“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nyata yang dipenuhi sistem yang belum selalu siap menampung semangat itu.
Setiap tahun, pulau ini penuh dengan acara seni dari pentas kecil yang digelar oleh komunitas hingga festival berskala internasional. Bali tampak gemerlap, seperti tidak pernah kehabisan panggung. Tapi di balik cahaya itu, ada sisi lain yang lebih sunyi dan tak seindah narasi brosur. Sisi di mana para seniman, terutama yang masih muda, belajar menghadapi ketidakteraturan, kesalahpahaman, dan perbedaan perlakuan.
Sebagai pelaku seni yang masih haus belajar dan terus mencari ruang untuk berkarya, saya sering menjadikan setiap panggung besar atau kecil sebagai tempat belajar tentang bagaimana dunia seni bekerja di balik tirainya.
Saya mengingat satu peristiwa belum lama ini terjadi ketika jadwal gladi yang semula dijanjikan pukul satu siang baru terlaksana setelah jam empat lewat. Kami sudah siap sejak lama, kami sebenarnya ingin mencoba kostum baru yang sebelumnya saya eksplorasi sekadar memastikan apakah bahan dan potongannya tidak mengganggu gerak di atas panggung.
Tapi ketika gladi dimulai, kami hanya diminta untuk blocking, tanpa musik dan tanpa pencahayaan, mapping yang teman saya buat pun tidak dapat kami usahakan dengan maksimal.

Kami menari dalam ruang yang hening, mencoba membayangkan irama dan cahaya yang belum hadir. Dari situ saya belajar bahwa kesiapan teknis tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan batin. Hal ini menjadi semacam tamparan bagi saya pribadi, sebab karya yang saya tampilkan bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari proses kolektif bersama beberapa teman lintas disiplin yang sebaya.
Kami berproses dengan semangat belajar, berdiskusi, dan saling menumbuhkan dalam penciptaan karya ini. Bagi saya, semangat itu bukan hanya tentang menari atau mencipta, tetapi juga tentang membangun ekosistem kecil yang sehat.
Saya sering melihat bagaimana semangat kolektif yang seharusnya jadi kekuatan justru bisa goyah hanya karena hal sederhana: komunikasi yang tersendat. Dalam satu acara, panitia tampak sibuk mengatur tamu, soundman berjibaku dengan kabel dan peralatan, sementara kami para penampil menunggu kepastian kapan bisa mulai gladi. Setiap orang bekerja keras dengan niat baik, tapi arah kerja itu seperti tak pernah benar-benar bertemu.
Situasi seperti ini tidak jarang terjadi. Kadang semua terlihat rapi di atas kertas, tapi di lapangan justru seperti kehilangan koordinasi. Di tengah kelelahan, suara-suara saling tumpang tindih, bukan menyatu. Energi yang semestinya mengalir dari semangat bersama malah pecah di tengah jalan.
Padahal, seni adalah kerja rasa. Ia bukan mesin yang bisa diatur hanya dengan jadwal dan sistem. Namun, dalam banyak kesempatan, struktur kerja yang terlalu kaku justru membuat suasana jadi kering. Seolah panggung lebih sibuk mengejar ketepatan rundown daripada mendengar degup para penarinya.
Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa profesionalisme tidak selalu berarti ketat pada waktu atau aturan. Ia justru tumbuh dari empati dan kesediaan untuk memahami ritme satu sama lain. Karena pada akhirnya, komunikasi yang hangat sering kali lebih menenangkan daripada sistem yang sempurna.
Pengalaman itu akhirnya membuka mata saya terhadap banyak hal yang sebelumnya luput saya sadari. Baik ketika saya menjadi pengkarya, penari, maupun pendukung karya orang lain, saya mulai mengenali pola yang berulang hal-hal kecil yang diam-diam membentuk cara kita memandang dunia seni di sekitar kita.

Salah satunya adalah isu yang sering terasa namun jarang dibicarakan: perbedaan cara memperlakukan pelaku seni lokal dan non-lokal. Saya pernah menyaksikan bagaimana seniman dari luar negeri disambut dengan segala kelengkapan: ruang istirahat yang nyaman, jadwal teknis yang tertata, bahkan sesi diskusi yang disiapkan dengan rapi. Sementara di sisi lain, seniman lokal harus menunggu giliran, mencari ruang ganti seadanya, atau menerima perubahan jadwal tanpa penjelasan yang jelas.
Tidak ada yang salah memberi perhatian lebih kepada tamu. Tapi menjadi persoalan ketika mereka yang “dari dalam” justru harus menurunkan ekspektasi. Pelan-pelan, hal seperti ini menciptakan rasa hierarki dalam dunia seni semacam mentalitas kolonial baru, seperti paribahasa gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.
Padahal seni adalah wilayah setara; semua orang datang dengan niat yang sama: mempersembahkan sesuatu dari dirinya. Menghormati seniman lokal bukan semata karena mereka orang Bali, tetapi karena mereka adalah akar dari kehidupan seni itu sendiri. Dari mereka, panggung di pulau ini tumbuh dan bertahan.
Ada hal-hal yang tampak kecil tapi menentukan: urusan makan, saya dan teman teman pernah menunggu lama di area prasmanan dalam suatu acara di Bali berskala internasional hanya untuk memastikan boleh makan. Ternyata nama kami, para penampil lokal, tidak tercantum dalam daftar administrasi. Akhirnya kami tetap makan, tapi dengan rasa kikuk seolah menjadi tamu di rumah sendiri.
Mungkin tampak remeh, tapi penghargaan kadang justru tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini. Bagi seorang pengkarya, setiap detail kecil adalah bagian dari pengalaman batin yang memengaruhi cara mereka hadir di panggung. Mungkin penghargaan itu memang tidak selalu berupa tepuk tangan; kadang cukup dengan memastikan semua orang bisa makan dengan tenang.
Ruang Akademik dan Tanggung Jawab Keteladanan
Semua pengalaman ini tidak saya tulis untuk menyalahkan siapa pun. Saya tahu betul, mengelola acara seni bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus disiapkan dari teknis, komunikasi, hingga menjaga suasana kerja tetap hangat di tengah tekanan waktu. Namun, justru karena kompleksitas itulah, ruang-ruang yang memiliki sumber daya dan wacana, termasuk ruang pendidikan seni, seharusnya dapat menjadi contoh dalam pengelolaan dan etika bekerja.

Barangkali sudah saatnya ruang pendidikan seni kita dilihat bukan semata sebagai tempat mengasah kemampuan teknis, melainkan juga sebagai ruang pembentukan nilai tempat belajar tentang empati, disiplin, dan tanggung jawab. Di sanalah, nilai-nilai itu tidak berhenti pada teori, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari melalui cara berproses, berkomunikasi, dan saling menghargai.
Apabila kampus, lembaga seni, dan institusi budaya mampu terus menumbuhkan budaya kerja yang saling menghargai dan terbuka terhadap dialog, maka dunia seni di Bali akan bergerak ke arah yang lebih sehat.
Dari ruang belajar yang sadar akan nilai dan proses, akan lahir generasi seniman yang tidak hanya terampil berkarya, tetapi juga peka terhadap manusia dan lingkungan kerja di sekitarnya. Dengan begitu, ekosistem seni dapat berkembang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi semua untuk tumbuh bersama.
Bali sering disebut sebagai “panggung dunia” tempat di mana budaya hidup dalam keseharian. Tapi panggung, betapapun megahnya, tetaplah ruang yang rapuh jika tidak diisi dengan rasa saling menghargai. Seni tidak tumbuh dari kesempurnaan sistem, melainkan dari kesadaran bersama untuk menjaga kemanusiaan di tengah kerja kreatif.

Kami, para pengkarya muda, tentu masih banyak belajar. Tapi semestinya, lembaga-lembaga yang menaungi kami juga terus belajar: belajar untuk mendengar, memperbaiki, dan menjadi ruang yang menumbuhkan, bukan melemahkan. Karena setiap panggung, sekecil apa pun, adalah tempat belajar tentang bagaimana manusia berhubungan satu sama lain.
Dan mungkin, dari pengalaman-pengalaman kecil yang kadang melelahkan tapi jujur itu, kita semua bisa mengerti makna kalimat sederhana ini: belajar dari panggung sendiri. [T]
Penulis: Mahijasena
Editor: Adnyana Ole
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...