Puisi-puisi Irsyad Qalbi | Hujan Lain pada Sebuah Taman

Irsyad Qalbi
by Irsyad Qalbi — November 01, 2025 in Puisi

Tatkala.co

HUJAN LAIN PADA SEBUAH TAMAN

di taman
betapa seluruh hal seakan sepakat
tak acuhi waktu sementara.
itu hari hampir senja dan
habis saja hujan

(ada jembatan tua antara kali kecil itu
tampak lebih bijak dengan
permak cat hijau dan putih)

ini kepalaku, sempurna dipangkumu.
wajahku serupa daun hijau muda
dan matamu langit biru sepuh

di antara rimbunan kembang dan
bangku taman yang lembab
segala hendak jadi sunyi

(ada rosario yang kau kenakan bergetar
ikuti gelisah nafasmu
dan lantunan murottal quran
barang kali dengung nyamuknyamuk
yang kerap meresahkan kita)

di matamu
awan kilat dan muram
lekas pecah perlahan.
tipis gerimis
pelan hujan.
gumammu, ialah guntur
yang menghentak-hentak dadaku

air mata jatuh ke wajah
pecah jadi perih
dicerap akar jantungku

menjelang tibanya sesuatu
yang telah sering kita terka
kita pun gigil sebab dingin yang lain

di taman,
betapa seluruh hal seakan sepakat
tak acuhi waktu sementara.
sebab ini kali terakhir, barang kali

yang bisa jadi milik kita
sebelum nanti
sesuatu yang malam itu tiba

Yogyakarta, 2025
 

PARADE PADA MUSIM KEMARAU BASAH

parade-parade kesedihan tertanggal
dalam almanak.
pada musim kemarau basah
juni yang runyam dan murung

setiap perayaan, selalu
air mata jatuh
air mata jatuh

semenjak tahun pertama

(terompet ditiup
perkusi ditabuh
lagu-lagu kekalahan dimainkan
bergaung, bergaung
dalam keriuhan tangisan)

aku bertaruh
aku bertaruh

kau dan mereka akan pergi lagi.
meninggalkan dan
tak berniat kembali

satupersatu
bergegas menuju
gerbonggerbong
yang penuh dan sesak.
menambah kehilangan liyan
memanjangkan parade tahun depan

tapi aku di sini
masih di sini.
menyaksikan semua
di bawah langit hujan panas
kenakan payung hitam
—penuh lubang

Yogyakarta, 2025
 

HARI-HARI YANG MALAS

hari-hari yang malas.
hanya angin dan sinar
menyempil di sela-sela kemurungan

seperti suatu kerentaan:
kecemasan, dengung panjang
yang bergejolak tenang.
terasa sore pelan sekaligus runyam

—sekarat, betapa lembut
mengecup kening

basuh aku,
basuh aku

suatu yang bening
suatu yang jernih

redakan sesuatu dari dalam
yang diam-diam
begitu sengsara

aku berserah, aku berserah.
cukupkan ranting rapuh
dan layu daun muda

nasib baik,
lebihlah beriak dan mengalir
seperti waktu
hanyutkan
hanyutkan …

Yogyakarta, 2025 

HANYA SOAL WAKTU

lalu tentang sekarang,
telah kami sadari
bahwa semua ini cuma permainan
—seribu omongkosong menjelma
katakata yang dipaksa melumat sentausa

(aku menyaksikan katakata
telah diperkosa dan
bukan lagi suatu kerahasiaan)

segala pun hangus,
sejak angkuh api di dada mereka
habiskan isi kami.
sudah hampir tiada sisa
yang benar milik kami di tempat ini

hidup cuma menanti terang
dalam kebisuan yang bergejolak

(adakah sentausa dapat lahir dan
hidup panjang dari
segala bualan?)

ketidaksadaran, diamdiam
merakit puingpuing
menjadi peledak.
seakan menggugat
jadi bahasa baru
: katakata yang dapat
mereka pahami

sumbu telah tersulut
dan hampir pada tiba.
adalah bom waktu, sungguh

hanya soal waktu.

Yogyakarta, 2025 

KESEDIHAN INI


: Avyy

kesedihan ini,
barang kali segenap kekuatan untukku
yang telah diam-diam kau anyam
jauh sebelum ini tiba.

agar sewaktu-waktu
ketika aku mengenangmu,
aku dapat mengasihi diriku
seperti kau mengasihi aku.

engkau, mahkluk kecil lagi malang,
istirahlah dalam teduh;
dalam hening damaimu

Yogyakarta, 2025
 

SIMENG

barang kali bulubulu acapkali rontok
dan perutmu yang kerap keroncongan
itu sebab kami ini tak pandai merawat, kukira

tapi dalam naas asuhan ini
begitu kau selalu cukupi aku
untuk ada kau di sisi.
kenangan yang seperti tikus-tikus loteng
cuma bisa takluk
dalam cakar dan taringmu yang lucu

Bima — Yogyakarta, 2025
 

TIKUS-TIKUS LOTENG

hatiku serupa sobekan kertas.
berserakan di seluruh
rumah hampir musnah

betapa kenangan telah menjelma
tikus-tikus loteng

kerisauan bangkit
dari derap
kakikaki mungil
dan decitdecit
yang malar

: seperti tiada celah
buat menghindar.
kesedihan nan perih mengintai
mengancam dari langit-langit

kesunyian kamar
seperti tubuhku, gigil
dalam selimut rajut ibu.
habis di pembaringan:
sisa tulang-belulang

Bima — Yogyakarta, 2025

.

Penulis: Irsyad Qalbi
Editor: Adnyana Ole
 

Tag: Puisi
Avatar

Irsyad Qalbi

Related Posts