Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali
LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa l...
KERAJAAN Rantawulung dikenal sebagai negeri yang makmur, namun di dalam istana, benih pengkhianatan tumbuh di hati Raja Bhre Manendra. Ia tidak pernah melupakan penghinaan yang dirasakannya beberapa tahun silam. Kala itu, ia menginginkan Liris, anak perempuan Patih Garjita, menjadi selirnya. Namun, jawaban patih setia itu membuatnya murka.
“Ampun, Gusti. Hamba harus bertanya kepada Liris terlebih dahulu. Kehormatan keluarga kami juga kehendaknya,” ucap Garjita dengan wajah tunduk.
Raja merasa diremehkan karena Garjita berani menunda kehendak raja. Meski akhirnya Liris tetap menjadi selir setelah dibujuk Garjita, Raja Manendra tak pernah melupakan penghinaan itu. Ia merancang balas dendam yang tak hanya ingin menghukum Garjita, tetapi juga menghancurkan keluarganya.
Hari itu, di balairung istana, Raja Bhre Manendra memanggil Patih Garjita untuk tugas besar. “Garjita, aku memilihmu untuk tugas paling mulia yang pernah diberikan kepada seorang patih,” ujar Raja, suaranya penuh kepalsuan. “Di perbatasan utara, ada pemberontakan dari para pengikut sekte Bathara Murti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menumpas mereka. Namun, ada satu syarat.”
Patih Garjita menunduk. “Hamba siap menjalankan titah, Gusti.”
“Ini bukan hanya tentang pedang dan strategi. Para pemberontak menyembunyikan pemimpin mereka di sebuah kuil keramat di Bukit Tandra. Kau harus membawa api suci dari kuil itu ke istana untuk membuktikan bahwa Bathara Murti tidak lebih kuat dari kehendak para dewa yang kita anut,” ujar Raja sambil menyeringai.
Tugas itu terdengar mustahil. Bukit Tandra dikenal angker, penuh jebakan alam, dijaga dengan sihir hitam, konon tak ada yang kembali hidup setelah memasuki wilayah itu. Tapi Patih Garjita, dengan setia buta, menerima tugas itu tanpa keluh.
Di malam terakhir sebelum keberangkatan, Liris memohon kepada ayahnya untuk tidak pergi. “Ayah, bukankah tugas ini terlalu berbahaya? Apakah Ayah tidak merasa ada yang aneh dengan titah raja?” tanya Liris, matanya berkaca-kaca
Garjita menggenggam tangan putrinya. “Liris, kita hidup di bawah bayangan raja. Kesetiaanku adalah kehormatanku. Jangan khawatir, doa dan restumu adalah pelindung terbaikku.” Garjita pantang mengingkari kesepakatan dengan raja, hingga ia berangkat bersama pasukannya.
Liris hanya bisa menahan tangis.
Di perjalanan menuju Bukit Tandra, Garjita mulai melihat keanehan. Ketika malam tiba, mereka dihantui oleh suara angin yang membawa bisikan-bisikan aneh. Salah satu prajurit melaporkan bahwa jejak kaki mereka selalu kembali ke tempat yang sama, seperti berjalan dalam lingkaran. Para prajurit yang ikut bersamanya ketakutan.
Namun, Garjita tetap teguh. Ia memimpin mereka hingga tiba di kuil keramat Bathara Murti. Bangunan itu tampak seperti gumpalan batu hitam yang mencakar langit, dihiasi patung-patung dewa dengan mata kosong dan senyum menyeramkan.
Ketika mereka memasuki kuil, jebakan pertama langsung membunuh beberapa prajurit. Panah-panah meluncur dari dinding, dan lantai runtuh menjadi lubang berisi tombak-tombak tajam. Tapi Garjita terus maju. Baginya, kehormatan lebih penting dari hidupnya.
Di tengah kuil, ia menemukan api suci yang dimaksudkan oleh Raja Manendra. Api itu menyala biru, tidak mengeluarkan panas, namun terasa seperti membakar jiwa. Ketika Garjita mencoba mengambilnya, suara gaib menggema.
“Patih Garjita, apakah kau tahu apa yang kau bawa? Api ini bukan untuk manusia sepertimu,” ujar suara itu.
Garjita, meski gemetar, menjawab, “Aku membawanya untuk menghancurkan pemberontakan dan membuktikan kehendak para dewa.”
Suara itu tertawa. “Ataukah ini hanya kehendak seorang raja yang ingin memusnahkanmu?”
Garjita terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Namun, ia tetap mengambil api suci itu dan melangkah keluar dari kuil. Berhasil membawa api suci, bukan lantas perjalanan setelahnya berjalan mulus. Bahkan perjalanan menuju ke Rantawulung menjadi lebih berat. Satu per satu prajurit tewas oleh jebakan dan serangan makhluk-makhluk gaib yang muncul di malam hari. Garjita mampu kembali ke istana, ia sendirian, tubuhnya penuh luka, matanya merah karena kurang tidur. Di balairung, Raja Manendra menyambutnya dengan senyuman dingin. “Patih yang setia, kau benar-benar luar biasa. Kau membawa api suci dari kuil Bathara Murti,” ujar Raja.
Namun, senyum itu segera berubah menjadi sesuatu yang jahat. “Tapi, aku harus memberitahumu sesuatu, Garjita. Api itu sebenarnya tidak ada artinya. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kesetiaanmu setelah penghinaan yang kau lakukan kepadaku bertahun-tahun lalu.”
Patih Garjita tertegun. “Ampun, Gusti. Hamba tidak mengerti.”
Raja berdiri dari tahtanya, menatap Garjita dengan penuh kebencian. “Kau menolak kehendakku dulu, Garjita. Kau membuatku tampak lemah di hadapan dewan istana. Jadi, aku ingin memastikan kau mati dengan cara yang lebih menyakitkan. Api yang kau bawa itu membawa kutukan. Siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan jiwa dan akalnya.”
Garjita gemetar. Tangannya yang memegang wadah api biru mulai terbakar. Namun, yang terbakar bukanlah tubuhnya, melainkan kenangan-kenangannya. Ia melihat wajah istrinya, Liris, dan masa mudanya lenyap seperti asap.
Raja Manendra tersenyum puas, yakin bahwa Garjita akan hancur di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Api biru itu meledak, menyelimuti tubuh Garjita, tetapi tidak membunuhnya. Sebaliknya, api itu tampak menyatu dengan jiwa sang patih.
Ketika Garjita membuka mata, bola matanya bersinar biru. Ia kini terlihat seperti makhluk lain, lebih kuat, dan mengerikan.
Raja Manendra mundur ketakutan. “Apa yang terjadi padamu?”
Garjita menatapnya dengan senyum tipis. “Terima kasih, Gusti, karena telah mengirimku ke kuil itu. Aku kini memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.”
Dengan satu gerakan cepat, Garjita mengangkat tangan, dan api biru itu menyelimuti tubuh Raja Manendra. Sang raja menjerit, tubuhnya terbakar hingga tak tersisa, sementara Garjita berdiri dengan tenang.
Ketika pagi tiba, Garjita memanggil dewan istana. Dengan nada tegas, ia berkata, “Raja Bhre Manendra telah dihukum oleh para dewa karena kesombongannya. Semoga setelah ini, tahta kerajaan akan dipegang oleh seorang pemimpin yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.”
Para bangsawan terdiam. Aura baru Garjita, yang kini tampak seperti utusan para dewa, membuat mereka tunduk tanpa perlawanan. Sementara Liris, di tempat yang jauh dari balairung, merasa angin pagi membawa pesan dari ayahnya. [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa l...
Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang. *** Halaman rum...
Anaknya Bajang SudahPandai Merawat Bumi ibu tersenyum sewaktu anaknyabajang bilang. telah selesai membacabuku panduan merawat ibu anaknya bajang mulai rajinmenyirami tanaman...
Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam ingatan kita, seperti api unggun kecil yang terus meny...
MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu mengintervensi...
Dari Lorenz ke Kepakan Kesadaran Konsep butterfly effect lahir dari penelitian Edward Lorenz di Massachusetts Institute of Technology pada awal 1960-an. Saat itu, Lorenz mengul...
O SHIRINGUL Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; ding...
DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan item yang mewakili ketidakmampuan finan...
UNIT rock tunanetra Filla kembali menegaskan eksistensinya di kancah musik lewat perilisan single terbaru berjudul I’m a Fire yang kini resmi tayang di YouTube. Lagu ini hadir seb...
“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan berpuasa, tapi malah makan besar.” Made Bagus...