‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Di layar media,
kata menjelma senjata,
menyelinap di sela waktu,
ribuan jiwa tersentuh,
berisik yang tampak benar,
seringkali menyesatkan, tanpa sadar.
Akses luas bagai samudra tanpa batas,
setiap ombak membawa pesan tak jelas,
siapa yang tahu,
di balik akun tanpa nama,
ada bara yang menanti tersulut menyala.
Anonimitas,
jadilah topeng sempurna,
menari di balik tirai maya,
mengguncang dunia secara nyata,
dari kebencian dan dusta tanpa makna.
Dari percakapan komunitas senyap,
mereka bertukar api dalam gelap,
menyulam ideologi dengan benang fanatik,
mengikat hati dalam simpul retorik.
Oh media sosial,
engkau jembatan dan jurang sekaligus,
di tangan bijak, engkau cahaya,
di tangan buta, engkau bisa jadi bencana.
(Jakarta, 2025)
Puisi yang kutulis ini,
bukanlah puisi miliknya,
malam datang silih berganti,
meninggalkan sepi di antara jeda.
Seorang perempuan tua menatap foto di ruang tamu,
tersenyum kecil sambil menahan waktu,
di matanya tersimpan doa yang tak bersuara,
menyusuri jarak yang tak bisa dijangkau langkah.
Mengenang segala percakapan,
merahnya gincu dalam kelembutan,
suara dari kejauhan terdengar rapuh,
seperti daun yang rindu tanah tempat ia tumbuh.
Puisi yang kutulis ini,
bukanlah puisi miliknya,
seorang remaja yang beranjak dewasa,
berlarian di antara gedung dan ambisi,
di hati kecilnya tersisa ruang yang hampa,
entah mengapa perasaannya begitu sepi.
Kesepian itu bukan karena sendiri,
bukan pula karena tak ingin menghampiri,
tapi kerinduan yang belum sempat berlabuh,
waktu selalu berjalan lebih cepat dari perjumpaan,
membentang jarak antara kenangan dan kenyataan.
(Jakarta, 2025)
Di tanah yang katanya luhur,
aku tumbuh seperti benih yang tak boleh berbeda warna,
“Begini caranya hidup,” kata mereka,
sambil menancapkan warisan yang tak pernah kutanya.
Kupakai kain kebesaran,
tapi terasa seperti tali penjara,
Kupelajari tutur sopan,
tapi suara hatiku diminta diam saja.
Katanya perempuan harus jinak,
katanya lelaki tak boleh menangis,
Katanya adat harus ditaati,
meski logika menangis dan nurani terus mengiris.
Kudengar kisah nenek moyang,
yang membela tanah dengan darah,
lalu kenapa kini kita,
membela warisan dengan menyakiti darah daging kita?
Aku mencintai tanah ini,
tapi bukan luka yang diwarisinya,
Aku hormati sejarah dan akar,
tapi bukan rantai yang mencekik masa depan.
Jika tradisi adalah api,
biarkan aku jadi angin yang menari.
Bukan untuk memadamkan,
tapi memberi ruang bagi nyala yang berarti.
(Jakarta, 2025)
Wahai pewaris adat suci,
yang bangga berteriak dari atas kursi,
“Ini warisan leluhur kami!”
meski tak tahu cara menanam padi.
Engkau larang anakmu menari,
karena katanya “terlalu kebarat-baratan,”
lalu kau rayakan ulang tahun,
dengan tumpeng di restoran Jepang.
Kata mereka,
perempuan harus duduk manis,
tak boleh keluar malam,
tak boleh bicara lantang,
tak boleh melawan orang tua!
Kita sembah simbol dan seragam,
lebih dari rasa dan pikiran,
Kita banggakan upacara dan ritual,
lupa bahwa nilai bukanlah formal.
(Jakarta, 2025)
Di antara denyut kota yang tak pernah diam,
kita tumbuh dalam warna-warna yang tak serupa,
ada bahasa yang berbeda,
ada doa yang naik dari arah berlainan,
namun semua menjahit langit yang sama.
Toleransi bukan sekadar kata yang dilafalkan,
ia adalah ruang yang terbuka dalam perjumpaan,
tempat orang lain bisa singgah tanpa takut,
tempat perbedaan setara tanpa drama.
Keberagaman layaknya hamparan taman yang indah,
yang tak meminta bunga menjadi serupa;
setiap warna menegaskan makna,
setiap aroma menyempurnakan udara.
Dan dalam arus multikultur yang mengalir lembut,
kita belajar bahwa identitas adalah jembatan.
Di ujung hari,
kita akan saling mengerti,
pluralisme adalah cara mencintai,
dengan saling menjaga dan memahami,
membangun peradaban dengan cara manusiawi.
(Jakarta, 2025)
.
Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...