Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri
Sebuah Kejutan dari Harvard Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi...
ADA tiga manfaat utama pelaksanaan Utsawa Dharma Gita di Bali.
Pertama, sebagai media belajar nilai-nilai tatwa (filsafat), etika, dan keagamaan bagi generasi muda. Tradisi melajah sambil magending (belajar sambil bernyanyi) adalah metode pembelajaran aktif yang diwarisi leluhur.
Kedua, secara spiritual, Dharma Gita merupakan bagian dari yadnya — cara umat Hindu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat nyanyian suci. “Nyanyian itu mempersembahkan sari rasa dalam tubuh kita, seperti persembahan bunga dan upakara,” jelasnya.
Ketiga, UDG juga memiliki manfaat kesehatan. Melalui olah suara dan pengaturan napas (pranayama), kegiatan ini menyehatkan pernapasan dan menenangkan pikiran, serupa dengan praktik yoga.
Hal itu disampaikan Ketua Widya Sabha Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A, Selasa (28/10/2025).
Menurut Prof. Surada, Utsawa Dharma Gita bukan hanya lomba membaca sastra suci, tetapi sarana pelestarian warisan leluhur sejak abad ke-9. Tradisi membaca dan melagukan lontar seperti kakawin, geguritan, dan kidung, merupakan akar kebudayaan Bali.
Namun, kegiatan semacam ini kerap kalah pamor dibanding pembangunan fisik. “Membangun trotoar lebih mudah dilihat hasilnya. Tapi membangun mental melalui sastra itu hasilnya jangka panjang dan tak kasat mata,” tegasnya.
Prof. Surada mengatakan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 tahun 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali berjalan lancar meski sempat tertunda dari jadwal biasanya di bulan Juli. Namun, di balik kesuksesan itu, terselip keprihatinan: tidak semua kabupaten/kota mengirim peserta lengkap.
“Mungkin karena kendala anggaran, tetapi syukur semua bagian bisa terlaksana dengan baik,” ujar Prof. Surada.
Guru besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini menilai antusiasme generasi muda, terutama siswa SD, terhadap ajang budaya ini sebenarnya sangat besar. Namun, dukungan dari pemerintah daerah masih belum sepadan dengan semangat mereka.
“Berbeda dengan olahraga. Belum juara saja sudah disambut luar biasa. Sementara Bali, yang selalu juara umum UDG nasional, malah sepi perhatian,” sindirnya.
UDG sendiri pertama kali dirumuskan pemerintah pada tahun 1978, dimulai dari Bali lalu berkembang hingga tingkat nasional. Terakhir, pelaksanaan ke-15 digelar di Surakarta pada 2024 dan diikuti peserta dari 33 provinsi se-Indonesia.
Prof. Surada menilai, UDG sejatinya selaras dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.
“Kalau visi itu diibaratkan pohon, maka akar dari Sat Kerthi Loka Bali adalah sastra. Tanpa akar, pohon itu tak akan hidup,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk kembali menyuburkan akar budaya ini agar tidak layu di tengah gemerlap pembangunan fisik dan olahraga.
“Kalau akar budaya kita tidak dirawat, maka Bali hanya tinggal nama tanpa jiwa,” katanya. [T]
Reporter/Penulis: Bud
Sebuah Kejutan dari Harvard Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi...
SUATU malam pada acara arisan di tingkat RT (Rukun Tetangga), seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan berupa wejangan atau nasihat kepada para warga. Ia mengingatkan agar war...
SABTU menjelang siang, 18 Oktober 2025, hiruk-pikuk Denpasar berjalan seperti biasa—jalanan yang padat dan udara yang panas. Di lantai 2 Graha Yowana Suci, beberapa orang tampak b...
INI bisa disebut festival unik. Pengunjung ikut diskusi dengan ceria sekaligus memenuhi keingintahuan tentang kondisi ayam petelur yang diternakkan dalam kandang baterai. Tidak se...
DI tengah riuh rendah modernitas Denpasar Timur, denyut sejarah masih terasa kuat dari Pabrik Besi Pande Jegog di Jalan Trenggana, Penatih. Bukan sekadar pabrik, tempat ini adalah...
— Catatan Sugi Lanus, 19 Oktober 2025 Saya sangat menyesal tidak pernah berjumpa denganmu, Timothy. Kenapa? Karena saya adalah kamu ketika seusiamu. Saya membaca Karl Marx....
SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja...
Aku Sebilah Pelor Wahai raja dirajaKukatakan apa adanyaTidak kukurangi, tak dilebih-lebihkan Bahwa sebilah pelorAmbisiku ingin sekelas penyair tulenBermartabat pelakon sandi...
DALAM sejarah ilmu pengetahuan, ada tokoh-tokoh yang dikenang bukan semata karena penemuan besarnya, melainkan karena kejujuran intelektual dan keberanian moralnya. Salah satu di...
Hari itu—16 Oktober 2025, di saat saya masih meratapi kegagalan Timnas masuk piala dunia, tiba-tiba handphone saya berdering tak karuan. Muncul banyak kabar, dari rekan maupun dar...