Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
“Penulis sejati tidak berpihak kepada siapa pun kecuali kepada kebenaran.”
— Albert Camus, sastrawan dan filsuf eksistensialis.
APA yang menjadi motivasi seseorang untuk menulis? Ada yang menulis karena ingin terkenal, ada yang ingin menyampaikan gagasan, ada pula yang menulis karena tak tahan lagi menyimpan kebenaran di dalam dada. Namun, bagi sebagian kecil orang, menulis adalah laku batin, bentuk kontemplasi — bahkan sebuah meditasi.
Albert Camus, dalam semangat eksistensialisme, memandang tulisan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap absurditas dunia. Menulis bukan hanya merangkai kata, tapi juga membongkar kebohongan dan mengabarkan kebenaran — meski hanya kepada satu jiwa.
Saya sendiri mulai menulis sejak masa SMA. Cerpen-cerpen saya kala itu bahkan sempat dimuat di Bali Post dan mendapat honor — jumlahnya setara lima bulan uang SPP. Kegembiraan menulis saat itu terasa seperti berbicara langsung dengan jiwa sendiri. Namun, begitu memasuki dunia kerja profesional di sebuah BUMN, kebiasaan itu perlahan terlupakan.
Rutinitas kerja yang padat — rapat, target, dan pelatihan ke luar kota — menjauhkan saya dari dunia sunyi kata-kata. Walaupun saya tetap berlangganan majalah Horison dan sesekali menulis dalam sebuah event tertentu. Bahkan sempat meraih juara pertama dalam Lomba Tulis yang diselenggarakan Radio Memora saat bertugas di Manado. Setahun di Makasar, masih sempat mengirim puisi ke sebuah majalah remaja nasional dengan judul Lelaki Muda dengan Pedang di Tangan, sebuah wujud pemberontakan dan kritik terhadap tradisi dari daerah saya sendiri.
Ketika pelatihan di Bandung, alih-alih mencari buku teknik telekomunikasi — bidang pekerjaan utama saya — saya justru memilih menyaksikan pentas Opera Kecoa karya N. Riantiarno yang diselenggarakan oleh Depot Kreasi Seni Bandung. Bahkan saat mengikuti training di negeri Sakura Jepang, sempat terbersit ide untuk menuliskan sebuah cerpen: Di Bawah Langit Meguro, sayangnya sampai saat ini masih tetap menjadi sebatas judul. Mungkin suatu saat akan menjadi sebuah cerpen
Hingga akhirnya, di usia 41 tahun, saya mengambil keputusan besar: pensiun dini. Keputusan ini bukan semata soal karier, tapi tentang kembali ke panggilan batin yang lama terabaikan. Dua puluh tahun kenyamanan di BUMN, di balik segala fasilitas yang menggiurkan, saya menemukan kekosongan jiwa. Jenuh tingkat Dewa, kata anak muda zaman now. Seorang kerabat merespons keputusan saya dengan bertanya, “Mau makan apa?” Saya menjawab enteng, “Yang jelas saya masih makan nasi, bukan batu.”Sejak saat itu, saya mulai menulis kembali — bukan sekadar cerpen, tapi catatan reflektif spiritual, yang menyatu dengan perjalanan jiwa, tapi sebatas untuk koleksi pribadi.
Tiga hari menjelang pensiun dini, untuk pertama kalinya saya bisa bertemu tokoh idola saya Guruji Anand Krishna— yang sebelumnya hanya bisa saya ajak berdialog lewat buku-buku beliau. Itulah pertemuan pertama yang mengubah jalan hidup saya untuk menekuni perjalanan sunyi ke dalam diri.
Hobi menulis saya mulai terbangun kembali. Namun, setiap kali membaca ulang tulisan yang baru saya buat, saya harus jujur berkata: itu bukan kata-kata saya, hampir semuanya kata-kata beliau. Maka, saya mengambil langkah aman: menjadi penulis reportase kegiatan beliau di Anand Ashram dan saat beliau memberikan sharing ke masyarakat dalam bentuk wacana dan latihan meditasi.
Kebetulan pula, dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan seorang awak media Indonesia Expose, saya memanggilnya Mbak Putri. Awalnya Mbak Putri tertarik dengan kegiatan Anand Ashram dan ingin meliput. Bukan itu saja — ia juga menawarkan saya untuk bergabung dengan Indonesia Expose. Pucuk dicinta ulam tiba. Selanjutnya Mbak Putri berjasa menampung reportase yang saya buat. Entah itu reportase murni atau sebuah opini yang saya kemas dalam reportase mengambil sudut pandang Shri Sarvananda Dharma (nama diksha saya dari seorang Nabe Shri Bhraja Ganachakra di Ashram Ganachakra Lombok)
Dua puluh tahun lebih mengikuti kegiatan di Anand Ashram, saya baru benar-benar memahami makna menulis sebagai sebuah meditasi. Menulis bukan lagi aktivitas luar, melainkan proses meniti ke dalam diri. Setiap kalimat adalah napas, setiap paragraf adalah doa.
Guruji Anand Krishna pernah mengatakan: “Saya menulis bukan untuk mengajar, tapi untuk berbagi pengalaman. Satu orang saja merasakan manfaat dari tulisan itu, saya merasa sangat terberkati.”
Bagi Guruji, tulisan adalah sarana berbagi kesadaran. Bimbingan langsung Guruji lewat tulisan, wacana dan aksi nyata kegiatan pelayanan untuk masyarakat yang dilakukan oleh komunitas Anand Ashram, bagi saya adalah isyarat bagi saya untuk berkarma yoga melalui tulisan.
Albert Camus, Jean Paul Sartre, Friedrich Nietzsche,dan beberapa tokoh lainnya, adalah idola saya. Namun lebih dari mereka, Guruji Anand Krishna sosok teladan yang mampu menyihir saya dan membuka mata batin saya yang sekian lama tertutup rapat. Membaca buku-buku beliau membuat saya menangis dan tertawa dalam waktu yang sama — seperti disentuh oleh kebenaran yang tak bisa lagi ditunda.
Menulis menyentuh aspek terdalam dari proses kesunyian. Di dunia yang kian riuh dan bising oleh opini dangkal, penulis sejati justru muncul sebagai penjaga kesunyian yang jernih. Tulisan mereka tidak selalu viral, tetapi menyentuh dan menyala — karena lahir dari kedalaman kesadaran, bukan sekadar keinginan untuk dikenal.
Bagi saya, menulis kembali setelah pensiun dini bukanlah nostalgia, tetapi ziarah. Kembali ke ruang sunyi tempat jiwa berbicara, bukan hanya kepada dunia, tetapi juga kepada diri sendiri. Saat inipun, saya tengah merampungkan sebuah tulisan sebagai bentuk pengejawantahan sebuah obsesi kecil yang masih tersisa, berupa disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth One Sky One Humankind. Dan jika satu tulisan mampu menyembuhkan satu luka, menyulut satu cahaya — maka penulisannya tidak pernah sia-sia. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...