Prof. Surada: Tiga Manfaat Utama Utsawa Dharma Gita

tatkala
by tatkala — Oktober 28, 2025 in Budaya

Tatkala.co

ADA tiga manfaat utama pelaksanaan Utsawa Dharma Gita di Bali.

Pertama, sebagai media belajar nilai-nilai tatwa (filsafat), etika, dan keagamaan bagi generasi muda. Tradisi melajah sambil magending (belajar sambil bernyanyi) adalah metode pembelajaran aktif yang diwarisi leluhur.

Kedua, secara spiritual, Dharma Gita merupakan bagian dari yadnya — cara umat Hindu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat nyanyian suci. “Nyanyian itu mempersembahkan sari rasa dalam tubuh kita, seperti persembahan bunga dan upakara,” jelasnya.

Ketiga, UDG juga memiliki manfaat kesehatan. Melalui olah suara dan pengaturan napas (pranayama), kegiatan ini menyehatkan pernapasan dan menenangkan pikiran, serupa dengan praktik yoga.

Hal itu disampaikan Ketua Widya Sabha Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A, Selasa (28/10/2025).

Menurut Prof. Surada, Utsawa Dharma Gita bukan hanya lomba membaca sastra suci, tetapi sarana pelestarian warisan leluhur sejak abad ke-9. Tradisi membaca dan melagukan lontar seperti kakawin, geguritan, dan kidung, merupakan akar kebudayaan Bali.

Namun, kegiatan semacam ini kerap kalah pamor dibanding pembangunan fisik. “Membangun trotoar lebih mudah dilihat hasilnya. Tapi membangun mental melalui sastra itu hasilnya jangka panjang dan tak kasat mata,” tegasnya.

Prof. Surada mengatakan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 tahun 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali berjalan lancar meski sempat tertunda dari jadwal biasanya di bulan Juli. Namun, di balik kesuksesan itu, terselip keprihatinan: tidak semua kabupaten/kota mengirim peserta lengkap.

“Mungkin karena kendala anggaran, tetapi syukur semua bagian bisa terlaksana dengan baik,” ujar Prof. Surada.

Guru besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini menilai antusiasme generasi muda, terutama siswa SD, terhadap ajang budaya ini sebenarnya sangat besar. Namun, dukungan dari pemerintah daerah masih belum sepadan dengan semangat mereka.

“Berbeda dengan olahraga. Belum juara saja sudah disambut luar biasa. Sementara Bali, yang selalu juara umum UDG nasional, malah sepi perhatian,” sindirnya.

UDG sendiri pertama kali dirumuskan pemerintah pada tahun 1978, dimulai dari Bali lalu berkembang hingga tingkat nasional. Terakhir, pelaksanaan ke-15 digelar di Surakarta pada 2024 dan diikuti peserta dari 33 provinsi se-Indonesia.

Prof. Surada menilai, UDG sejatinya selaras dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.

“Kalau visi itu diibaratkan pohon, maka akar dari Sat Kerthi Loka Bali adalah sastra. Tanpa akar, pohon itu tak akan hidup,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk kembali menyuburkan akar budaya ini agar tidak layu di tengah gemerlap pembangunan fisik dan olahraga.

“Kalau akar budaya kita tidak dirawat, maka Bali hanya tinggal nama tanpa jiwa,” katanya. [T]

Reporter/Penulis: Bud

Avatar

tatkala

Related Posts
Esai

Pemimpin dan Pandita

BY IGA Darma Putra Februari 05, 2019

Hidup sebagai rakyat biasa di negara Telaga, maka saya harus mengatakan, pemimpin dan pandita adalah tulang punggung negara. Keduanya memiliki andil besar dalam keberlangsungan ke...

Read More
Esai

VIRAL

BY Oka Rusmini Februari 04, 2019

KOPLAK merasa belakangan ini kepalanya sering gatal-gatal. Tingkat rasa gatal itu makin hari makin keras menyerang dan rasa gatal itu bagi Koplak sudah seperti kekuasaan yang tida...

Read More
Esai

Kendali Kuasa (1)

BY Made Metera Februari 03, 2019

Masyarakat Bali adalah masyarakat yang ramah, terbuka kepada orang luar, cinta harmoni, dan memiliki budaya yang adi luhung yang tetap mampu bertahan. Penilaian itu awalnya d...

Read More
Cerpen

Komang

BY Rai Sri Artini Februari 03, 2019

Di hadapanku berdiri bangunan megah. Demikian indah. Penuh cahaya. Perasaanku sungguh damai. Awan berarak putih seputih kapas. Wajah orang-orang yang kutemui cerah dan bercah...

Read More