Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
DI sebuah gang kecil, bernama Gang Sandat, Dusun Bukit Balu, Desa Ambengan, Buleleng, hidup seorang pemuda berumur 27 tahun yang hari-harinya diisi oleh aroma kulit sapi, cat minyak, dan bunyi pahatan.
Nama pemuda itu Putu Sastrawan. di Ambengan, orang-orang lebih akrab memanggilnya Koyik—nama yang sederhana entah dari mana, tapi dari jemarinya lahir karya yang rumit dan memikat. Ia tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu yang kecil, namun terus bersemi.
Sejak duduk di bangku SD kelas 1, tangannya sudah akrab dengan pensil dan kertas—menggambar menjadi awal dari segala cerita. Ketika menginjak kelas 4, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan; ia menari di Sanggar Santhi Budaya, tempat yang membentuknya mengenal irama, estetika, dan kesabaran.

Dari SD hingga tamat SMP, ia menggeluti seni menari. Lalu di SMA, ia mulai jatuh cinta pada megambel—menabuh, menyalurkan energi lewat dentingan nada.
Dunia seni terus menuntunnya, sampai satu hari, ketika masa magang, Koyik melihat sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Dalam sebuat event Pesta Kesenian Bali (PKB), ia menyaksikan penampilan mebarung dari duta Kabupaten Gianyar.
Para penari tampil dengan pakaian yang terbuat dari lem tembak—unik, kasar, nan memikat. Dari situ, rasa ingin tahunya meletup. Ia mulai belajar membuat payasan baleganjur, lalu terus mengulik teknik dan bahan, hingga menjadikannya hobi baru: membuat kostum tari.

Tahun 2018 menjadi titik balik. Saat Desa Ambengan menggelar pertunjukan kecak, Koyik ditunjuk sebagai penggagas pakaian tari. Mungkin, karya-karyanya yang menyala di bawah cahaya obor malam itu menarik perhatian Camat Sukasada.
Dari sanalah akar yang merambat mulai mempunyai arahnya, Koyik mulai dikenal, diundang untuk membuat kostum bersama Seka Truna-Truni Ambengan di acara Kelas Seni Budaya Sukasada (KASEBU), membuat cak kolosal yang menggetarkan. Setahun kemudian, di tahun 2019, ia kembali dipercaya membuat kostum untuk pawai mewakili Kecamatan Sukasada. Sejak saat itu, nama Koyik tak lagi sekadar panggilan; ia menjadi penanda dari karya dan ketekunan seorang anak muda sedikit petakilan dari Ambengan.

Di teras depan rumahnya menjadi tempat ia menumpahkan isi pikirannya, di mana kulit sapi, spons, dan cat minyak berubah menjadi keindahan. Di sana, waktu berjalan pelan—setiap palu kayu dan goresan pahat adalah detik yang bermakna. Bahan-bahan yang digunakan Koyik terlihat sederhana tapi sarat cerita.
“Kalau bahannya dari dulu menggunakan kulit sapi,” ujar Koyik.
Namun, lambat laun banyak eksperimen yang dilakukan dengan spons topi, lem lili, dan cat minyak yang sedikit demi sedikit menempel di teras rumahnya. Kulit sapi yang digunakan pun tak sembarangan. Ada dua jenis: kulit sapi Bali dan kulit sapi Yogja.
Koyik lebih memilih kulit sapi Bali karena lebih mudah dipacal—dipahat dan diolah—tidak selengket kulit jogja. Dalam prosesnya, ia menggunakan dua jenis pahat: penguku dan penancap. Penguku untuk lengkungan halus, penancap untuk garis lurus.
Saat memahat, kulit biasanya terasa lengket, karena itu ia menggunakan malam—bahan dari sarang lebah mirip lilin—agar alat pahat bisa bergerak lebih lembut di permukaan kulit.
Setiap kali memahat, Koyik seperti masuk ke dunia kecilnya sendiri. Dengan palu kayu dan pahat di kedua tangannya, ia mengetuk perlahan, menelusuri pola dengan ketukan yang nyaris meditasi. Jemari yang lembut, di pagi hari, ia di sambut sinar matahari di terasnya, di malam hari, ia di temani cahaya lampu temaram.
Setiap garis yang ia pahat adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni yang membesarkannya. Corak yang paling sering diaplikasikan adalah patra samblung—motif tanaman menjalar dengan daun-daun lebar, melambangkan kehidupan yang tumbuh dan menyatu dengan alam.
Dalam pepatraan samblung, ujung-ujung tanaman digambarkan menjalar dan melengkung harmonis, seolah meniru keseimbangan antara manusia dan semesta. Ada nilai kesabaran, keterhubungan, dan keindahan yang tak terburu-buru di setiap lengkungannya.

Proses pembuatan satu kostum tari bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika berbahan kulit. Namun, untuk kostum berbahan lem tembak dan spons, hanya sekitar seminggu. Bahkan, jika sekadar membuat ukiran kertas, ia bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja—biasanya pesanan datang menjelang musim ogoh-ogoh.
Pernah suatu waktu, dalam sebulan, ia menerima pesanan 28 picis pakaian tari berbahan spons. Sebuah angka yang mencerminkan betapa cintanya ia terhadap kerja tangan ini. Dari sisi ekonomi, karya Koyik juga menjanjikan. Untuk penyewaan, harga mulai dari Rp 50.000 hanya untuk gelungan atau mahkota. Satu set pakaian bisa disewa sekitar Rp 250.000, sedangkan jika dibeli, harganya bergantung pada bahan dan pola.
Kostum dari lem tembak dibanderol sekitar Rp1,5–2 juta, sementara kostum dari kulit sapi bisa mencapai Rp7–8 juta. Harga itu bukan hanya nilai material—ia adalah harga dari waktu, kesabaran, dan jiwa yang tertinggal di setiap pahatan.

Koyik tidak sekadar membuat kostum. Ia memahat ingatan. Setiap pakaian yang lahir dari tangannya membawa sepotong kisah tentang Ambengan: tentang anak desa yang tumbuh bersama hobi, tentang semangat yang tak pernah padam untuk menjaga seni tetap hidup.
Di gang kecil itu, di antara aroma kulit dan dengung palu, Koyik sedang menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan, dengan hati, dan dengan cinta yang sederhana. Karena di tangan-tangan seperti Koyik-lah, Ambengan tidak hanya hidup dalam kenangan, tapi melahirkan pemuda-pemudi yang berjiwa seni tinggi. [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...