Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
Di Kintamani,
angin bicara dalam bahasa yang tidak dimengerti—
lalu menyusut jadi sunyi
ia bersandar di ujung rindu yang tak pernah berlabuh
Ada anak kecil,
yang menyuapkan aksara ke laut,
tapi gelombang lebih dulu menulisnya jadi pasir
Apakah bahasa,
masih bisa disebut rumah
jika pintunya selalu terbuka menuju kehilangan?
Aku tinggal dalam kalimat yang setengah—
setengah doa,
setengah debu,
setengah yang tidak ingin lahir
tetapi tumbuh sebagai cinta di bukit Kintamani
2025
: Arsy
November tiba seperti lonceng tua yang malu-malu pecah di kening waktu,
dan Arsy—engkau bukan nama, tapi gema yang lupa caranya pulang
di matamu, dedaunan gugur bukan karena musim,
melainkan karena kesepakatan rahasia antara harapan dan penat
Engkau berjalan di antara kabut
seperti puisi yang belum selesai dibaca hujan
setiap langkahnya,
adalah kontrak sunyi dengan semesta yang retak di dalam dada
“Cinta, adalah keresahan yang kupilih untuk tetap waras.”
Di telapak tanganmu,
aku melihat peta yang digambar dari retakan malam:
bintang-bintang yang menolak jadi petunjuk
lalu angin jadi aksara baru yang tidak bisa kuterjemahkan
Kita duduk berdua,
tapi jarak di antara kita adalah nama-nama Tuhan yang belum disepakati
Arsy, engkau menatapku dengan mata seperti cermin kusam:
memantulkan bayanganku yang tak lagi percaya pada makna
“Apakah kamu benar-benar di sini?”
tanya cermin itu, atau mungkin ia sedang berbicara pada dirinya sendiri
November pun menetes dari langit
seperti tinta yang lupa kata-kata
dan aku menciummu Arsy
bukan di bibirmu, tapi di kesadaranmu—
tempat di mana ingatan pergi
dan rasa rindu hidup abadi
2025
Kecupanmu membekas di bibir puisiku
tersimpan rapi di rak mimpiku
ingin kugelar pada malam-malam yang belum terlelap
meski langit senantiasa kelam bercampur gelisah
Di hari-hari yang panasnya menyengat
biarkan hujan sejenak membasuh
dan kita berkemas di keteduhan rindu
sering kali hati kita menyalak
bagai getaran dawai penuh irama
terkadang, serupa lolongan serigala di keheningan malam
meruak dalam rimbun angin
mungkin, mengusik anak-anak kecil yang terlelap
di antara sisa buaian mimpi
dari sepasang diksi yang belum tertulis
Malam kian penat
merapuh di penggalan cahaya, tertelungkup redup
hanya lentera kecil menuntun kisah-kisah baru
tatkala letih menari-nari dalam meja jamuan sajak
rembulan pun mengintip tersipu malu
seakan berharap kupagut bibirnya
aku tersadar, dahagaku kian gersang
2025
pergilah menuai mimpi
jika itu mampu menjahit luka di antara serpihan musim
lihatlah, kata-kata senantiasa bertaut tak terpisahkan
meski ada jarak di antara rindu yang menanti
selekas angin di penghujung ingatan
perjalanan hidup tak ada bedanya dengan menunda mimpi
antara wujud dan tak berwujud
dan tubuh kita serupa sederet abjad
menjadi bermakna tatkala dibacakan
2025
di lautan kata yang tak terucap
aku terkucil dalam kebisuan cinta
meski aku tak mampu menjelaskannya
prasasti hatimu telah menjadi premis rindu
yang tak berujung dan tak bertepi
tidak serumit rindu mengekang batin
terkadang kata-kata tak mampu
mengalir menjadi serumpun cinta
seperti sungai terus mengalirkan air bening
yang membasuh sembab mataku
tatkala sajakku kehilangan mata pena
2025
.
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...