Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP sudah biasa menggambar. Tetapi, ketika diajak menggambar bersama mengunakan media baju, mereka tampak bersemangat. Mereka menuangkan idenya dengan bebas dengan rasa yang senang. Mulai dari menggambar hingga mewarnai dengan pilihan warna memikat. Mereka juga bahagia ketika melakukan daur ulang kertas, sebagai berproses untuk mengetahui bahwa kertas itu memang bersumber dari alam.
Itulah suasana kegiatan bertajuk Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bersama mitra, yakni Kupu-Kupu Learning Center, beberapa waktu lalu. Anak-anak yang terlibat begitu antusias. Mereka tak hanya siap pratek melukis secara langsung, tetapi juga menyiapkan berbagai alat dan sarananya. Walau dilakukan beberapa jam, namun canda dan tawa mewarnai aktivitas seni mereka.
“Program Inovasi Seni Nusantara ini bertujuan untuk penguatan Emotional Engagement, dalam mengantisifasi bullying dan menguatkan kreativitas anak melalui Medium Inovasi Ekspresif (MIE),” kata Ketua PISN ISI Bali, Dr. I Nyoman Larry Julianto, S.Sn.,M.Ds yang didampingi anggota, seperti Ida Bagus Hari Kayana Putra, S.Kom.,M.Sn; Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati M.Pd; dan Ni Luh Indah Desira Swandi, S.Psi.,M.Psi. serta beberapa mahasiswa itu.

Kegiatan tersebut berlangsung akrab di Kupu-Kupu Learning Center yang meliputi berbagai kegiatan, seperti Tie-Dye (30 Oktober 2024), menggambar dan mewarnai di T-Shirt (19 Oktober 2025), daur ulang kertas (11 November 2025) dan kegiatan ecoprint (19 Oktober 2025). Sementara kegiatan bersama mitra MGMP Seni Budaya untuk menggambar dan mewarnai di TShirt dilaksankan pada 27 Oktober 2025.
Salah satu orang tua siswa menyebut kegiatan ini sangat positif. Apalagi, belakangan ini sering terjadi kasus bullying terhadap anak-anak, sehingga adanya kegiatan anak-anak tidak terfokus pada hal-hal yang tidak diinginkan. “Kami berharap kedepannya anak-anak ini menjadi lebih ekspresif, berani bisa mengontrol emosi, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya kasus bullying yang marak terjadi belakangan ini,” ucapnya.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya, Ni Made Setyawati, S.Pd mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada Tim PISN Kampus ISI Bali. Itu karena Tim PISN Kampus ISI Bali telah memberikan waktu sebagai mitra kerjasama dalam program Inovasi Seni Nusantara ini. “Mudah-mudahan peserta didik kami bisa menjauhi bullying tersebut,” harap Setyawati.
Sementara guru sekolah lainnya yang sedang mengajak siswa siswinya, juga merasa sangat gembira dalam mengikuti program ini. Melalui program ini, anak-anak mempunyai aktivitas baru yang menghindarkan mereka dari pemikiran untuk melakukan Bullying kepada sesama teman. “Paling penting, anak-anak mereka merasa senang dalam mengikuti program ini, disamping untuk mendapatkan pengalaman baru bersama teman-temannya,” harapnya.

Manager Kupu-Kupu Learning Center, Ni Putu Nita Rahayu mengaku senang dengan Program Inovasi Seni Nusantara yang mendidik dan bermanfaat. “Kami dari Kupu-Kupu Learning Center sangat senang sekali dengan diadakannya program ini. Mudah-mudahan program seperti ini lebih banyak lagi di masa depan, sehingga kita bisa mewujudkan generasi muda yang berkualitas,” ucap Nita Rahayu senang.
Sedangkan, Larry Julianto mengatakan, program ini sesungguhnya untuk menjalin hubungan yang baik antara siswa atau anak dengan anak lainnya, kemudian anak dengan gurunya dan anak dengan orang tuanya. Semua kegiatan melibatkan Siswa SD dan SMP, orang tua siswa dan guru mata pelajaran seni budaya untuk meningkatkan Emotional Engagement. “Kegiatan ini merupakan implementasi dari konsep yang kita rancang bersama mitra sasaran, yaitu Kupu-Kupu Learning Center yakni MIE,” tegasnya.

Selain menggambar di baju dan daur ulang kertas, anak-anak juga diajak mengekspresikan seni dan desain di dalam kain, yaitu Tie-Dye, dan sebagai implementasi yang lainnya adalah Ecoprint yang dilakukan bersama mitra sasaran. “Bersama mitra, kami bekerjasama menyebarluaskan Program MIE ini melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya. Tujuan dari PISN ini adalah menyasar supaya kasus Bullying bisa semakin ditekan di Bali,” ungkap Larry Julianto. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...