Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
ADA puisi berjudul “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono; ada lagu berjudul “November Rain” ciptaan Axl Rose dari grup musik Gun N’ Roses. Keduanya bisa mengetarkan emosi tentang kehidupan. Keduanya secara kuat dapat memunculkan metapora kehidupan.
Ketika rintik hujan jatuh tidak pada musimnya, ingatan kita akan melayang pada bait puitis Sapardi, “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”. Ketika terjadi drama dalam kehidupan, ingatan kita bisa tertuju pada lirik melankolis Axl Rose, “tak ada yang abadi, hati bisa berubah; sulit menjaga lilin tetap menyala di tengah musim hujan November yang dingin”.
Bait puitis Sapardi itu menggambarkan kesabaran dan cinta yang tak terucap, sebuah romantisme dalam ketidaklaziman hujan di bulan yang umumya kemarau. Bagi warga kota, khususnya di pengujung tahun, ada narasi lain yang dramatis. Jika hujan Juni adalah puisi, lagu hujan November adalah lagu peringatan, bahkan sebuah balada melankolis.
Bulan November, di sebagian besar wilayah Indonesia, menandai puncak transisi dari kemarau ke musim hujan. Intensitas curah hujan pada periode ini cenderung tinggi dan ekstrem, berpotensi memicu berbagai bencana. Hujan deras yang mengguyur tidak lagi melambangkan keromantisan, melainkan ancaman nyata bagi infrastruktur dan kehidupan kota. Genangan air, banjir, dan tanah longsor menjadi risiko yang harus dihadapi. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara hujan dalam sajak Sapardi, yang bisu dan sabar, dengan hujan yang dialami warga kota, yang gaduh dan menuntut perhatian.
Perbedaan mendasar ini menciptakan lanskap emosi yang kompleks. Hujan Juni dalam sajak Sapardi adalah tentang kesabaran dan cinta yang tak terucap. Sementara itu, hujan November di kota bisa terasa seperti adegan epik dari klip video ”November Rain”. Air yang turun seakan membawa serta kesedihan yang mendalam dan kehancuran yang tak terhindarkan. Air yang melimpah bukan lagi simbol cinta, melainkan simbol dukacita atas terenggutnya kenyamanan dan keamanan.
Kerapuhan kota dalam menghadapi hujan lebat disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Urbanisasi yang pesat, dengan pembangunan yang masif, telah mengurangi area resapan air. Beton dan aspal menutupi lahan-lahan hijau, membuat air hujan kesulitan meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir ke sistem drainase. Ironisnya, sistem drainase yang ada sering kali tidak memadai untuk menampung volume air yang besar dan tersumbat oleh sampah. Tumpukan sampah yang dibuang sembarangan di sungai dan selokan menjadi penyebab utama terhambatnya aliran air, memperparah risiko banjir.
Banjir yang menggenangi permukiman bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam keselamatan dan kesehatan warga. Korban jiwa sering kali tidak terhindarkan, dan munculnya berbagai penyakit pascabanjir menjadi momok tersendiri. Selain banjir, ancaman lain yang mengintai adalah tanah longsor, terutama di area perkotaan yang terletak di lereng atau perbukitan. Curah hujan yang tinggi dapat membuat struktur tanah menjadi jenuh dan tidak stabil, meningkatkan risiko longsor.
Sudah saatnya warga kota mengubah perspektif terhadap hujan November. Ini bukan lagi sekadar momen untuk memandang ke luar jendela sambil minum kopi, tetapi waktu untuk bertindak. Langkah-langkah preventif harus dilakukan secara kolektif dan individu untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air di sekitar rumah dan pemukiman. Got dan selokan yang bersih memastikan aliran air tidak terhambat. Bagi yang tinggal di daerah dataran rendah atau pesisir, perlu mewaspadai potensi banjir rob yang juga sering terjadi di bulan November.
Akhirnya, narasi hujan ini—yang puitis dari Sapardi, yang dramatis dari Guns N' Roses, dan yang nyata di perkotaan—mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga. Hujan Juni adalah keindahan yang tak terduga. Hujan November, baik dalam lirik lagu maupun dalam kenyataan, adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang menuntut kewaspadaan dan ketangguhan. Warga kota tidak bisa lagi hanya mengagumi, tetapi harus bersiap menghadapi. Jadikan November bukan sebagai bencana, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan ketangguhan kolektif, sambil mengenang bahwa di balik semua drama, ada realitas yang harus kita hadapi. [T]
Penulis: Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...