Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
KAIN tenun dari Desa Jinengdalem, Buleleng, selalu punya cerita menarik di tengah zaman yang terus berubah. Dan cerita itu selalu saja datang dari perempuan.
Luh Sukastri, salah satu perempuan itu. Lihatlah, ia duduk selonjoran di depan alat tenun tradisional dari kayu. Jemarinya lincah memainkan sehelai benang sutra dan matanya tetap fokus pada benang yang terulur di depannya. Di sela bunyi ketukan alat tenun, perempuan asal Desa Jinengdalem ini bercerita tentang dunia tenun songket yang telah ia tekuni sejak masih anak-anak.
Kisahnya bermula dari motif-motif kecil. Ia menenun sejak kelas 2 SD, diajari langsung oleh ibunya yang juga seorang penenun. “Awalnya belajar nenun, baru SMP bikin motif. Dulu motif pertama saya itu cakra kurung, lalu mawar. Itu motif dasar yang diajarkan ibu,” kenangnya.
Puluhan tahun bergelut di dunia songket, perempuan berusia 47 tahun itu menenun berdasarkan intuisi dan ingatan. Setiap motif lahir langsung dari pikirannya, tanpa sketsa di atas kertas. Ia mengaku hanya membuat sketsa kalau ada pesanan khusus.
“Biasanya pelanggan mengirim contoh gambar atau request motif, saya buat sketsanya sambil ubah sedikit, tambahkan variasi, biar beda,” tuturnya sambil menatap kain yang tengah ia kerjakan.

Saat ini songket paling laris adalah motif lama seperti cakra kurung, mawar, dan pucuk. Namun, Sukastri berani bekreasi tanpa mengikuti tren. Ia berkreasi, menciptakan variasi motif kala rau kecil di sela-selanya disisipkan motif bunga, matahari, dan rantai agar bidang kain tak tampak kosong. Menurutnya, variasi penting agar pembeli tidak jenuh.
“Kalau motifnya baru, pembeli semangat lihatnya. Harga dinaikin dikit juga mereka berani ambil. Tapi kalau yang itu-itu aja, harganya makin turun,” ujarnya jujur.
Terbukti kain songket kreasinya memiliki banyak peminat dan telah dipasarkan di Bangli, Poni’s Songket, dan Pertenunan Artha Dharma. Harga satu kain songket berkisar antara Rp5 juta hingga Rp12 juta, tergantung tingkat kerumitan motif dan pewarnaannya.
Harga premium itu sebanding dengan prosesnya. Dalam sebulan, ia hanya bisa menyelesaikan satu hingga dua kain songket. Motif kreasi sendiri bisa memakan waktu hingga tiga hari untuk satu bagian, bandingkan dengan motif dipasaran yang bisa ia selesaikan dalam dua jam.

Proses panjang tidak selalu mulus terkadang saat pewarnaan salah dan motif rusak. ”Kalau rusak sedikit bisa diperbaiki, tapi kalau robek tidak bisa diperbaiki,” katanya pasrah.
Proses menjadi songket dimulai dari ngelos benang sutra (menggulung benang ke dalam cag-cag), nganyinin (merapikan dan menghitung jumlah benang yang diperlukan agar tidak kusut).
Kemudian, benang diwarnai menggunakan pewarna alam dan pewarna basis atau sintetis, tergantung permintaan pembeli. Untuk pewarna alam, ia memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya seperti batang padi menghasilkan warna hijau tua, daun mangga wani menghasilkan merah keunguan, dan kayu jati merah kecoklatan.
Setelah diwarnai, proses berlanjut ke pembuatan motif hingga menenun. Proses akhir adalah lasem (penguat warna), tujuannya agar songket lebih nyaman, lembut, dan tidak luntur.

Bagi Sukastri, menenun adalah cara untuk tetap produktif. Ia bisa tetap di rumah sambil mengurus anak dan membantu perekonomian keluarga. “Kerja di rumah bisa sambil istirahat, bisa ngurus anak juga. Hasilnya cukup buat kebutuhan sekolah anak,” katanya sambil tersenyum bangga.
Ia bekerja setiap hari dari pukul 10 pagi hingga sore, dengan jeda istirahat siang. “Saya tidak pernah maksa diri. Kalau capek, berhenti dulu. Bikin motif itu butuh pikiran jernih. Nggak bisa dipaksa,” ucapnya.
Dari hasil menenun, ia bisa menyekolahkan kedua putranya. Kendatipun pekerjaannya tidak selalu lancar, ada masa sepi dan masa ramai. Biasanya, pesanan meningkat menjelang rahinan Purnama Kapat dan Purnama Kedasa, ketika warga Bali memakai songket saat upacara.
”Tiga bulan menjelang odalan, pembeli sudah mulai pesan dan request motif,” tuturnya.
Kini, hanya tiga perempuan di Desa Jinengdalem yang masih bisa membuat motif songket secara utuh. Lainnya hanya mampu menenun pola yang sudah jadi. “Yang susah itu bikin motif. Sekarang orang tidak mau belajar, katanya pusing.,” ucapnya.
Sukastri mengungkapan menenun bisa jadi penghidupan kalau tekun, tapi anak-anak muda enggan belajar dan gengsi. Merasa malu jika laki-laki berprofesi sebagai penenun. Mereka lebih memilih bekerja di kota atau di sektor pariwisata.
“Kalau semua anak muda di desa mau ke luar negeri, siapa nanti yang jaga warisan songket ini?” katanya lirih. “Dulu di Beratan banyak perajin songket. Sekarang sudah punah. Tidak ada penerus,” imbuhnya.

Meski begitu, Sukastri tetap berusaha mengajarkan dasar-dasar menenun kepada anak-anak muda di sekitarnya. “Saya ajak aja dulu, biar pegang benang, dengar suaraalat tenun. Kalau udah biasa, lama-lama jatuh cinta sendiri,” katanya penuh harap.
Di teras rumah yang sama, suara alat tenun lain terdengar lebih pelan. Wayan Bintaning, mertua Luh Sukastri yang berusia 75 tahun. Ia adalah penenun songket senior di Desa Jinengdalem, dan seperti menantunya.
Bintaning telah menenun sejak masih duduk di bangku SD. Bintaning duduk dengan tenang di depan alat tenun tuanya. Meski tubuhnya sudah renta ia tetap menolak berhenti menenun.
”Saya masih kuat, cuma duduknya tidak bisa lama karena sakit punggung,” katanya lembut.
Saat ini, ia lebih banyak membantu membuat pola-pola dasar, sementara Sukastri berkreasi dengan motif baru. Meski terbatas, ia tetap memilih menenun agar tidak merasa bosan dan tetap produktif.

Bagi perempuan sepuh itu, tenun juga obat bagi hati dan pikiran. “Kalau orang tua diam aja, malah kelihatan sakit. Tapi kalau ada kerjaan, pikirannya fokus ke situ, jadi sehat,” ujarnya bijak.
Setiap hari, benang demi benang sutra bergerak di alat tenun milik Sukastri dan Bintaning. Suara tak-tak-tak dari alat tenun hidup di tangan-tangan yang setia, bukti bahwa dua perempuan ini berdaya, tetap sibuk, dan tetap hidup jaga tradisi. [T]
Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...