Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
ADA puisi berjudul “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono; ada lagu berjudul “November Rain” ciptaan Axl Rose dari grup musik Gun N’ Roses. Keduanya bisa mengetarkan emosi tentang kehidupan. Keduanya secara kuat dapat memunculkan metapora kehidupan.
Ketika rintik hujan jatuh tidak pada musimnya, ingatan kita akan melayang pada bait puitis Sapardi, “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”. Ketika terjadi drama dalam kehidupan, ingatan kita bisa tertuju pada lirik melankolis Axl Rose, “tak ada yang abadi, hati bisa berubah; sulit menjaga lilin tetap menyala di tengah musim hujan November yang dingin”.
Bait puitis Sapardi itu menggambarkan kesabaran dan cinta yang tak terucap, sebuah romantisme dalam ketidaklaziman hujan di bulan yang umumya kemarau. Bagi warga kota, khususnya di pengujung tahun, ada narasi lain yang dramatis. Jika hujan Juni adalah puisi, lagu hujan November adalah lagu peringatan, bahkan sebuah balada melankolis.
Bulan November, di sebagian besar wilayah Indonesia, menandai puncak transisi dari kemarau ke musim hujan. Intensitas curah hujan pada periode ini cenderung tinggi dan ekstrem, berpotensi memicu berbagai bencana. Hujan deras yang mengguyur tidak lagi melambangkan keromantisan, melainkan ancaman nyata bagi infrastruktur dan kehidupan kota. Genangan air, banjir, dan tanah longsor menjadi risiko yang harus dihadapi. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara hujan dalam sajak Sapardi, yang bisu dan sabar, dengan hujan yang dialami warga kota, yang gaduh dan menuntut perhatian.
Perbedaan mendasar ini menciptakan lanskap emosi yang kompleks. Hujan Juni dalam sajak Sapardi adalah tentang kesabaran dan cinta yang tak terucap. Sementara itu, hujan November di kota bisa terasa seperti adegan epik dari klip video ”November Rain”. Air yang turun seakan membawa serta kesedihan yang mendalam dan kehancuran yang tak terhindarkan. Air yang melimpah bukan lagi simbol cinta, melainkan simbol dukacita atas terenggutnya kenyamanan dan keamanan.
Kerapuhan kota dalam menghadapi hujan lebat disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Urbanisasi yang pesat, dengan pembangunan yang masif, telah mengurangi area resapan air. Beton dan aspal menutupi lahan-lahan hijau, membuat air hujan kesulitan meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir ke sistem drainase. Ironisnya, sistem drainase yang ada sering kali tidak memadai untuk menampung volume air yang besar dan tersumbat oleh sampah. Tumpukan sampah yang dibuang sembarangan di sungai dan selokan menjadi penyebab utama terhambatnya aliran air, memperparah risiko banjir.
Banjir yang menggenangi permukiman bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam keselamatan dan kesehatan warga. Korban jiwa sering kali tidak terhindarkan, dan munculnya berbagai penyakit pascabanjir menjadi momok tersendiri. Selain banjir, ancaman lain yang mengintai adalah tanah longsor, terutama di area perkotaan yang terletak di lereng atau perbukitan. Curah hujan yang tinggi dapat membuat struktur tanah menjadi jenuh dan tidak stabil, meningkatkan risiko longsor.
Sudah saatnya warga kota mengubah perspektif terhadap hujan November. Ini bukan lagi sekadar momen untuk memandang ke luar jendela sambil minum kopi, tetapi waktu untuk bertindak. Langkah-langkah preventif harus dilakukan secara kolektif dan individu untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air di sekitar rumah dan pemukiman. Got dan selokan yang bersih memastikan aliran air tidak terhambat. Bagi yang tinggal di daerah dataran rendah atau pesisir, perlu mewaspadai potensi banjir rob yang juga sering terjadi di bulan November.
Akhirnya, narasi hujan ini—yang puitis dari Sapardi, yang dramatis dari Guns N' Roses, dan yang nyata di perkotaan—mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga. Hujan Juni adalah keindahan yang tak terduga. Hujan November, baik dalam lirik lagu maupun dalam kenyataan, adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang menuntut kewaspadaan dan ketangguhan. Warga kota tidak bisa lagi hanya mengagumi, tetapi harus bersiap menghadapi. Jadikan November bukan sebagai bencana, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan ketangguhan kolektif, sambil mengenang bahwa di balik semua drama, ada realitas yang harus kita hadapi. [T]
Penulis: Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...