Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
“Melalui momentum ini, Bali ikut mengangklungkan dunia dan menduniakan angklung.”
Begitu kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha saat perayaan World Angklung Day 2025, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu, 16 November.
Perayaan itu dilakukan dengan penuh semangat untuk pelestarian budaya. Acara itu dilaksanakan Pemerintah Provinsi Bali bersama para seniman, budayawan, dan komunitas seni di Bali.
Perayaan itu menegaskan angklung sebagai warisan dunia yang terus bergetar, bukan hanya di Nusantara, tetapi juga di panggung internasional. Instrumen bambu ini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 16 November 2010.
Menurut Arya Sugiartha, peringatan ini menjadi momentum strategis untuk merawat identitas, memperkuat harmoni sosial, sekaligus membangkitkan kepedulian generasi muda terhadap kesenian tradisional.
Perayaan tahun ini berlangsung hangat dan seru menampilkan kolaborasi Karang Taruna Darma Bakti Kelurahan Renon dan Sanggar Seni Nara Iswara Renon. Mereka membawakan repertoar lagu daerah hingga lagu Barat, menunjukkan bahwa angklung bambu Bali tidak hanya berdentang sebagai simbol tradisi, tetapi juga mampu menembus batas global.
Acara turut diisi workshop angklung oleh seniman asal Renon, I Gede Suweca, yang mengajak peserta memahami teknik permainan, kreativitas musikal, serta filosofi angklung sebagai simbol harmoni antar manusia.
Sementara itu, Prof. Dr. I Made Bandem, Saba Pamutus Majelis Kebudayaan Bali (MKB), menegaskan bahwa perayaan ini lebih dari sekadar menikmati bunyi bambu. “Kita merayakan sawah-sawah di kampung Nusantara melalui instrumen angklung. Angklung adalah suara doa untuk Dewi Sri dan Dewi Padi,” tegasnya.
Bandem menjelaskan bahwa disiplin sosial dan kebersamaan adalah inti filosofi angklung. “Satu orang memegang satu nada. Ketika dimainkan bersama, barulah tercipta sebuah lagu. Inilah harmoni budaya yang diakui dunia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa angklung memiliki jejak sejarah panjang—dari Sunda atau Bandung, Bali, Jawa Timur hingga berbagai daerah lain—dan kini menjadi bukti bahwa budaya Indonesia tercatat kuat di tingkat internasional. “Kita belajar dari seikat angklung bahwa budaya kita telah mendapatkan pengakuan global,” katanya.
Peringatan World Angklung Day 2025 di Bali meneguhkan peran Pulau Dewata sebagai ruang kreatif yang mampu merawat tradisi sekaligus menjadi jembatan diplomasi budaya dunia. Angklung kembali berdenting, membawa pesan harmoni dari Indonesia untuk seluruh umat manusia. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PEREMPUAN mana sih yang tidak menginginkan tubuh indah dan dipuji banyak orang? Memiliki tubuh indah adalah impian setiap perempuan di dunia. Tapi, bagaimana dengan perempuan yang...
“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door - Bob Dylan) JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung pe...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) seringkali menjadi senjata tajam yang dengan segala keunikannya dapat memisahkan pasangan yang bahkan telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Karena...
Catatan Harian Sugi Lanus 10 Agustus 2016 . APA Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "rahajeng dina otonan" dan "rahajen...
BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya just...
SIAPA pun yang bicara jalur shortcut Denpasar-Singaraja selalu tampak bersemangat. Optimis. Seakan-akan setelah jalur shortcut terwujud, masyarakat akan langsung sejahtera. Padaha...
SELEBRITI artinya orang terkenal, termasyur, tersohor. Untuk menjadi terkenal, banyak hal bisa dilakukan. Jika seseorang berbuat aneh-aneh, masuk dalam kategori pemecah rekor, dia...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mah...
Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0 PEREMPUAN...