Kelak Apakah Jokowi Tak Berkenan Dikenang Sebagai Penyair?
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
SETIAP tanggal 10 November, bangsa ini menundukkan kepala mengenang perjuangan para pahlawan. Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan pertempuran Surabaya atau deretan nama di tugu-tugu batu. Ia adalah cermin yang menuntun kita untuk bertanya: sudah sejauh mana kita mewarisi jiwa kepahlawanan itu dalam kehidupan hari ini?
Di tengah derasnya arus digital dan derasnya perubahan sosial, semangat kepahlawanan kini tak lagi selalu ditandai dengan angkat senjata, melainkan dengan keberanian berpikir, berbuat, dan berkorban untuk kebenaran, kemanusiaan, dan kemajuan bangsa. Dan di sinilah pendidikan kembali memegang peran sentral—sebagaimana telah ditanamkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.
Bagi Ki Hadjar, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan manusia merdeka lahir dan batin. Melalui Taman Siswa yang didirikannya pada 1922, beliau mengajarkan bahwa manusia harus dididik untuk menjadi pribadi yang beradab, berjiwa nasional, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Konsep ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani bukan hanya semboyan pendidikan, tetapi juga prinsip kepemimpinan dan kepahlawanan :
Ki Hadjar memahami bahwa bangsa yang merdeka harus dibangun oleh manusia merdeka. Dan manusia merdeka lahir dari pendidikan yang membebaskan, bukan mengekang.
Sayangnya, di era modern ini, semangat Taman Siswa sering kali tenggelam oleh hiruk-pikuk prestasi akademik, ranking, dan angka rapor. Pendidikan lebih sering diarahkan untuk “menghasilkan tenaga kerja” daripada “melahirkan manusia pejuang”.
Padahal, pahlawan masa depan bukan hanya mereka yang berperang di medan tempur, melainkan mereka yang berjuang dengan pikiran, moral, dan karya. Seorang guru yang setia mendidik anak-anak di pelosok negeri, seorang petani yang menjaga tanahnya dari alih fungsi lahan, seorang ilmuwan muda yang mengabdi untuk energi bersih, seorang siswa yang menolak menyontek—semuanya adalah wujud nyata kepahlawanan zaman kini.
Tugas pendidikan hari ini adalah menumbuhkan empat pilar kepahlawanan baru:
Taman Siswa bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simbol filosofi: taman tempat manusia tumbuh, berkembang, dan berbuah bagi bangsanya. Dalam taman itu, setiap anak adalah benih pahlawan yang harus disiram dengan kasih, dibimbing dengan teladan, dan dikuatkan dengan nilai-nilai luhur.
Jika sekolah-sekolah hari ini mampu menjadi taman semacam itu—tempat tumbuhnya manusia yang merdeka berpikir dan berjiwa nasional—maka bangsa ini tak akan kekurangan pahlawan di masa depan. Sebab, setiap anak yang berakhlak, berkarakter, dan bangga menjadi Indonesia adalah pahlawan yang sedang tumbuh.
Hari Pahlawan bukan hanya waktu untuk mengenang, tetapi juga momentum untuk bertindak. Tugas kita bukan hanya mengisi kemerdekaan, tetapi juga mempertahankan dan mengharumkannya melalui pendidikan yang mencerdaskan budi, bukan sekadar otak.
Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”
Maka, setiap tindakan kita—di rumah, di sekolah, di kantor, di ladang—adalah ruang untuk menanamkan nilai kepahlawanan. Di sanalah pendidikan sejati hidup. Di sanalah taman-taman kecil pahlawan masa depan disemai. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
Ketika cara dominasi melalui ototarian telah usang, hegemoni menjadi cara yang paling ampuh untuk menguasai kaum marginal. Apa dominasi, apa hegemoni? Dominasi identik dengan keker...
Selain DKI Jakarta, sebenarnya banyak daerah bersiap menggelar Pilkada serentak, Februari 2017, termasuk Buleleng, Bali, daerah kelahiran saya. Namun perhatian orang di Indonesia i...