Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesunyian, suara dengung mengalun pelan—lebih seperti napas daripada musik. Dari situ Aguru Waktra dimulai, bukan dengan letupan narasi, melainkan dengan panggilan lembut yang mengajak penonton kembali mendengar sesuatu yang telah lama mereka abaikan: suara alam.
Karya ini ditulis dan disutradarai oleh I Putu Ardiyasa, seorang dalang dan akademisi di IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten menjembatani tradisi pewayangan Bali dengan praktik teater kontemporer. Aguru Waktra adalah salah satu upaya terpentingnya—sebuah pertunjukan yang berangkat dari tradisi pengobatan kuno (pengusadhan), namun menjelma menjadi ruang renung tentang pengetahuan, spiritualitas, dan krisis ekologi hari ini.
Sore itu, di Masa Masa Beranda, Gianyar, Bali, dalam program “Panggung Hidup” serangkaian Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025, Selasa (4/11/2025), Aguru Waktra menjadi pusat perhatian. Aguru Waktra berangkat dari naskah lontar Buda Kecapi.

Pertunjukan ini dipentaskan pertama kali di Singaraja Literary Festival (SLF) yang digelar Yayasan Mahima Indonesia di Singaraja (Juli 2025) dengan tema Buda Kecapi. Dan Komunitas Seni Lemah Tulis—komunitas yang memproduksi dan mementaskan Aguru Waktra—mendapat kesempatan untuk melakukan proses alihwahana dan memanggungkan kisah dari lontar Buda Kecapi itu pada sesi pertunjukan di SLF. Dari situlah, Aguru Waktra beranjak ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 sebelum dipanggungkan di pembukaan B-PART 2025.
Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama dan grup, seperti Gung Surya, Adit, Anang, Mang Nila, dan Dina (aktor); Made Adnyana Ole (dramaturg); Batria Dama (koreografer); Renggama (komposer); dan Juliawan, Edi, Abdhi, MK Lomos CS (artistik dan crew); lalu Hari Mukti dan Ria (kesekretariatan).
Di tangan Ardi, tubuh menjadi teks yang dibaca dengan kesunyian. Para pemain tak banyak berbicara; mereka justru mengucapkan sesuatu lewat cara mereka bergerak. Tubuh Kalimosadha dan Kalimosadhi—dua murid Buda Kecapi dalam narasi—bergerak pelan, terukur, bahkan di batas diam. Dari tubuh-tubuh itu kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu diturunkan lewat kata, melainkan lewat ritme, pernapasan, dan kesadaran akan ruang.
Sebagaimana ditulis Michael H.B. Raditya (2019), tubuh dalam pertunjukan tradisi adalah “arsip hidup”—penyimpan pengetahuan yang tak tercatat, tapi terus diwariskan. Dalam Aguru Waktra, tubuh itu bukan sekadar simbol, melainkan jembatan antara dunia material dan spiritual. Ketika tangan para pemain menyentuh tanah, kita seperti menyaksikan manusia yang tengah belajar kembali berbahasa dengan bumi.

Yang menarik, Ardi tidak terjebak dalam bentuk teater simbolik yang kering. Ia menjaga ritus sebagai inti dari pengalaman menonton. Seperti catatan Zen Hae (2009), pertunjukan yang baik “tidak perlu banyak bicara, asal mampu menyalakan getar kehidupan.” Di sini, Aguru Waktra berbicara lewat kesederhanaannya. Cahaya, suara gamelan, tarian yang berakar dari Gambuh dan Arja, narasi puitik, menjadi bagian dari tubuh pertunjukan yang utuh—sebuah peristiwa yang lebih dekat dengan meditasi daripada tontonan.
Tema besar yang diangkat Ardi berakar dari pertanyaan-pertanyaan sederhana namun mendasar: Dari mana sumber obat? Apakah masih ada kekuatan alam yang menjaga kemanjurannya? Apakah manusia modern masih pantas disebut penyembuh ketika ia sendiri telah melukai bumi?
Lewat kisah Kalimosadha dan Kalimosadhi yang belajar pada Buda Kecapi, Aguru Waktra memvisualisasikan proses belajar yang spiritual dan ekologis sekaligus. Ia mengingatkan bahwa obat tidak hanya lahir dari tumbuhan, melainkan dari hubungan yang harmonis antara manusia, tanah, dan air. Ketika air keruh, tanah gersang, dan tumbuhan kehilangan taksu-nya, maka hilang pula daya penyembuh yang sejati.
Sebagaimana kerangka pemikiran Fritjof Capra dalam The Web of Life (1996), Ardi menampilkan krisis ekologi sebagai krisis kesadaran: manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan jaringan kehidupan yang lebih luas. Aguru Waktra menjadi panggung di mana pengetahuan lokal Bali—yang melihat alam sebagai makhluk hidup—berdialog dengan keresahan global tentang degradasi lingkungan.
Pementasan Aguru Waktra oleh Komunitas Lemah Tulis menegaskan pentingnya kolaborasi antara riset budaya dan kepekaan artistik. Tata panggungnya sederhana namun sarat simbol yang ditampilkan sebuah gunungan dalam pewayangan yang tertancap di panggung. Gunungan itu menampilkan gambaran dunia modern dengan gedung-gedung bertingkat yang merangsek rerimbunan hutan.

Pertunjukan ini tak berjarak dari ritual. Ia terasa seperti upacara kecil—bukan dalam arti liturgi agama, melainkan dalam makna ritus perenungan. Penonton tidak diajak menilai, tapi mengalami. Seperti dalam konsep “deep ecology” yang diuraikan oleh Arne Naess, kesadaran ekologis sejati lahir dari pengalaman spiritual langsung, bukan dari pengetahuan rasional. Ardi menghadirkan pengalaman itu di panggung, membuat seni menjadi wahana pembelajaran spiritual tentang hubungan manusia dan alam.
Lewat karya ini, Ardi sepertinya tidak sedang mengajarkan pengetahuan baru, melainkan mengingatkan kita pada pengetahuan purba yang telah lama kita tinggalkan. Alam adalah guru, tubuh adalah teks, dan pertunjukan adalah ruang belajar di mana keduanya kembali bersatu. Dalam dunia yang semakin bising, Aguru Waktra mengajak kita mendengarkan kembali sesuatu yang paling sunyi: suara bumi itu sendiri.
Namun, menurut saya, meski kuat dalam konsepsi dan atmosfer, Aguru Waktra menyisakan beberapa ruang untuk dikembangkan. Keheningan yang menjadi kekuatannya terkadang berbalik menjadi jarak—terutama bagi penonton yang tidak familiar dengan simbol dan terminologi pengusadhan. Beberapa bagian terasa terlalu lambat, membuat tensi dramaturgi menurun di tengah pertunjukan.

Selain itu, narasi antara Kalimosadha, Kalimosadhi, dan Buda Kecapi yang begitu potensial secara filosofis, belum sepenuhnya digarap sebagai relasi dinamis. Ada saat-saat ketika dialog tubuh mereka seakan kehilangan arah, padahal relasi guru-murid ini bisa menjadi jantung dramaturgi yang memperkuat alur spiritual karya.
Ardi tampaknya lebih memilih menekankan pengalaman rasa daripada alur cerita. Keputusan itu menarik, namun tetap memerlukan keseimbangan antara simbolisme dan emosi agar pesan ekologis tidak terperangkap dalam keindahan yang terlalu sunyi.

Sepertinya, dengan sedikit perbaikan pada ritme dan eksplorasi emosi antartokoh, Aguru Waktra berpotensi menjadi karya yang lebih menggugah—tidak hanya menyentuh lapisan kesadaran intelektual, tetapi juga menggetarkan sisi afektif penonton.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...