benar-benar kita rawat.
Kita ingin harga murah, tetapi tidak serius menjaga petani.
Kita ingin banten lengkap, tetapi lupa siapa yang menanam kelapanya.
Kita ingin budaya tetap kokoh, tetapi abai pada fondasi pangan yang menopangnya. Inilah ironi yang terasa getir sekaligus menggelitik.
Bali hari ini terus digerus oleh perkembangan pariwisata yang melaju seperti sepeda listrik tanpa rem. Sementara pertanian, yang menjadi akar budaya dan identitas Bali, kadang tampak berjalan pelan—bahkan sesekali terpeleset. Hubungan keduanya sering disamakan dengan Tom and Jerry, saling membutuhkan, tetapi sering bertabrakan; terlihat damai, tetapi setiap saat bisa saling jebak.
Padahal pariwisata Bali lahir dari tanah pertanian. Penjor itu tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di atas bambu yang ditanam petani. Banten itu tidak melayang turun dari langit. Ia berasal dari kebun, sawah, dan ladang. Subak itu bukan dekorasi Instagram, melainkan sistem agraris yang diwariskan ratusan tahun. Tanpa pertanian, pariwisata Bali kehilangan ceritanya.
Tanpa petani, budaya Bali kehilangan rohnya.
Sementara itu, dunia pendidikan kita tak kalah lucu, sekaligus menyedihkan. Rekrutmen siswa SMK sekarang seperti pertarungan bebas—semua sekolah memperebutkan siswa dengan segala macam strategi: seragam gratis, fasilitas ber-AC, janji masa depan gemilang. Di tengah hiruk pikuk itu, jurusan pertanian tampil paling sederhana: pacul, lahan praktik, tanah, dan sebuah kalimat, “Inilah masa depan Bali!”
Tapi sayangnya, masa depan Bali itu sering kalah pamor dibandingkan masa depan hotel, kafe, atau pekerjaan dunia pariwisata yang terdengar lebih mentereng. Anak-anak muda lebih tergoda pada dunia kerja yang “bersih dan dingin”, daripada dunia sawah yang “panas dan berlumpur”. Padahal masa depan pangan Bali bergantung pada mereka.
Lebih ironis lagi, petani, nelayan, dan peternak yang selama ini menyuplai kebutuhan Galungan jarang memperoleh insentif nyata. Harga naik, tetapi tidak selalu berarti kesejahteraan mereka ikut naik. Galungan meriah, tapi pelaku hulunya kadang tetap hidup pas-pasan. Sungguh, ada yang tidak beres di sini. Inilah Bali kita.
Di tengah segala keanehan itu, Galungan hadir sebagai teguran halus—teguran budaya yang tidak marah, tetapi menyentil dengan lembut. Penjor yang melambai seperti sedang bertanya, “Bagaimana mau menang melawan Adharma, kalau menjaga pertanian saja belum serius?”
Galungan bukan hanya tentang sembahyang. Ia adalah panggilan untuk kembali pada akar—akar budaya, akar ekologi, akar pangan, akar kehidupan. Jika akar itu keropos, maka pariwisata pun rapuh, budaya melemah, dan Bali kehilangan jati dirinya.
Pariwisata dan pertanian tidak harus seperti Tom and Jerry selamanya. Mereka bisa berdamai, saling menguatkan. Pertanian memberi cerita, pariwisata memberi nilai tambah. Pariwisata memberi pasar, pertanian memberi produk. Desa wisata, agroeduwisata, kuliner lokal—semuanya adalah jembatan indah antara kedua sektor yang sering disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.
Namun semua itu hanya mungkin bila kita mulai dari hulunya, yakni pendidikan pertanian yang kuat. Pendidikan yang tidak dibiarkan menjadi isapan jempol, tetapi benar-benar didukung kebijakan, anggaran, dan komitmen. Pendidikan yang membuat anak muda kembali menghargai tanah, benih, air, dan pangan.
Oleh karena itu, jika setiap Galungan harga kembali naik dan membuat kita mengeluh, mungkin itu bukan sekadar kejadian pasar. Mungkin itu cara alam mencubit kita pelan-pelan sambil berbisik:
“Kalau mau harga stabil, rawatlah hulunya.
Kalau mau budaya kuat, jagalah tanahnya.
Kalau mau Galungan tetap bermakna, jangan lupakan petaninya.”
Galungan adalah kemenangan Dharma. Akan tetapi Dharma tidak akan pernah menang
jika ayam untuk upacara harus impor, kelapa untuk penjor dan sate didatangkan dari luar pulau, dan anak-anak kita tidak lagi tertarik belajar bertani. Semoga itu tidak pernah terjadi.
Semoga Bali tetap berdiri di atas akar budaya dan akar pertaniannya. Semoga kita tidak hanya kembali ke pura pada hari Galungan, tetapi juga kembali mengingat sawah, ladang, kebun, dan laut—tempat di mana kehidupan Bali sesungguhnya bermula. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....