Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Di Kintamani,
angin bicara dalam bahasa yang tidak dimengerti—
lalu menyusut jadi sunyi
ia bersandar di ujung rindu yang tak pernah berlabuh
Ada anak kecil,
yang menyuapkan aksara ke laut,
tapi gelombang lebih dulu menulisnya jadi pasir
Apakah bahasa,
masih bisa disebut rumah
jika pintunya selalu terbuka menuju kehilangan?
Aku tinggal dalam kalimat yang setengah—
setengah doa,
setengah debu,
setengah yang tidak ingin lahir
tetapi tumbuh sebagai cinta di bukit Kintamani
2025
: Arsy
November tiba seperti lonceng tua yang malu-malu pecah di kening waktu,
dan Arsy—engkau bukan nama, tapi gema yang lupa caranya pulang
di matamu, dedaunan gugur bukan karena musim,
melainkan karena kesepakatan rahasia antara harapan dan penat
Engkau berjalan di antara kabut
seperti puisi yang belum selesai dibaca hujan
setiap langkahnya,
adalah kontrak sunyi dengan semesta yang retak di dalam dada
“Cinta, adalah keresahan yang kupilih untuk tetap waras.”
Di telapak tanganmu,
aku melihat peta yang digambar dari retakan malam:
bintang-bintang yang menolak jadi petunjuk
lalu angin jadi aksara baru yang tidak bisa kuterjemahkan
Kita duduk berdua,
tapi jarak di antara kita adalah nama-nama Tuhan yang belum disepakati
Arsy, engkau menatapku dengan mata seperti cermin kusam:
memantulkan bayanganku yang tak lagi percaya pada makna
“Apakah kamu benar-benar di sini?”
tanya cermin itu, atau mungkin ia sedang berbicara pada dirinya sendiri
November pun menetes dari langit
seperti tinta yang lupa kata-kata
dan aku menciummu Arsy
bukan di bibirmu, tapi di kesadaranmu—
tempat di mana ingatan pergi
dan rasa rindu hidup abadi
2025
Kecupanmu membekas di bibir puisiku
tersimpan rapi di rak mimpiku
ingin kugelar pada malam-malam yang belum terlelap
meski langit senantiasa kelam bercampur gelisah
Di hari-hari yang panasnya menyengat
biarkan hujan sejenak membasuh
dan kita berkemas di keteduhan rindu
sering kali hati kita menyalak
bagai getaran dawai penuh irama
terkadang, serupa lolongan serigala di keheningan malam
meruak dalam rimbun angin
mungkin, mengusik anak-anak kecil yang terlelap
di antara sisa buaian mimpi
dari sepasang diksi yang belum tertulis
Malam kian penat
merapuh di penggalan cahaya, tertelungkup redup
hanya lentera kecil menuntun kisah-kisah baru
tatkala letih menari-nari dalam meja jamuan sajak
rembulan pun mengintip tersipu malu
seakan berharap kupagut bibirnya
aku tersadar, dahagaku kian gersang
2025
pergilah menuai mimpi
jika itu mampu menjahit luka di antara serpihan musim
lihatlah, kata-kata senantiasa bertaut tak terpisahkan
meski ada jarak di antara rindu yang menanti
selekas angin di penghujung ingatan
perjalanan hidup tak ada bedanya dengan menunda mimpi
antara wujud dan tak berwujud
dan tubuh kita serupa sederet abjad
menjadi bermakna tatkala dibacakan
2025
di lautan kata yang tak terucap
aku terkucil dalam kebisuan cinta
meski aku tak mampu menjelaskannya
prasasti hatimu telah menjadi premis rindu
yang tak berujung dan tak bertepi
tidak serumit rindu mengekang batin
terkadang kata-kata tak mampu
mengalir menjadi serumpun cinta
seperti sungai terus mengalirkan air bening
yang membasuh sembab mataku
tatkala sajakku kehilangan mata pena
2025
.
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...