CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesunyian, suara dengung mengalun pelan—lebih seperti napas daripada musik. Dari situ Aguru Waktra dimulai, bukan dengan letupan narasi, melainkan dengan panggilan lembut yang mengajak penonton kembali mendengar sesuatu yang telah lama mereka abaikan: suara alam.
Karya ini ditulis dan disutradarai oleh I Putu Ardiyasa, seorang dalang dan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menjembatani tradisi pewayangan Bali dengan praktik teater kontemporer. Aguru Waktra adalah salah satu upaya terpentingnya—sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi pengobatan kuno (pengusadhan), namun menjelma menjadi ruang renung tentang pengetahuan, spiritualitas, dan krisis ekologi hari ini.
Sore itu, di Masa Masa Beranda, Gianyar, Bali, dalam program “Panggung Hidup” serangkaian Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025, Selasa (4/11/2025), Aguru Waktra menjadi pusat perhatian. Aguru Waktra berangkat dari naskah lontar Buda Kecapi.
Gunungan, properti pertunjukan "Aguru Waktra" oleh Komunitas Seni Lemah Tulis di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Pertunjukan ini dipentaskan pertama kali di Singaraja Literary Festival (SLF) yang digelar Yayasan Mahima Indonesia di Singaraja (Juli 2025) dengan tema Buda Kecapi. Dan Komunitas Seni Lemah Tulis—komunitas yang memproduksi dan mementaskan Aguru Waktra—mendapat kesempatan untuk melakukan proses alihwahana dan memanggungkan kisah dari lontar Buda Kecapi itu pada sesi pertunjukan di SLF. Dari situlah, Aguru Waktra beranjak ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 sebelum dipanggungkan di pembukaan B-PART 2025.
Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama dan grup, seperti Gung Surya, Adit, Anang, Mang Nila, dan Dina (aktor); Made Adnyana Ole (dramaturg); Batria Dama (koreografer); Renggama (komposer); dan Juliawan, Edi, Abdhi, MK Lomos CS (artistik dan crew); lalu Hari Mukti dan Ria (kesekretariatan).
Antara Spiritual dan Ekologi
Di tangan Ardi, tubuh menjadi teks yang dibaca dengan kesunyian. Para pemain tak banyak berbicara; mereka justru mengucapkan sesuatu lewat cara mereka bergerak. Tubuh Kalimosadha dan Kalimosadhi—dua murid Buda Kecapi dalam narasi—bergerak pelan, terukur, bahkan di batas diam. Dari tubuh-tubuh itu kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu diturunkan lewat kata, melainkan lewat ritme, pernapasan, dan kesadaran akan ruang.
Sebagaimana ditulis Michael H.B. Raditya (2019), tubuh dalam pertunjukan tradisi adalah “arsip hidup”—penyimpan pengetahuan yang tak tercatat, tapi terus diwariskan. Dalam Aguru Waktra, tubuh itu bukan sekadar simbol, melainkan jembatan antara dunia material dan spiritual. Ketika tangan para pemain menyentuh tanah, kita seperti menyaksikan manusia yang tengah belajar kembali berbahasa dengan bumi.
Para aktor dalam pertunjukan "Aguru Waktra" yang dipentaskan di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Yang menarik, Ardi tidak terjebak dalam bentuk teater simbolik yang kering. Ia menjaga ritus sebagai inti dari pengalaman menonton. Seperti catatan Zen Hae (2009), pertunjukan yang baik “tidak perlu banyak bicara, asal mampu menyalakan getar kehidupan.” Di sini, Aguru Waktra berbicara lewat kesederhanaannya. Cahaya, suara gamelan, tarian yang berakar dari Gambuh dan Arja, narasi puitik, menjadi bagian dari tubuh pertunjukan yang utuh—sebuah peristiwa yang lebih dekat dengan meditasi daripada tontonan.
Tema besar yang diangkat Ardi berakar dari pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendasar: Dari mana sumber obat? Apakah masih ada kekuatan alam yang menjaga kemanjurannya? Apakah manusia modern masih pantas disebut penyembuh ketika ia sendiri telah melukai bumi?
Lewat kisah Kalimosadha dan Kalimosadhi yang belajar pada Buda Kecapi, Aguru Waktra memvisualisasikan proses belajar yang spiritual dan ekologis sekaligus. Ia mengingatkan bahwa obat tidak hanya lahir dari tumbuhan, melainkan dari hubungan yang harmonis antara manusia, tanah, dan air. Ketika air keruh, tanah gersang, dan tumbuhan kehilangan taksu-nya, maka hilang pula daya penyembuh yang sejati.
Sebagaimana kerangka pemikiran Fritjof Capra dalam The Web of Life (1996), Ardi menampilkan krisis ekologi sebagai krisis kesadaran: manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan jaringan kehidupan yang lebih luas. Aguru Waktra menjadi panggung di mana pengetahuan lokal Bali—yang melihat alam sebagai makhluk hidup—berdialog dengan keresahan global tentang degradasi lingkungan.
Repertoar yang Potensial
Pementasan Aguru Waktra oleh Komunitas Lemah Tulis menegaskan pentingnya kolaborasi antara riset budaya dan kepekaan artistik. Tata panggungnya sederhana namun sarat simbol yang ditampilkan sebuah gunungan dalam pewayangan yang tertancap di panggung. Gunungan itu menampilkan gambaran dunia modern dengan gedung-gedung bertingkat yang merangsek rerimbunan hutan.
Aktor perempuan dalam pertunjukan "Aguru Waktra" yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Pertunjukan ini tak berjarak dari ritual. Ia terasa seperti upacara kecil—bukan dalam arti liturgi agama, melainkan dalam makna ritus perenungan. Penonton tidak diajak menilai, tapi mengalami. Seperti dalam konsep “deep ecology” yang diuraikan oleh Arne Naess, kesadaran ekologis sejati lahir dari pengalaman spiritual langsung, bukan dari pengetahuan rasional. Ardi menghadirkan pengalaman itu di panggung, membuat seni menjadi wahana pembelajaran spiritual tentang hubungan manusia dan alam.
Lewat karya ini, Ardi sepertinya tidak sedang mengajarkan pengetahuan baru, melainkan mengingatkan kita pada pengetahuan purba yang telah lama kita tinggalkan. Alam adalah guru, tubuh adalah teks, dan pertunjukan adalah ruang belajar di mana keduanya kembali bersatu. Dalam dunia yang semakin bising, Aguru Waktra mengajak kita mendengarkan kembali sesuatu yang paling sunyi: suara bumi itu sendiri.
Namun, menurut saya, meski kuat dalam konsepsi dan atmosfer, Aguru Waktra menyisakan beberapa ruang untuk dikembangkan. Keheningan yang menjadi kekuatannya terkadang berbalik menjadi jarak—terutama bagi penonton yang tidak familiar dengan simbol dan terminologi pengusadhan. Beberapa bagian terasa terlalu lambat, membuat tensi dramaturgi menurun di tengah pertunjukan.
Aktor dalam pertunjukan "Aguru Waktra" yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Selain itu, narasi antara Kalimosadha, Kalimosadhi, dan Buda Kecapi yang begitu potensial secara filosofis, belum sepenuhnya digarap sebagai relasi dinamis. Ada saat-saat ketika dialog tubuh mereka seakan kehilangan arah, padahal relasi guru-murid ini bisa menjadi jantung dramaturgi yang memperkuat alur spiritual karya.
Ardi tampaknya lebih memilih menekankan pengalaman rasa daripada alur cerita. Keputusan itu menarik, namun tetap memerlukan keseimbangan antara simbolisme dan emosi agar pesan ekologis tidak terperangkap dalam keindahan yang terlalu sunyi.
Aktor perempuan dalam pertunjukan "Aguru Waktra" yang dipentaskan di panggung B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Sepertinya, dengan sedikit perbaikan pada ritme dan eksplorasi emosi antartokoh, Aguru Waktra berpotensi menjadi karya yang lebih menggugah—tidak hanya menyentuh lapisan kesadaran intelektual, tetapi juga menggetarkan sisi afektif penonton.[T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...