Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
DI bawah remang lampu, seorang perempuan muda berdiri sambil menumbuk lantai pertunjukan dengan sebuah alu. Tak lama kemudian, lelaki muda dengan alu di tangannya bergabung dan ikut menumbuk lantai pertunjukan. Suara tumbukan itu terasa akrab dan asing sekaligus. Begitulah repertoar “Sejak Padi Mengakar” karya I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau akrab dipanggil Gus Bang Sada dimulai. Malam itu, Sejak Padi Mengakar dipentaskan kembali dalam program “Panggung Tumbuh” serangkaian Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025 di Mas Masa, Ketewel, Gianyar, Bali, Rabu (4/11/2025).
Tidak ada pengumuman megah, tidak ada suara gamelan yang membangun suasana sakral, tidak ada kilatan lampu teatrikal. Yang terjadi malah sebaliknya: sebuah kesunyian yang pelan-pelan merayap ke penonton. Kesunyian yang tidak kosong—ia seperti lapisan kabut yang menyembunyikan sebuah cerita yang jauh lebih besar.

Ini kali kedua saya menonton repertoar yang meminjam simbol padi sebagai cara untuk menyikapi fenomena alih fungsi lahan pertanian di Bali itu. Pertama di Festival Merayakan Marya 2024; kedua di B-PART 2025. Ada perbedaan yang signifikan antara Sejak Padi Mengakar di Festival Merayakan Marya dan di B-PART 2025. Perbedaan itu meliputi gerak, jumlah penari, hingga properti yang digunakan—meski barangkali masih menyuarakan hal yang sama. Pertunjukan ini sudah beberapa kali dipentaskan di beberapa tempat dan acara yang berbeda.
Mengutip Arif Wibowo dalam Pandangan Atas Tanah Dulu dan Kini : Catatan Repertoar Tari “Sejak Padi Mengakar” (2024), karya ini berangkat dari kegelisahan Gus Bang sebagai pemuda Bali. Usai melakukan pengembaraan studi koreografi selama 7 tahun di Yogyakarta, telah membawa keberjarakan pada tanah kelahirannya. Keadaan berjarak itulah yang membawanya pada sudut pandang yang kritis dan objektif melihat Bali. Koreografi Sejak Padi Mengakar menjadi karya perdana yang menurutnya mewakili idealismenya pasca pulang dari Jogja.
Gus Bang Sada merasakan bahwa tempat tinggalnya di Banjar Mukti, Desa Singapadu, Gianyar telah mengalami banyak perubahan. Sebagai desa yang lekat dengan aktifitas agraris dan kesenian, desa ini telah menjadi jalur perlintasan pariwisata menuju kawasan Ubud. Keadaan ini menyebabkan Singapadu menghadapi dampak perubahan spasial maupun sosial yang cukup signifikan (Wibowo, 2024).
Oleh karena itu, saya menganggap Sejak Padi Mengakar sebagai gugatan alih-alih kontemplasi. Hanya saja, gugatan itu tidak diucapkan melalui teriakan, tetapi melalui gerak tari, sikap duduk, tubuh yang menunduk, tanpa dramatisasi. Ia menggugat melalui apa yang tidak terlihat, melalui kehadiran yang samar, dan terutama melalui ketiadaan padi yang justru paling terasa. Ya, pada pentas kali ini, saya tidak melihat kehadiran padi sebagaimana saat pertunjukan di Festival Merayakan Marya tahun lalu.
Tetapi, absensi padi kali ini tentu bukan kebetulan. Saya rasa, selain karena pertimbangan tempat (panggung), barangkali—dengan tidak menghadirkan padi secara fisik—Gus Bang ingin membuat penonton merasakan bahwa padi sudah tidak sekuat imajinasi kita tentang Bali. Padi sudah menjadi hantu: hadir sebagai bayangan, sebagai ingatan, sebagai aroma yang kita tahu pernah ada tetapi tidak lagi bisa disentuh.

Penonton tidak melihat padi, memang, tetapi gerak tubuh para performer (tiga penari) seakan menghidupkannya: punggung yang membungkuk, tangan yang menyapu lantai, langkah kecil yang mengukur ruang seperti mengukur sawah yang sudah hilang. Hampir semua gerak terasa seperti sisa dari pekerjaan yang dulu dilakukan di ladang—sisa yang kini berubah menjadi sekadar memori kolektif.
Alu. Benda purba ini pula yang menjadi salah satu pembeda antara Sejak Padi Mengakar, katakanlah, versi Festival Merayakan Marya dengan versi B-PART 2025. Pada pentas di Merayakan Marya, Gus Bang tidak menghadirkan alu—tonggak sejarah agraris yang kini terdampar di ruang seni.
Menurut kesoktahuan saya, fungsi alu dalam pertunjukan ini jauh lebih kompleks alih-alih sekadar simbol agraris. Ia tidak digunakan untuk menumbuk padi. Ia tidak diperlakukan sebagai properti panggung yang indah. Pada momen tertentu, performer mengangkat alu itu pelan-pelan. Tubuhnya melengkung, menahan beban, menopang alu dengan sisa tenaga. Sementara saya bergumam: begitukah rasanya mempertahankan tanah yang terus diincar oleh kapital?
Dalam konteks Bali hari ini—dengan lahan pertanian yang menyusut drastis setiap tahun—saya rasa alu menjadi simbol dari upaya mempertahankan sesuatu yang sudah tidak solid. Ia menjadi tongkat yang tidak bisa diandalkan, penyangga yang goyah, sekaligus saksi atas perubahan yang tak pernah benar-benar kita perhatikan.
Sementara itu, jika ada yang bertanya kepada saya gestur tubuh yang paling saya ingat dari karya ini maka saya akan menjawab: gestur duduk. Sebagaimana telah disampaikan Arif Wibowo (2024), Gus Bang menggunakan pendekatan koreografi duduk sebagai pilihan artistik untuk Sejak Padi Mengakar.
Menurut Gus Bang, sikap duduk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan sekaligus bentuk adaptasi tubuh atas kondisi ruang yang berubah. Lebih dari itu, sikap duduk juga memiliki korelasi yang erat dengan bumi sebagai sumber kehidupan kebudayaan agraris. Pilihan koreografi duduk itu, menurut Arif Wibowo, juga terinspirasi dari koreografi Tari Kebyar Duduk yang diciptakan oleh I Ketut Marya, maestro tari kekebyaran Bali.
Berangkat dari argumen Gus Bang tentang duduk, saya menganggap duduk dalam karya ini sebagai pernyataan politis. Duduk adalah posisi terendah yang dapat diambil tubuh, sekaligus posisi paling jujur. Ketika lahan menghilang, ketika ruang untuk berdiri tegak mengecil, tubuh tidak lagi memiliki banyak pilihan selain duduk. Duduk menjadi strategi bertahan. Duduk menjadi cara untuk tetap berada meski terdesak. Duduk menjadi bentuk perlawanan yang tidak heroik, tetapi sangat manusiawi.


Dalam dunia yang semakin menuntut manusia untuk bergerak cepat, untuk berlari, untuk bersuara keras agar didengar, sikap duduk menjadi antitesis dari semua itu. Duduk adalah cara tubuh menolak ritme modernitas yang terlampau tergesa. Duduk adalah penegasan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak perlu dipercepat: menanam, memanen, menunggu hujan, menunggu tanah bernapas kembali.
Maka ketika duduk berulang-ulang muncul di panggung, ia bukan sekadar motif koreografi, melainkan narasi agraris yang paling intim.
Di seluruh durasi pertunjukan, tidak ada satu kata pun tentang alih fungsi lahan. Tidak ada statistik. Tidak ada pidato. Tidak ada gambar sawah yang berubah menjadi bangunan. Tidak ada kritik langsung terhadap pariwisata atau kapitalisme.
Namun justru ketiadaan itu membuat isu ini terasa lebih menyengat. Karena penonton, dengan segala pengetahuan dan pengalaman hidupnya, secara otomatis mengaitkan gerak tubuh para performer dengan lanskap sosial Bali hari ini: sawah yang dijual sedikit demi sedikit, petani yang berpindah pekerjaan, desa yang kehilangan struktur agrarisnya, dan budaya yang mulai kehilangan pijakan materialnya.
Pertunjukan ini tidak memosisikan siapa pun sebagai antagonis. Tetapi ia memperlihatkan siapa yang paling terluka. Dengan cara itu, karya ini menolak menjadi propaganda. Ia memilih menjadi pengingat. Dan kadang yang kita butuhkan memang bukan kemarahan, tetapi pengingat yang membuat kita mau melihat sekali lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Koreografi Sejak Padi Mengakar tidak melakukan konfrontasi frontal terhadap isu alih fungsi lahan. Menurut saya, mohon maaf jika salah, narasinya bergerak dalam wilayah ambiguitas: antara kecemasan dan pasrah, antara penundukan dan perlawanan, antara hilangnya ruang dan kemampuan menemukan ruang baru.
Dan ketegangan ekologis—yang menjadi inti isu—lebih banyak dihadirkan secara metaforis; publik tertentu mungkin menginginkan penajaman konteks sosio-politik secara lebih eksplisit.
Namun, “Sejak Padi Mengakar” adalah karya yang bekerja justru melalui apa yang tidak dikatakannya. Ia membangun perlawanan yang tumbuh dari bawah, dari akar, dari tanah yang nyaris habis. Perlawanan yang tidak bersuara keras, tetapi tidak bisa diabaikan. Perlawanan yang memaksa kita duduk sejenak sebelum akhirnya berdiri lagi dengan kesadaran baru.
Dan seperti padi yang mengakar dalam diam, karya ini menetap lama setelah lampu panggung dimatikan—mengajak kita untuk menunduk bukan sebagai tanda kalah, tetapi sebagai cara melihat dunia dengan lebih jernih.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...