Narasi Keriangan Indonesia di Festival Tepi Sawah
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
KERAJAAN Rantawulung dikenal sebagai negeri yang makmur, namun di dalam istana, benih pengkhianatan tumbuh di hati Raja Bhre Manendra. Ia tidak pernah melupakan penghinaan yang dirasakannya beberapa tahun silam. Kala itu, ia menginginkan Liris, anak perempuan Patih Garjita, menjadi selirnya. Namun, jawaban patih setia itu membuatnya murka.
“Ampun, Gusti. Hamba harus bertanya kepada Liris terlebih dahulu. Kehormatan keluarga kami juga kehendaknya,” ucap Garjita dengan wajah tunduk.
Raja merasa diremehkan karena Garjita berani menunda kehendak raja. Meski akhirnya Liris tetap menjadi selir setelah dibujuk Garjita, Raja Manendra tak pernah melupakan penghinaan itu. Ia merancang balas dendam yang tak hanya ingin menghukum Garjita, tetapi juga menghancurkan keluarganya.
Hari itu, di balairung istana, Raja Bhre Manendra memanggil Patih Garjita untuk tugas besar. “Garjita, aku memilihmu untuk tugas paling mulia yang pernah diberikan kepada seorang patih,” ujar Raja, suaranya penuh kepalsuan. “Di perbatasan utara, ada pemberontakan dari para pengikut sekte Bathara Murti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menumpas mereka. Namun, ada satu syarat.”
Patih Garjita menunduk. “Hamba siap menjalankan titah, Gusti.”
“Ini bukan hanya tentang pedang dan strategi. Para pemberontak menyembunyikan pemimpin mereka di sebuah kuil keramat di Bukit Tandra. Kau harus membawa api suci dari kuil itu ke istana untuk membuktikan bahwa Bathara Murti tidak lebih kuat dari kehendak para dewa yang kita anut,” ujar Raja sambil menyeringai.
Tugas itu terdengar mustahil. Bukit Tandra dikenal angker, penuh jebakan alam, dijaga dengan sihir hitam, konon tak ada yang kembali hidup setelah memasuki wilayah itu. Tapi Patih Garjita, dengan setia buta, menerima tugas itu tanpa keluh.
Di malam terakhir sebelum keberangkatan, Liris memohon kepada ayahnya untuk tidak pergi. “Ayah, bukankah tugas ini terlalu berbahaya? Apakah Ayah tidak merasa ada yang aneh dengan titah raja?” tanya Liris, matanya berkaca-kaca
Garjita menggenggam tangan putrinya. “Liris, kita hidup di bawah bayangan raja. Kesetiaanku adalah kehormatanku. Jangan khawatir, doa dan restumu adalah pelindung terbaikku.” Garjita pantang mengingkari kesepakatan dengan raja, hingga ia berangkat bersama pasukannya.
Liris hanya bisa menahan tangis.
Di perjalanan menuju Bukit Tandra, Garjita mulai melihat keanehan. Ketika malam tiba, mereka dihantui oleh suara angin yang membawa bisikan-bisikan aneh. Salah satu prajurit melaporkan bahwa jejak kaki mereka selalu kembali ke tempat yang sama, seperti berjalan dalam lingkaran. Para prajurit yang ikut bersamanya ketakutan.
Namun, Garjita tetap teguh. Ia memimpin mereka hingga tiba di kuil keramat Bathara Murti. Bangunan itu tampak seperti gumpalan batu hitam yang mencakar langit, dihiasi patung-patung dewa dengan mata kosong dan senyum menyeramkan.
Ketika mereka memasuki kuil, jebakan pertama langsung membunuh beberapa prajurit. Panah-panah meluncur dari dinding, dan lantai runtuh menjadi lubang berisi tombak-tombak tajam. Tapi Garjita terus maju. Baginya, kehormatan lebih penting dari hidupnya.
Di tengah kuil, ia menemukan api suci yang dimaksudkan oleh Raja Manendra. Api itu menyala biru, tidak mengeluarkan panas, namun terasa seperti membakar jiwa. Ketika Garjita mencoba mengambilnya, suara gaib menggema.
“Patih Garjita, apakah kau tahu apa yang kau bawa? Api ini bukan untuk manusia sepertimu,” ujar suara itu.
Garjita, meski gemetar, menjawab, “Aku membawanya untuk menghancurkan pemberontakan dan membuktikan kehendak para dewa.”
Suara itu tertawa. “Ataukah ini hanya kehendak seorang raja yang ingin memusnahkanmu?”
Garjita terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Namun, ia tetap mengambil api suci itu dan melangkah keluar dari kuil. Berhasil membawa api suci, bukan lantas perjalanan setelahnya berjalan mulus. Bahkan perjalanan menuju ke Rantawulung menjadi lebih berat. Satu per satu prajurit tewas oleh jebakan dan serangan makhluk-makhluk gaib yang muncul di malam hari. Garjita mampu kembali ke istana, ia sendirian, tubuhnya penuh luka, matanya merah karena kurang tidur. Di balairung, Raja Manendra menyambutnya dengan senyuman dingin. “Patih yang setia, kau benar-benar luar biasa. Kau membawa api suci dari kuil Bathara Murti,” ujar Raja.
Namun, senyum itu segera berubah menjadi sesuatu yang jahat. “Tapi, aku harus memberitahumu sesuatu, Garjita. Api itu sebenarnya tidak ada artinya. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kesetiaanmu setelah penghinaan yang kau lakukan kepadaku bertahun-tahun lalu.”
Patih Garjita tertegun. “Ampun, Gusti. Hamba tidak mengerti.”
Raja berdiri dari tahtanya, menatap Garjita dengan penuh kebencian. “Kau menolak kehendakku dulu, Garjita. Kau membuatku tampak lemah di hadapan dewan istana. Jadi, aku ingin memastikan kau mati dengan cara yang lebih menyakitkan. Api yang kau bawa itu membawa kutukan. Siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan jiwa dan akalnya.”
Garjita gemetar. Tangannya yang memegang wadah api biru mulai terbakar. Namun, yang terbakar bukanlah tubuhnya, melainkan kenangan-kenangannya. Ia melihat wajah istrinya, Liris, dan masa mudanya lenyap seperti asap.
Raja Manendra tersenyum puas, yakin bahwa Garjita akan hancur di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Api biru itu meledak, menyelimuti tubuh Garjita, tetapi tidak membunuhnya. Sebaliknya, api itu tampak menyatu dengan jiwa sang patih.
Ketika Garjita membuka mata, bola matanya bersinar biru. Ia kini terlihat seperti makhluk lain, lebih kuat, dan mengerikan.
Raja Manendra mundur ketakutan. “Apa yang terjadi padamu?”
Garjita menatapnya dengan senyum tipis. “Terima kasih, Gusti, karena telah mengirimku ke kuil itu. Aku kini memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.”
Dengan satu gerakan cepat, Garjita mengangkat tangan, dan api biru itu menyelimuti tubuh Raja Manendra. Sang raja menjerit, tubuhnya terbakar hingga tak tersisa, sementara Garjita berdiri dengan tenang.
Ketika pagi tiba, Garjita memanggil dewan istana. Dengan nada tegas, ia berkata, “Raja Bhre Manendra telah dihukum oleh para dewa karena kesombongannya. Semoga setelah ini, tahta kerajaan akan dipegang oleh seorang pemimpin yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.”
Para bangsawan terdiam. Aura baru Garjita, yang kini tampak seperti utusan para dewa, membuat mereka tunduk tanpa perlawanan. Sementara Liris, di tempat yang jauh dari balairung, merasa angin pagi membawa pesan dari ayahnya. [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
FESTIVAL Tepi Sawah yang digelar di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, Bali, 4-5 Juni 2017, memang diniatkan untuk membawa pesan tentang kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Namun...
MULAI Juni 2017, majalah remaja "Hai" menutup edisi cetaknya dan beralih ke medium digital. Satu lagi media cetak yang sudah cukup tua harus menyerah kalah, setelah sebelumnya ada...
SAYA, sebagai fans sejati Juventus, tidak akan sakit hati, karena pada akhirnya sepakbola tetaplah hanya sebuah permainan bin pertandingan yang ada kalah menangnya. Saya mungkin se...
“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekay...
INI perjalanan ke desa, seperti perjalanan gaib ke tanah leluhur. Bolehlah disebut berwisata, karena nikmat keindahan alam sungguh memanjakan mata. Tapi jika sempat termenung sedik...
HAMPIR semua pemeluk agama memvisualisasikan tuhan sebagai sosok laki-laki. Sebagian besar sebagai laki-laki yang berkharisma dan berwibawa. Ini merupakan wujud dari berjayanya ide...
JANGAN rendah diri sebagai bangsa dari timur yang begitu percaya mitos-mitos. Lha, di Eropa, belahan dunia yang konon amat modern, mitos tetap dijadikan rujukan untuk memprediksi f...
DARI namanya, Festival Tepi Sawah, kita tahu apa-apa saja yang ada, apa-apa yang disuarakan, pesan apa-apa saja yang disampaikan dalam festival itu. Tepi sawah, sebuah tempat yang...
SATU hal yang paling saya syukuri dari masa kecil saya adalah bertemu dengan kisah-kisah pewayangan. Saya rela berjalan kaki atau begadang untuk menyaksikan dalang yang nrek (penta...
BELAKANGAN ini disibukkan dengan berbagai peristiwa sosial, hukum, dan politik, yang berhubungan dengan NKRI. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, menjadi l...