Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua
Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampu...
ADA tiga manfaat utama pelaksanaan Utsawa Dharma Gita di Bali.
Pertama, sebagai media belajar nilai-nilai tatwa (filsafat), etika, dan keagamaan bagi generasi muda. Tradisi melajah sambil magending (belajar sambil bernyanyi) adalah metode pembelajaran aktif yang diwarisi leluhur.
Kedua, secara spiritual, Dharma Gita merupakan bagian dari yadnya — cara umat Hindu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat nyanyian suci. “Nyanyian itu mempersembahkan sari rasa dalam tubuh kita, seperti persembahan bunga dan upakara,” jelasnya.
Ketiga, UDG juga memiliki manfaat kesehatan. Melalui olah suara dan pengaturan napas (pranayama), kegiatan ini menyehatkan pernapasan dan menenangkan pikiran, serupa dengan praktik yoga.
Hal itu disampaikan Ketua Widya Sabha Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A, Selasa (28/10/2025).
Menurut Prof. Surada, Utsawa Dharma Gita bukan hanya lomba membaca sastra suci, tetapi sarana pelestarian warisan leluhur sejak abad ke-9. Tradisi membaca dan melagukan lontar seperti kakawin, geguritan, dan kidung, merupakan akar kebudayaan Bali.
Namun, kegiatan semacam ini kerap kalah pamor dibanding pembangunan fisik. “Membangun trotoar lebih mudah dilihat hasilnya. Tapi membangun mental melalui sastra itu hasilnya jangka panjang dan tak kasat mata,” tegasnya.
Prof. Surada mengatakan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 tahun 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali berjalan lancar meski sempat tertunda dari jadwal biasanya di bulan Juli. Namun, di balik kesuksesan itu, terselip keprihatinan: tidak semua kabupaten/kota mengirim peserta lengkap.
“Mungkin karena kendala anggaran, tetapi syukur semua bagian bisa terlaksana dengan baik,” ujar Prof. Surada.
Guru besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini menilai antusiasme generasi muda, terutama siswa SD, terhadap ajang budaya ini sebenarnya sangat besar. Namun, dukungan dari pemerintah daerah masih belum sepadan dengan semangat mereka.
“Berbeda dengan olahraga. Belum juara saja sudah disambut luar biasa. Sementara Bali, yang selalu juara umum UDG nasional, malah sepi perhatian,” sindirnya.
UDG sendiri pertama kali dirumuskan pemerintah pada tahun 1978, dimulai dari Bali lalu berkembang hingga tingkat nasional. Terakhir, pelaksanaan ke-15 digelar di Surakarta pada 2024 dan diikuti peserta dari 33 provinsi se-Indonesia.
Prof. Surada menilai, UDG sejatinya selaras dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.
“Kalau visi itu diibaratkan pohon, maka akar dari Sat Kerthi Loka Bali adalah sastra. Tanpa akar, pohon itu tak akan hidup,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk kembali menyuburkan akar budaya ini agar tidak layu di tengah gemerlap pembangunan fisik dan olahraga.
“Kalau akar budaya kita tidak dirawat, maka Bali hanya tinggal nama tanpa jiwa,” katanya. [T]
Reporter/Penulis: Bud
Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampu...
DI era ketika musik dapat diputar kapan saja melalui aplikasi streaming yang menyediakan jutaan lagu dalam satu genggaman, keberadaan rilisan fisik tampak seperti peninggalan masa...
ADA sebuah foto yang akhir-akhir ini beredar di media nasional, dan sejak pertama kali saya melihatnya, ia menetap begitu saja di kepala saya—bukan sebagai gambar bencana, tetapi...
BANJIR dahsyat yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali mengingatkan kita pada satu hal yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan: bahwa bencana bukan...
AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui im...
Pagi ini saya ingin kembali mendengarkan musik yang bukan sekadar lagu, melainkan sebuah perjalanan batin: Neverland karya Marillion. Neverland, salah satu lagu epik terbaik Ma...
PIDATO Presiden Prabowo Subianto pada Hari Guru Nasional 2025 mengumandangkan sebuah imajinasi besar, yaitu digitalisasi sebagai solusi utama bagi seluruh persoalan pendidikan. Ad...
SEPERTI biasa, hari-hari ini lini masa kembali menunjukkan pesonanya: mengubah hal yang seharusnya selesai dalam hitungan menit tapi menjadi drama berbabak-babak tak ada ujungnya...
DESA Adat Kintamani merupakan salah satu desa Bali Kuna yang masih mempertahankan “keasliannya” hingga saat ini. Kebudayaan yang dimiliki Desa Bali Kuna dicirikan dari sistem peme...
BILA kita berjalan santai di Denpasar, Ubud, Canggu, Sanur, atau kawasan lain di Bali, pemandangan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak orang Bali kini hidup dalam kondisi yang re...