Anak SD dan Motor “Keren”-nya
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
DI sebuah gang kecil, bernama Gang Sandat, Dusun Bukit Balu, Desa Ambengan, Buleleng, hidup seorang pemuda berumur 27 tahun yang hari-harinya diisi oleh aroma kulit sapi, cat minyak, dan bunyi pahatan.
Nama pemuda itu Putu Sastrawan. di Ambengan, orang-orang lebih akrab memanggilnya Koyik—nama yang sederhana entah dari mana, tapi dari jemarinya lahir karya yang rumit dan memikat. Ia tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu yang kecil, namun terus bersemi.
Sejak duduk di bangku SD kelas 1, tangannya sudah akrab dengan pensil dan kertas—menggambar menjadi awal dari segala cerita. Ketika menginjak kelas 4, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan; ia menari di Sanggar Santhi Budaya, tempat yang membentuknya mengenal irama, estetika, dan kesabaran.

Dari SD hingga tamat SMP, ia menggeluti seni menari. Lalu di SMA, ia mulai jatuh cinta pada megambel—menabuh, menyalurkan energi lewat dentingan nada.
Dunia seni terus menuntunnya, sampai satu hari, ketika masa magang, Koyik melihat sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Dalam sebuat event Pesta Kesenian Bali (PKB), ia menyaksikan penampilan mebarung dari duta Kabupaten Gianyar.
Para penari tampil dengan pakaian yang terbuat dari lem tembak—unik, kasar, nan memikat. Dari situ, rasa ingin tahunya meletup. Ia mulai belajar membuat payasan baleganjur, lalu terus mengulik teknik dan bahan, hingga menjadikannya hobi baru: membuat kostum tari.

Tahun 2018 menjadi titik balik. Saat Desa Ambengan menggelar pertunjukan kecak, Koyik ditunjuk sebagai penggagas pakaian tari. Mungkin, karya-karyanya yang menyala di bawah cahaya obor malam itu menarik perhatian Camat Sukasada.
Dari sanalah akar yang merambat mulai mempunyai arahnya, Koyik mulai dikenal, diundang untuk membuat kostum bersama Seka Truna-Truni Ambengan di acara Kelas Seni Budaya Sukasada (KASEBU), membuat cak kolosal yang menggetarkan. Setahun kemudian, di tahun 2019, ia kembali dipercaya membuat kostum untuk pawai mewakili Kecamatan Sukasada. Sejak saat itu, nama Koyik tak lagi sekadar panggilan; ia menjadi penanda dari karya dan ketekunan seorang anak muda sedikit petakilan dari Ambengan.

Di teras depan rumahnya menjadi tempat ia menumpahkan isi pikirannya, di mana kulit sapi, spons, dan cat minyak berubah menjadi keindahan. Di sana, waktu berjalan pelan—setiap palu kayu dan goresan pahat adalah detik yang bermakna. Bahan-bahan yang digunakan Koyik terlihat sederhana tapi sarat cerita.
“Kalau bahannya dari dulu menggunakan kulit sapi,” ujar Koyik.
Namun, lambat laun banyak eksperimen yang dilakukan dengan spons topi, lem lili, dan cat minyak yang sedikit demi sedikit menempel di teras rumahnya. Kulit sapi yang digunakan pun tak sembarangan. Ada dua jenis: kulit sapi Bali dan kulit sapi Yogja.
Koyik lebih memilih kulit sapi Bali karena lebih mudah dipacal—dipahat dan diolah—tidak selengket kulit jogja. Dalam prosesnya, ia menggunakan dua jenis pahat: penguku dan penancap. Penguku untuk lengkungan halus, penancap untuk garis lurus.
Saat memahat, kulit biasanya terasa lengket, karena itu ia menggunakan malam—bahan dari sarang lebah mirip lilin—agar alat pahat bisa bergerak lebih lembut di permukaan kulit.
Setiap kali memahat, Koyik seperti masuk ke dunia kecilnya sendiri. Dengan palu kayu dan pahat di kedua tangannya, ia mengetuk perlahan, menelusuri pola dengan ketukan yang nyaris meditasi. Jemari yang lembut, di pagi hari, ia di sambut sinar matahari di terasnya, di malam hari, ia di temani cahaya lampu temaram.
Setiap garis yang ia pahat adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni yang membesarkannya. Corak yang paling sering diaplikasikan adalah patra samblung—motif tanaman menjalar dengan daun-daun lebar, melambangkan kehidupan yang tumbuh dan menyatu dengan alam.
Dalam pepatraan samblung, ujung-ujung tanaman digambarkan menjalar dan melengkung harmonis, seolah meniru keseimbangan antara manusia dan semesta. Ada nilai kesabaran, keterhubungan, dan keindahan yang tak terburu-buru di setiap lengkungannya.

Proses pembuatan satu kostum tari bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika berbahan kulit. Namun, untuk kostum berbahan lem tembak dan spons, hanya sekitar seminggu. Bahkan, jika sekadar membuat ukiran kertas, ia bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja—biasanya pesanan datang menjelang musim ogoh-ogoh.
Pernah suatu waktu, dalam sebulan, ia menerima pesanan 28 picis pakaian tari berbahan spons. Sebuah angka yang mencerminkan betapa cintanya ia terhadap kerja tangan ini. Dari sisi ekonomi, karya Koyik juga menjanjikan. Untuk penyewaan, harga mulai dari Rp 50.000 hanya untuk gelungan atau mahkota. Satu set pakaian bisa disewa sekitar Rp 250.000, sedangkan jika dibeli, harganya bergantung pada bahan dan pola.
Kostum dari lem tembak dibanderol sekitar Rp1,5–2 juta, sementara kostum dari kulit sapi bisa mencapai Rp7–8 juta. Harga itu bukan hanya nilai material—ia adalah harga dari waktu, kesabaran, dan jiwa yang tertinggal di setiap pahatan.

Koyik tidak sekadar membuat kostum. Ia memahat ingatan. Setiap pakaian yang lahir dari tangannya membawa sepotong kisah tentang Ambengan: tentang anak desa yang tumbuh bersama hobi, tentang semangat yang tak pernah padam untuk menjaga seni tetap hidup.
Di gang kecil itu, di antara aroma kulit dan dengung palu, Koyik sedang menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan, dengan hati, dan dengan cinta yang sederhana. Karena di tangan-tangan seperti Koyik-lah, Ambengan tidak hanya hidup dalam kenangan, tapi melahirkan pemuda-pemudi yang berjiwa seni tinggi. [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
KASAR itu kebebasan yang indah dan menghibur. Tak percaya? Dengarlah ungkapan-ungkapan kasar tak terduga dari karakter-karakter Bondres Dwi Mekar, Buleleng, (terkenal juga dengan n...
“Kenapa kita di sini?” SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bi...
BRAD PIT dan Angelina Jolie mungkin bisa berpisah. Naruto dan Sasuke juga masih bisa berpisah, namun yang namanya mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dengan tugas kuliah. Akan sela...
Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu...
WANGSA, trah, soroh, atau apa pun namanya, adalah identitas yang meringkas individu ke dalam rumusan-rumusan yang berdimensi genetis, latar sejarah, profesi, kadang wilayah geograf...
JANGANKAN sebagai budak, jadi babu pun sesungguhnya tak seorang pun sudi. Tetapi, Bali punya sejarah perbudakan yang sangat mengenaskan, ketika manusia diperdagangkan, dipertukarka...
BEBERAPA hari ke belakang situasi politik Indonesia menghangat. Ditambah lagi media yang memberitakannya setiap hari. Kemarin, Saya mencoba untuk mengikuti isu ini lebih dalam. Mom...
OKTOBER sudah lewat. Oktober yang katanya Bulan Bahasa. Ya. Bulan yang baik untuk berbicara dengan serius perihal literasi, bulan yang seharusnya menjadi perayaan yang besar bagi p...
HEBAT betul saya, karena baru-baru ini menolak tawaran untuk mengelola media kampanye pendukung Ahok. Dari banyak hal yang terlewat dalam hidup saya, mungkin penolakan itulah satu-...