Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
“Penulis sejati tidak berpihak kepada siapa pun kecuali kepada kebenaran.”
— Albert Camus, sastrawan dan filsuf eksistensialis.
APA yang menjadi motivasi seseorang untuk menulis? Ada yang menulis karena ingin terkenal, ada yang ingin menyampaikan gagasan, ada pula yang menulis karena tak tahan lagi menyimpan kebenaran di dalam dada. Namun, bagi sebagian kecil orang, menulis adalah laku batin, bentuk kontemplasi — bahkan sebuah meditasi.
Albert Camus, dalam semangat eksistensialisme, memandang tulisan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap absurditas dunia. Menulis bukan hanya merangkai kata, tapi juga membongkar kebohongan dan mengabarkan kebenaran — meski hanya kepada satu jiwa.
Saya sendiri mulai menulis sejak masa SMA. Cerpen-cerpen saya kala itu bahkan sempat dimuat di Bali Post dan mendapat honor — jumlahnya setara lima bulan uang SPP. Kegembiraan menulis saat itu terasa seperti berbicara langsung dengan jiwa sendiri. Namun, begitu memasuki dunia kerja profesional di sebuah BUMN, kebiasaan itu perlahan terlupakan.
Rutinitas kerja yang padat — rapat, target, dan pelatihan ke luar kota — menjauhkan saya dari dunia sunyi kata-kata. Walaupun saya tetap berlangganan majalah Horison dan sesekali menulis dalam sebuah event tertentu. Bahkan sempat meraih juara pertama dalam Lomba Tulis yang diselenggarakan Radio Memora saat bertugas di Manado. Setahun di Makasar, masih sempat mengirim puisi ke sebuah majalah remaja nasional dengan judul Lelaki Muda dengan Pedang di Tangan, sebuah wujud pemberontakan dan kritik terhadap tradisi dari daerah saya sendiri.
Ketika pelatihan di Bandung, alih-alih mencari buku teknik telekomunikasi — bidang pekerjaan utama saya — saya justru memilih menyaksikan pentas Opera Kecoa karya N. Riantiarno yang diselenggarakan oleh Depot Kreasi Seni Bandung. Bahkan saat mengikuti training di negeri Sakura Jepang, sempat terbersit ide untuk menuliskan sebuah cerpen: Di Bawah Langit Meguro, sayangnya sampai saat ini masih tetap menjadi sebatas judul. Mungkin suatu saat akan menjadi sebuah cerpen
Hingga akhirnya, di usia 41 tahun, saya mengambil keputusan besar: pensiun dini. Keputusan ini bukan semata soal karier, tapi tentang kembali ke panggilan batin yang lama terabaikan. Dua puluh tahun kenyamanan di BUMN, di balik segala fasilitas yang menggiurkan, saya menemukan kekosongan jiwa. Jenuh tingkat Dewa, kata anak muda zaman now. Seorang kerabat merespons keputusan saya dengan bertanya, “Mau makan apa?” Saya menjawab enteng, “Yang jelas saya masih makan nasi, bukan batu.”Sejak saat itu, saya mulai menulis kembali — bukan sekadar cerpen, tapi catatan reflektif spiritual, yang menyatu dengan perjalanan jiwa, tapi sebatas untuk koleksi pribadi.
Tiga hari menjelang pensiun dini, untuk pertama kalinya saya bisa bertemu tokoh idola saya Guruji Anand Krishna— yang sebelumnya hanya bisa saya ajak berdialog lewat buku-buku beliau. Itulah pertemuan pertama yang mengubah jalan hidup saya untuk menekuni perjalanan sunyi ke dalam diri.
Hobi menulis saya mulai terbangun kembali. Namun, setiap kali membaca ulang tulisan yang baru saya buat, saya harus jujur berkata: itu bukan kata-kata saya, hampir semuanya kata-kata beliau. Maka, saya mengambil langkah aman: menjadi penulis reportase kegiatan beliau di Anand Ashram dan saat beliau memberikan sharing ke masyarakat dalam bentuk wacana dan latihan meditasi.
Kebetulan pula, dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan seorang awak media Indonesia Expose, saya memanggilnya Mbak Putri. Awalnya Mbak Putri tertarik dengan kegiatan Anand Ashram dan ingin meliput. Bukan itu saja — ia juga menawarkan saya untuk bergabung dengan Indonesia Expose. Pucuk dicinta ulam tiba. Selanjutnya Mbak Putri berjasa menampung reportase yang saya buat. Entah itu reportase murni atau sebuah opini yang saya kemas dalam reportase mengambil sudut pandang Shri Sarvananda Dharma (nama diksha saya dari seorang Nabe Shri Bhraja Ganachakra di Ashram Ganachakra Lombok)
Dua puluh tahun lebih mengikuti kegiatan di Anand Ashram, saya baru benar-benar memahami makna menulis sebagai sebuah meditasi. Menulis bukan lagi aktivitas luar, melainkan proses meniti ke dalam diri. Setiap kalimat adalah napas, setiap paragraf adalah doa.
Guruji Anand Krishna pernah mengatakan: “Saya menulis bukan untuk mengajar, tapi untuk berbagi pengalaman. Satu orang saja merasakan manfaat dari tulisan itu, saya merasa sangat terberkati.”
Bagi Guruji, tulisan adalah sarana berbagi kesadaran. Bimbingan langsung Guruji lewat tulisan, wacana dan aksi nyata kegiatan pelayanan untuk masyarakat yang dilakukan oleh komunitas Anand Ashram, bagi saya adalah isyarat bagi saya untuk berkarma yoga melalui tulisan.
Albert Camus, Jean Paul Sartre, Friedrich Nietzsche,dan beberapa tokoh lainnya, adalah idola saya. Namun lebih dari mereka, Guruji Anand Krishna sosok teladan yang mampu menyihir saya dan membuka mata batin saya yang sekian lama tertutup rapat. Membaca buku-buku beliau membuat saya menangis dan tertawa dalam waktu yang sama — seperti disentuh oleh kebenaran yang tak bisa lagi ditunda.
Menulis menyentuh aspek terdalam dari proses kesunyian. Di dunia yang kian riuh dan bising oleh opini dangkal, penulis sejati justru muncul sebagai penjaga kesunyian yang jernih. Tulisan mereka tidak selalu viral, tetapi menyentuh dan menyala — karena lahir dari kedalaman kesadaran, bukan sekadar keinginan untuk dikenal.
Bagi saya, menulis kembali setelah pensiun dini bukanlah nostalgia, tetapi ziarah. Kembali ke ruang sunyi tempat jiwa berbicara, bukan hanya kepada dunia, tetapi juga kepada diri sendiri. Saat inipun, saya tengah merampungkan sebuah tulisan sebagai bentuk pengejawantahan sebuah obsesi kecil yang masih tersisa, berupa disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth One Sky One Humankind. Dan jika satu tulisan mampu menyembuhkan satu luka, menyulut satu cahaya — maka penulisannya tidak pernah sia-sia. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...