Gerakan Literasi di Bali, Mana?
KATA “Literasi” kian populer sejak beberapa tahun terakhir. Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin 'literature' dan bahasa inggris 'lette...
ADA tiga manfaat utama pelaksanaan Utsawa Dharma Gita di Bali.
Pertama, sebagai media belajar nilai-nilai tatwa (filsafat), etika, dan keagamaan bagi generasi muda. Tradisi melajah sambil magending (belajar sambil bernyanyi) adalah metode pembelajaran aktif yang diwarisi leluhur.
Kedua, secara spiritual, Dharma Gita merupakan bagian dari yadnya — cara umat Hindu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat nyanyian suci. “Nyanyian itu mempersembahkan sari rasa dalam tubuh kita, seperti persembahan bunga dan upakara,” jelasnya.
Ketiga, UDG juga memiliki manfaat kesehatan. Melalui olah suara dan pengaturan napas (pranayama), kegiatan ini menyehatkan pernapasan dan menenangkan pikiran, serupa dengan praktik yoga.
Hal itu disampaikan Ketua Widya Sabha Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A, Selasa (28/10/2025).
Menurut Prof. Surada, Utsawa Dharma Gita bukan hanya lomba membaca sastra suci, tetapi sarana pelestarian warisan leluhur sejak abad ke-9. Tradisi membaca dan melagukan lontar seperti kakawin, geguritan, dan kidung, merupakan akar kebudayaan Bali.
Namun, kegiatan semacam ini kerap kalah pamor dibanding pembangunan fisik. “Membangun trotoar lebih mudah dilihat hasilnya. Tapi membangun mental melalui sastra itu hasilnya jangka panjang dan tak kasat mata,” tegasnya.
Prof. Surada mengatakan Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-32 tahun 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali berjalan lancar meski sempat tertunda dari jadwal biasanya di bulan Juli. Namun, di balik kesuksesan itu, terselip keprihatinan: tidak semua kabupaten/kota mengirim peserta lengkap.
“Mungkin karena kendala anggaran, tetapi syukur semua bagian bisa terlaksana dengan baik,” ujar Prof. Surada.
Guru besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini menilai antusiasme generasi muda, terutama siswa SD, terhadap ajang budaya ini sebenarnya sangat besar. Namun, dukungan dari pemerintah daerah masih belum sepadan dengan semangat mereka.
“Berbeda dengan olahraga. Belum juara saja sudah disambut luar biasa. Sementara Bali, yang selalu juara umum UDG nasional, malah sepi perhatian,” sindirnya.
UDG sendiri pertama kali dirumuskan pemerintah pada tahun 1978, dimulai dari Bali lalu berkembang hingga tingkat nasional. Terakhir, pelaksanaan ke-15 digelar di Surakarta pada 2024 dan diikuti peserta dari 33 provinsi se-Indonesia.
Prof. Surada menilai, UDG sejatinya selaras dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.
“Kalau visi itu diibaratkan pohon, maka akar dari Sat Kerthi Loka Bali adalah sastra. Tanpa akar, pohon itu tak akan hidup,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk kembali menyuburkan akar budaya ini agar tidak layu di tengah gemerlap pembangunan fisik dan olahraga.
“Kalau akar budaya kita tidak dirawat, maka Bali hanya tinggal nama tanpa jiwa,” katanya. [T]
Reporter/Penulis: Bud
KATA “Literasi” kian populer sejak beberapa tahun terakhir. Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin 'literature' dan bahasa inggris 'lette...
[caption id="attachment_4257" align="alignnone" width="712"] Rembug Sastra membahas Geguritan Bhuwana Winasa di Puri Gede Blayu, Tabanan, Minggu, 24 September 2017[/caption...
Pembukaan : Selasa, 26 September 2017, pukul 19.30 WITA Pameran berlangsung : 27 September – 6 Oktober 2017, pukul 10.00- 18.00 WITA Di Bentara Budaya Bali, Jalan By...
PENTAS Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP) Bali Mandara Nawanatya menampilkan SMA Dwijendra dan SMKN 4 Bangli. Penampilan kedua sekolah itu terutama SMA Dwijendra terkesan wah te...
BALI sedang dirundung sedih. Gunung Agung di Karangasem bergejolak. Ribuan penduduk mengungsi. Media sosial ramai oleh berita Gunung Agung. Juga doa-doa dan solidaritas mas...
Selama toko buku ada, pustaka dapat dibentuk kembali. kalau perlu dan memang perlu, makanan dan pakaian dikurangi. ~Tan Malaka~ Saat kita memasuki kampus, pemandangan yang...
Mahasiswa, Manusia yang bijaksana, katanya. Tunduk kepada IPK hingga tak berdaya Angannya selangit, tetapi gejala apatis merajalela Kemanakah kelak kalian singgah ? - T. R...
Koran Kompas edisi 13 November 2016 memuat tulisan Bre Redana yang menyebut Media digital menciptakan delusi: kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata, bahkan boleh...
EPISODE perdana “Catatan Najwa” yang diunggah ke berbagai lini sosial media sangat menarik. Setelah berakhirnya acara “Mata Najwa” di Metro TV yang fenomenal itu, tayangan...
SENIN, 18 September 2017, di Puri Maskerdam, Karangesem, hadir Ibu Supriya Roy— salah satu peneliti terbesar pemikiran dan arsip-arsip Tagore—dalam rangka peringatan 90 tah...