“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Di layar media,
kata menjelma senjata,
menyelinap di sela waktu,
ribuan jiwa tersentuh,
berisik yang tampak benar,
seringkali menyesatkan, tanpa sadar.
Akses luas bagai samudra tanpa batas,
setiap ombak membawa pesan tak jelas,
siapa yang tahu,
di balik akun tanpa nama,
ada bara yang menanti tersulut menyala.
Anonimitas,
jadilah topeng sempurna,
menari di balik tirai maya,
mengguncang dunia secara nyata,
dari kebencian dan dusta tanpa makna.
Dari percakapan komunitas senyap,
mereka bertukar api dalam gelap,
menyulam ideologi dengan benang fanatik,
mengikat hati dalam simpul retorik.
Oh media sosial,
engkau jembatan dan jurang sekaligus,
di tangan bijak, engkau cahaya,
di tangan buta, engkau bisa jadi bencana.
(Jakarta, 2025)
Puisi yang kutulis ini,
bukanlah puisi miliknya,
malam datang silih berganti,
meninggalkan sepi di antara jeda.
Seorang perempuan tua menatap foto di ruang tamu,
tersenyum kecil sambil menahan waktu,
di matanya tersimpan doa yang tak bersuara,
menyusuri jarak yang tak bisa dijangkau langkah.
Mengenang segala percakapan,
merahnya gincu dalam kelembutan,
suara dari kejauhan terdengar rapuh,
seperti daun yang rindu tanah tempat ia tumbuh.
Puisi yang kutulis ini,
bukanlah puisi miliknya,
seorang remaja yang beranjak dewasa,
berlarian di antara gedung dan ambisi,
di hati kecilnya tersisa ruang yang hampa,
entah mengapa perasaannya begitu sepi.
Kesepian itu bukan karena sendiri,
bukan pula karena tak ingin menghampiri,
tapi kerinduan yang belum sempat berlabuh,
waktu selalu berjalan lebih cepat dari perjumpaan,
membentang jarak antara kenangan dan kenyataan.
(Jakarta, 2025)
Di tanah yang katanya luhur,
aku tumbuh seperti benih yang tak boleh berbeda warna,
“Begini caranya hidup,” kata mereka,
sambil menancapkan warisan yang tak pernah kutanya.
Kupakai kain kebesaran,
tapi terasa seperti tali penjara,
Kupelajari tutur sopan,
tapi suara hatiku diminta diam saja.
Katanya perempuan harus jinak,
katanya lelaki tak boleh menangis,
Katanya adat harus ditaati,
meski logika menangis dan nurani terus mengiris.
Kudengar kisah nenek moyang,
yang membela tanah dengan darah,
lalu kenapa kini kita,
membela warisan dengan menyakiti darah daging kita?
Aku mencintai tanah ini,
tapi bukan luka yang diwarisinya,
Aku hormati sejarah dan akar,
tapi bukan rantai yang mencekik masa depan.
Jika tradisi adalah api,
biarkan aku jadi angin yang menari.
Bukan untuk memadamkan,
tapi memberi ruang bagi nyala yang berarti.
(Jakarta, 2025)
Wahai pewaris adat suci,
yang bangga berteriak dari atas kursi,
“Ini warisan leluhur kami!”
meski tak tahu cara menanam padi.
Engkau larang anakmu menari,
karena katanya “terlalu kebarat-baratan,”
lalu kau rayakan ulang tahun,
dengan tumpeng di restoran Jepang.
Kata mereka,
perempuan harus duduk manis,
tak boleh keluar malam,
tak boleh bicara lantang,
tak boleh melawan orang tua!
Kita sembah simbol dan seragam,
lebih dari rasa dan pikiran,
Kita banggakan upacara dan ritual,
lupa bahwa nilai bukanlah formal.
(Jakarta, 2025)
Di antara denyut kota yang tak pernah diam,
kita tumbuh dalam warna-warna yang tak serupa,
ada bahasa yang berbeda,
ada doa yang naik dari arah berlainan,
namun semua menjahit langit yang sama.
Toleransi bukan sekadar kata yang dilafalkan,
ia adalah ruang yang terbuka dalam perjumpaan,
tempat orang lain bisa singgah tanpa takut,
tempat perbedaan setara tanpa drama.
Keberagaman layaknya hamparan taman yang indah,
yang tak meminta bunga menjadi serupa;
setiap warna menegaskan makna,
setiap aroma menyempurnakan udara.
Dan dalam arus multikultur yang mengalir lembut,
kita belajar bahwa identitas adalah jembatan.
Di ujung hari,
kita akan saling mengerti,
pluralisme adalah cara mencintai,
dengan saling menjaga dan memahami,
membangun peradaban dengan cara manusiawi.
(Jakarta, 2025)
.
Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...