Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
AKU berdiam diri di rumah ketika seluruh sanak saudara sibuk di Sanggah, menyiapkan banten dan perlengkapan upacara. Aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tak seorang pun mengizinkan aku. Katanya, aku harus beristirahat saja. Mereka takut aku kelelahan. Tidak bisa bicara banyak, hanya menurut sebelum semuanya meninggikan suara. Meski dalam hati ada rasa ingin ikut menata janur dan menyiapkan sesajen seperti dulu.
Sudah dua setengah tahun, aku hanya bisa terbaring lemah di kamar. Darah keluar dari mulut, tubuhku dingin dengan aroma menyengat, dan pucat seperti aspal di bawah hujan. Dokter bilang aku mengidap kanker paru-paru. Kabar itu membuat semua orang di rumah terdiam lama, seolah kata “kanker” lebih mengerikan dari apa pun. Suamiku berusaha tabah, tapi aku tahu dari matanya ia takut kehilangan. Sementara iparku tidak pernah setuju ketika dokter menyarankan pengobatan intensif. Meskipun tak pernah mempelajari hal-hal medis, ia tahu betul jika operasi paru-paru akan menimbulkan beberapa resiko besar, antara hidup dengan keterbatasan atau perlahan meninggal. Bukan karena keterbatasan biaya, tapi ia percaya aku bisa sembuh dengan cara lain, cara yang lebih dekat dengan Tuhan.
…
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perasaanku semakin tak terkendali. Hari itu tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Dengan sisa tenaga, aku berbisik padanya agar menjaga anak dan suamiku kalau aku tak kuat lagi. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat, lalu berkata lirih bahwa aku harus ikut dengannya. Kami berangkat dengan mobil kol menuju tempat pengobatan di kecamatan, melewati jalan yang berkelok-kelok sebab rumah kami di daerah pegunungan. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan hati yang berdebar.
Sesampainya di sana, seorang pria berpakaian serba putih menyambut kami. Katanya, ia bukan dokter, tapi utusan Tuhan. Dengan lembut ia mengucap mantra, lalu memintaku membuka mulut. Aku menuruti tanpa banyak pikir. Beberapa menit kami menunggu, tapi tak kunjung ada sesuatu terjadi. Sampai pada mantra “Om Santih, Santih, Santih Om”, aku menyadari mantranya telah selesai. Semua masih terdiam kaku, tetapi aku sibuk dengan tenggorokan yang begitu gatal. Pikirku dalam hening, apa darah akan menyembur wajah pemangku ini?
Beberapa detik kemudian, benar saja sesuatu keluar dari tenggorokanku: dua makhluk kecil bersayap dengan tubuh berbalut darah kental. Samar-samar aku melihat bentuknya seperti yuyu kecil yang siap mencapit mangsanya.
“Ini yang membuatmu terus mengeluarkan darah,” ucapnya tenang. “Kalau tidak segera dikeluarkan, ia akan membesar.”
Aku tertegun. Bagaimana mungkin makhluk itu bisa masuk ke tubuhku? Dari makanan? Dari udara? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban. Yang kutahu, ada makhluk lain yang hidup di dalam tubuhku, selain diriku sendiri. Sekilas terdengar mustahil dan aku pun tak percaya. Kupikir aku telah berpindah ke alam lain, sembuh di sana, lalu kembali.
Nyatanya, hidup masih berjalan. Aku masih bisa menggenggam erat tangan Falguni (anakku), suamiku, dan saudara-saudaraku. Harapan yang dulu terasa lebur kini menjadi nyata, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dideteksi dan diakui keberadaannya. Sebelum kami pulang, beliau berkata akan memelihara makhluk itu dan memintaku datang lagi ketika sudah mampu berjalan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal sebelum aku sembuh sepenuhnya. Aku pun tak pernah melihat makhluk itu lagi.
Sejak hari itu, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk hidup.
…
Empat tahun berlalu. Waktu berjalan pelan dan tubuhku perlahan pulih. Lalu keajaiban lain datang, aku hamil anak kedua. Rasanya tak percaya, seolah kehidupan benar-benar ingin tinggal di tubuhku lagi. Ketakutan akan penyakitku yang lalu membuat semua orang menjagaku dengan penuh kasih, seperti tuan putri.
Tepat di hari Anggara Kasih Julungwangi, kandunganku memasuki usia delapan bulan dua minggu. Hari itu keluarga bersiap untuk piodalan besar di Sanggah Merajan. Aku ingin sekali ikut sembahyang, tapi iparku melarang.
“Diam saja di kamar, kalau ada apa-apa segera panggil aku,” katanya tegas.
Mertuaku menambahkan, “Ibu juga sebentar saja ke Sanggah, kamu istirahat, ya.”
Aku hanya mengangguk patuh, menahan keinginan untuk sekadar mencium harum dupa dan bunga di pelataran. Padahal aku merasa jauh lebih baik jika bisa bertemu dengan para saudara, daripada berbaring terus di kasur. Namun Ibu sudah mengingatkanku untuk tetap di rumah selama kandungan membesar.
Kata Ibu, ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, tubuh ibu hamil menjadi lebih rentan terhadap niat buruk orang yang tidak suka. Begitulah kepercayaan para tetua dulu, selalu meyakini hal-hal yang tak kasatmata. Mau tak mau, aku pun ikut percaya dan mematuhi, takut dianggap melawan.
Aku masih mengelus perutku sambil mendengarkan sayup-sayup suara gong dari kejauhan. Suamiku dan Falguni, sudah sejak pagi berada di sanggah untuk menghaturkan banten atas permintaanku. Hanya aku dan anakku, yang masih hangat bersemayam di dalam rahimku tetap tinggal di rumah. Suara lembut iringan tari dan kidung membuatku hanyut dalam beberapa waktu. Aku mengikuti bait demi bait nya seperti berucap syukur kepada Tuhan atas keajaibannya. Belum selesai kidung itu aku lantunkan, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perutku. Air ketuban mengalir di kakiku dan aku tahu waktunya telah tiba.
Dengan kesadaran penuh, aku berjalan keluar lewat pintu belakang agar keluargaku tidak heboh. Jalan menuju rumah bidan hanya satu kilometer, tapi terasa seperti menempuh jarak yang tak berujung. Setiap langkah disertai rasa sakit dan napas yang tertahan. Aku menggenggam perutku, berdoa agar bayi di dalamnya tetap kuat.
Ketika sampai di rumah bidan, semua orang menatapku kaget sebelum akhirnya bergegas menyiapkan alat. “Ibu mau saya panggilkan suami?” tanya bidan sambil membantuku ke ranjang. Aku hanya menggeleng pelan. Jika menunggu suamiku datang, mungkin tak sempat. Aku hanya ingin anakku segera lahir dengan selamat.
…
“Tarik napas panjang, Bu. Satu, dua, tiga… dorong.” Suara bidan terdengar menuntunku dalam ruang yang terasa asing. Setiap tarikan nafas adalah perjuangan, setiap dorongan adalah doa. Setelah tiga puluh menit, tangisan bayi memecah keheningan. Suara itu membuat dadaku sesak oleh haru. Bayi perempuan, sehat, mungil, dan suaranya kuat sekali.
Dalam keadaan lemas, aku berbisik, “Tolong panggil suamiku, dia pasti di Sanggah.”
Tak lama, keluarga berdatangan dengan wajah cemas dan mata sembab. “Kami pikir kamu menghilang! Untung bidan memberi kabar, mengapa tidak teriak?” Isak iparku. Suamiku mendekat, menatapku lama. “kamu kuat sekali,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. Aku hanya menatap mereka tanpa bisa bicara banyak, tubuhku masih lemas dan harus dirawat dalam beberapa hari. Nafasku juga masih terengah-engah karena persalinan dilakukan secara normal. Sebenarnya dokter tidak menyarankan tindakan itu, tapi semua itu atas permintaanku.
Kamar bidan itu penuh dengan sanak saudara yang bersyukur. Aku menatap bayiku lama-lama. Di dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga hidupnya seperti Tuhan menjaga hidupku dulu. Ia lahir di hari Anggara Kasih Julungwangi, bersamaan dengan piodalan keluarga kami. Dalam perjalanan sepuluh menit itu, aku sempat berjanji pada Tuhan: jika anakku lahir tanpa kurang satu hal, aku akan menghaturkan seratus mentimun sebagai tanda terima kasih. Kini janjiku itu harus kutepati.
Sore itu, aku memandangi langit dari jendela rumah bidan. Matahari hampir tenggelam dan angin membawa harum bunga canang dari arah Sanggah. Aku tersenyum pelan. Dalam hatiku, aku menitipkan doa pada namanya, agar ia tumbuh menjadi anak yang penuh kedamaian, seperti hari kelahirannya yang suci — hari Anggara Kasih Julungwangi, saat hidup dan keajaiban bertemu dalam satu waktu. [T]
Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...